Sabtu, September 26, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

G30S: Ketika Satu Malam Mengubah Arah Sejarah Indonesia

by jeje
September 22, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Enam jenderal dan satu perwira tewas dalam rangkaian penculikan. Setelahnya, Indonesia memasuki periode kekerasan politik yang meninggalkan luka panjang. Gerakan 30 September 1965 atau G30S menjadi salah satu titik penting dalam sejarah politik Indonesia.

Tabooo.id – Pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, sejumlah pasukan menculik beberapa perwira Angkatan Darat. Enam jenderal dan satu perwira kemudian tewas dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Pasukan kemudian membawa jenazah para korban ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Peristiwa itu segera mengguncang situasi politik dan keamanan nasional.

G30S dan Perebutan Kendali di Jakarta

Letnan Kolonel Untung memimpin gerakan tersebut. Kelompok itu menyatakan tindakannya berkaitan dengan upaya menghadapi kelompok jenderal yang mereka sebut hendak melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno.

Namun, gerakan itu gagal mempertahankan kendali atas Jakarta.

Ini Belum Selesai

Ketika Produk Taktikal Indonesia Mengetuk Pintu Yordania

57,6 Persen Publik Tak Kenal Wakilnya: Demokrasi Usai di Kotak Suara

Setelah situasi berubah, pimpinan militer mengambil alih pengendalian keamanan. Peristiwa tersebut kemudian membuka jalan bagi perubahan besar dalam konfigurasi politik Indonesia.

Nama G30S juga kemudian sangat lekat dengan Partai Komunis Indonesia atau PKI.

Komnas HAM mencatat tudingan yang menyebut PKI sebagai pihak yang mendalangi penculikan dan pembunuhan para jenderal. Namun, hubungan G30S dengan PKI, Soekarno, dan unsur militer masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti sejarah.

Setelah G30S, Kekerasan Meluas

Masalahnya, cerita 1965 tidak berhenti pada pembunuhan para perwira.

Komnas HAM mencatat berbagai bentuk kekerasan terjadi pada periode 1965-1966. Kekerasan tersebut mencakup pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pemindahan paksa, penyiksaan, kekerasan seksual, penganiayaan, hingga penghilangan orang secara paksa.

Komnas HAM juga menyatakan penyelidikan pro-yustisia menemukan unsur kejahatan terhadap kemanusiaan dalam peristiwa 1965-1966.

Lembaga tersebut menemukan pola kekerasan yang berlangsung secara luas dan sistematis.

Artinya, pembahasan G30S tidak cukup berhenti pada satu malam di Jakarta.

Rangkaian peristiwa setelahnya menyeret masyarakat ke dalam konflik politik dan kekerasan selama berbulan-bulan.

Luka yang Tidak Berhenti di 1965

Dampak peristiwa tersebut juga tidak hilang ketika situasi politik mulai berubah.

Komnas HAM mencatat korban dan keluarga korban masih mengalami penderitaan lintas generasi. Mereka juga menghadapi diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan pada masa berikutnya.

Komnas HAM hingga kini masih memasukkan peristiwa 1965-1966 sebagai salah satu kasus pelanggaran HAM berat yang belum mencapai penyelesaian yudisial.

Karena itu, G30S bukan sekadar cerita tentang siapa menculik siapa.

Peristiwa tersebut menjadi pintu masuk menuju perubahan kekuasaan, kekerasan massal, stigma politik, dan persoalan HAM yang dampaknya bertahan hingga generasi berikutnya.

Sejarahnya sudah lebih dari enam dekade.

Namun, pertanyaannya belum benar-benar selesai: ketika sebuah bangsa belum selesai dengan masa lalunya, siapa yang menanggung akibatnya? @jeje

Tags: G30SPKIPergerakan Komunis Indonesiasejarah kelam Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Soe Hok Gie: Sehari Sebelum Ulang Tahun ke-27, Semeru Menjadi Perhentian Terakhirnya

Soe Hok Gie: Sehari Sebelum Ulang Tahun ke-27, Semeru Menjadi Perhentian Terakhirnya

by jeje
September 22, 2026

Aktivis Angkatan 66 itu meninggal di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969, sehari sebelum ulang tahunnya. Ia pergi bersama sahabatnya,...

Widji Thukul: Penyair atau Ancaman Negara?

Widji Thukul: Penyair atau Ancaman Negara?

by Tabooo
April 10, 2026

Tabooo.id: Figures – Mungkin kamu tidak cukup familiar dengan nama "Widji Thukul". Tapi, kamu mungkin hafal kalimat “Hanya ada satu kata: lawan”....

Dr. Moewardi: Dokter Rakyat yang Hilang Tanpa Jejak

Dr. Moewardi: Dokter Rakyat yang Hilang Tanpa Jejak

by Tabooo
April 6, 2026

Tabooo.id: Deep – Dr. Moewardi bukan korban perang biasa. Ia adalah simbol ironi paling telanjang dalam sejarah Indonesia. Seorang dokter yang...

Next Post
Film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah

Film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id