Tabooo: Life – Di tengah gencarnya slogan “kolaborasi” yang terpampang di brosur HR dan seminar motivasi, fakta di lapangan justru bergerak ke arah lain. Survei terbaru menunjukkan generasi Z di Indonesia semakin nyaman bekerja secara individual. Bukan karena mereka antisosial, tetapi karena banyak “kerja tim” di kantor ternyata hanya berarti satu hal: dua orang bekerja, sepuluh orang rapat.
Generasi Z Menilai Kerja Solo Lebih Efisien
Survei tersebut menegaskan kecenderungan yang cukup jelas. Anak muda merasa tugas individu jauh lebih jelas, terukur, dan bebas drama.
Di era kerja hybrid dan deadline yang makin ketat, mereka tidak punya energi untuk menghadapi:
- rekan kerja yang hanya aktif di grup chat,
- rekan yang menghilang saat proyek krusial,
- atau senior yang “mengawasi dari jauh” tanpa benar-benar menyentuh tugas.
Tidak heran banyak anak muda memilih menyelesaikan pekerjaan sendiri. Tanggung jawabnya lebih pasti, ritmenya lebih stabil, dan ironisnya, hasilnya tetap dicap sebagai “kerja tim” oleh atasan.
Perusahaan Mulai Cemas, Inovasi Terancam Lesu
Di sisi lain, industri mulai membaca tanda bahaya. Jika tren kerja individual ini terus meningkat, perusahaan khawatir kolaborasi—yang menjadi bahan bakar inovasi—akan melemah.
Tanpa kerja sama, ide-ide sering melaju sendiri-sendiri, mirip aplikasi startup yang merilis versi beta tanpa testing tapi tetap meminta rating bintang lima.
Para petinggi perusahaan mengungkap beberapa kekhawatiran:
- kreativitas tim bisa menurun,
- proyek besar berpotensi tersendat,
- dan alur kerja semakin terkotak-kotak.
Kekhawatiran ini masuk akal, terutama jika perusahaan masih menganggap rapat Zoom tiga jam sebagai wujud kolaborasi paling efektif.
Pelatihan Teamwork Mulai Diwajibkan
Sebagai respons, beberapa perusahaan mulai mewajibkan pelatihan teamwork.
Materinya standar: komunikasi efektif, manajemen konflik, hingga permainan estafet bola plastik yang entah mengapa tetap dipandang sebagai cara membangun rasa kebersamaan.
Ironisnya, pelatihan ini sering dipandu oleh pihak internal yang:
- jarang turun ke proyek langsung,
- kerap melempar pekerjaan ke bawahan,
- dan mendefinisikan “teamwork” sebagai semua orang mengikuti arah mereka.
Satirnya: Siapa Sebenarnya yang Membentuk Gen Z?
Banyak pihak terburu-buru menyalahkan Gen Z karena terlalu independen.
Namun jika menelusuri lebih dalam, generasi ini tumbuh dalam realitas di mana:
- senioritas menjadi tameng,
- kerja tim berjalan timpang,
- dan apresiasi justru datang lebih cepat lewat unggahan LinkedIn.
Jadi ketika Gen Z memilih bekerja individual, mungkin bukan mereka yang bermasalah.
Mungkin sistem kerjanya yang tidak pernah diperbarui.
Arah ke Depan: Adaptasi atau Tertinggal?
Mau tidak mau, dunia kerja harus menyesuaikan diri. Generasi baru membawa cara kerja baru.
Jika perusahaan ingin bertahan, mereka perlu berhenti menyalahkan anak muda dan mulai memperbaiki struktur kerja yang sudah lama usang.
Pada akhirnya, satu kesimpulan muncul dengan jelas:
Generasi Z bukan anti-kolaborasi. Mereka hanya alergi pada kolaborasi yang palsu.




