Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gas Tidak Meledak, Tapi Harganya Bikin Rumah Tangga Diam-Diam Panik

by eko
April 19, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter
Harga LPG nonsubsidi kembali naik dan langsung menekan perhatian publik. PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG 12 kg menjadi Rp228 ribu per tabung, naik 18,75 persen dari sebelumnya. Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak 2023, di tengah tekanan harga energi global yang terus bergejolak akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia.

Tabooo.id: News – Harga gas kembali naik, kali ini bukan BBM yang jadi sorotan, melainkan LPG nonsubsidi. PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi 12 kg dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu per tabung. Kenaikan ini setara 18,75 persen dan mulai berlaku per 18 April 2026.

Tidak hanya itu, LPG 5,5 kg juga ikut naik dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu per tabung, atau sekitar 18,89 persen.

Yang menarik, ini adalah kenaikan pertama sejak 2023.

Jakarta hingga Bali Terdampak Lebih Dulu

Harga Rp228 ribu untuk LPG 12 kg berlaku di wilayah dengan konsumsi tinggi seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

Wilayah lain juga mengalami penyesuaian harga, namun disesuaikan dengan biaya distribusi masing-masing daerah. Semakin jauh lokasi dari pusat distribusi, semakin tinggi harga yang harus dibayar.

Ini Belum Selesai

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Artinya, LPG kini tidak hanya soal energi rumah tangga, tetapi juga soal biaya logistik yang ikut menentukan harga akhir di masyarakat.

Kenapa Harga Naik?

Pertamina menyebut penyesuaian harga mengikuti tren pasar global, terutama pergerakan contract price Aramco (CPA) dan kondisi nilai tukar.

Namun faktor yang lebih besar datang dari tekanan ekonomi global yang sedang tidak stabil.

ICP Tembus 102 Dolar per Barel

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyebut kenaikan LPG berkaitan erat dengan naiknya Indonesian Crude Price (ICP) yang kini berada di level 102,26 dolar AS per barel, naik lebih dari 33 dolar dibanding bulan sebelumnya.

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh ketegangan geopolitik yang meningkat sepanjang 2026.

Geopolitik Dunia Picu Efek Domino Energi

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberi dampak langsung terhadap pasar energi global.

Salah satu titik krusial adalah terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Gangguan ini membuat:

  • distribusi energi global melambat
  • pasokan minyak terganggu
  • harga energi internasional meningkat

Efeknya tidak berhenti di pasar global, tetapi langsung merembes ke harga energi domestik.

Dari Konflik Global ke Dapur Rumah Tangga

Kenaikan LPG menunjukkan satu hal sederhana: ketegangan dunia tidak berhenti di meja diplomasi.

Ia turun sampai ke dapur rumah warga.

Tabung gas yang dulu dianggap kebutuhan stabil kini ikut bergerak mengikuti dinamika geopolitik dan pasar minyak dunia.

Dampaknya terasa langsung:

  • biaya rumah tangga meningkat
  • beban UMKM naik
  • harga produksi ikut terdorong

Ekonomi yang Semakin Terhubung

Fenomena ini memperlihatkan betapa eratnya keterhubungan ekonomi Indonesia dengan pasar global.

Ketika minyak dunia naik, LPG ikut naik. Ketika konflik internasional memanas, harga energi domestik ikut terdorong.

Pertanyaan yang muncul kemudian bukan hanya soal kenaikan harga, tetapi soal daya tahan masyarakat menghadapi fluktuasi yang terus berulang.

Gas di tabung mungkin tetap diam, tapi harga di struk belanja terus bergerak tanpa kompromi.

Dampak Kenaikan LPG: Tekanan Langsung ke Dapur dan UMKM

Kenaikan harga LPG nonsubsidi langsung terasa di level rumah tangga. Dengan harga 12 kg mencapai Rp228 ribu, banyak keluarga harus menyesuaikan pengeluaran harian, terutama untuk kebutuhan memasak yang tidak bisa dihindari.

Dampak paling cepat terlihat pada pelaku usaha kecil seperti warung makan, pedagang gorengan, dan usaha katering. LPG menjadi biaya operasional utama, sehingga kenaikan harga langsung menekan margin keuntungan. Sebagian terpaksa menaikkan harga jual, sementara lainnya memilih mengurangi porsi atau menyerap biaya tambahan agar pelanggan tetap bertahan.

Efek lanjutan mulai muncul pada harga makanan di tingkat konsumen. Ketika biaya produksi naik, harga jual ikut terdorong, yang berpotensi memberi tekanan tambahan pada daya beli masyarakat.

Bagi sektor informal, situasinya lebih berat. Tanpa subsidi atau kontrak harga, mereka sepenuhnya bergantung pada harga pasar yang fluktuatif. Kondisi ini membuat usaha kecil lebih rentan terhadap tekanan biaya energi.

Pada akhirnya, kenaikan LPG tidak hanya soal energi, tetapi juga soal bagaimana tekanan ekonomi global perlahan masuk dan memengaruhi aktivitas paling dasar: memasak dan bertahan hidup sehari-hari.@eko

Tags: ekonomi indonesiaEnergi IndonesiaInflasiLPGminyak duniaPertaminaSelat Hormuz

Kamu Melewatkan Ini

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

by teguh
Oktober 19, 2026

BBM tersendat Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember kembali mengganggu mobilitas masyarakat. Di...

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

by teguh
Oktober 19, 2026

Antrean BBM belum normal, aktivitas masyarakat ikut terganggu. Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, kembali menerapkan kebijakan untuk ASN Jember WFH...

Pertalite Langka, Antrean SPBU Mengular di Bali dan Malang

Pertalite Langka, Antrean SPBU Mengular di Bali dan Malang

by dimas
Oktober 15, 2026

Kelangkaan Pertalite di Bali dan Malang memicu antrean panjang di SPBU. Pertamina menyebut keterlambatan bongkar muat kapal dan lonjakan permintaan...

Next Post
Urutan Lahir Bukan Takdir, Tapi Kenapa Kita Terus Percaya?

Urutan Lahir Bukan Takdir, Tapi Kenapa Kita Terus Percaya?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id