Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dosen di Makassar: Antre, Tersinggung, dan Reputasi Hancur

by dimas
Desember 28, 2025
in Deep
A A
Home Deep

Tabooo.id: Deep – “Ini sudah rusak nama saya,” kata Amal Said dengan nada campur aduk antara frustasi dan penyesalan. Usianya 55 tahun, rambut mulai memutih, wajahnya menua oleh pengalaman. Namun satu tindakan impulsif hampir meruntuhkan reputasi yang dibangun selama 33 tahun sebagai dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM).

Video yang menunjukkan Amal meludahi seorang kasir wanita berinisial N (21) di sebuah swalayan di Makassar mendadak viral. Sekejap, ia menjadi sorotan publik bukan karena prestasi mengajar ribuan mahasiswa, tetapi karena satu momen emosional yang terekam kamera ponsel.

“Rasanya tidak sebanding, satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya mengajar, masa sedetik itu merusak segalanya.” ujarnya, menekankan bagaimana satu detik spontan itu mampu meniadakan perjalanan panjang karirnya.

Awal yang Biasa, Berakhir Tidak Biasa

Kejadian terjadi pada Rabu, 24 Desember 2025. Amal singgah membeli cemilan, seperti rutinitas biasanya. Ia mengantre di kasir, kemudian melihat kasir kosong di dekatnya. Agar antrean tidak mengular, ia memutuskan pindah ke kasir yang kosong itu.

Tindakan itu memicu ketegangan. Kasir menegur Amal dengan cara yang menurutnya tidak menghargai posisinya sebagai orang tua. Amarahnya meledak, dan tanpa berpikir panjang, ia meludahi kasir tersebut.

Ini Belum Selesai

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggeledahan Ponpes, Ini Kronologi Lengkapnya

Kenduri Dawet: Etika Masyarakat Jatinom dalam Merawat Alam

“Setelah ditegur, saya merasa dilecehkan, dihina. Saya orang tua, masa diperlakukan begitu?,” jelas Amal, sambil menekankan budaya Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi rasa hormat kepada yang lebih tua.

Di Balik Emosi: Kehilangan dan Kerusakan

Amal tidak hanya kehilangan kontrol emosionalnya, tetapi juga menyaksikan citranya hancur di mata publik. Nama baiknya tercoreng. Karir sebagai dosen terancam. Ia merasakan beban sosial yang mendalam, seolah satu tindakan kecil telah membalik seluruh hidupnya.

“Kalau bisa, saya berharap masalah ini selesai secara kekeluargaan. Saya bersedia menanggung dosa sendiri, tapi semoga orang lain juga mengakui khilafnya,” tambahnya.

Kasus ini menyoroti ketegangan antara sistem hukum formal dan ekspektasi sosial yang personal. Amal menginginkan penyelesaian damai, tetapi kasus sudah berada di jalur kepolisian.

Sistem Hukum dan Tekanan Publik

Kasus Amal menunjukkan bagaimana hukum dan norma sosial saling bertabrakan. Polisi memeriksa beberapa saksi dan mengumpulkan fakta untuk menentukan langkah hukum berikutnya. Sementara itu, publik menilai Amal hanya dari perspektif video viral, tanpa memahami konteks lengkap di balik emosi sesaat itu.

Pertanyaannya muncul: seberapa cepat hukum mampu melindungi reputasi seseorang, ketika masyarakat modern menilai melalui viralitas digital sebelum sistem hukum bekerja?

Refleksi: Ketika Viral Menggerus Manusia

Tabooo melihat kasus ini lebih dari sekadar insiden seorang dosen meludahi kasir. Kasus ini menjadi simbol bagaimana masyarakat digital memproses kemarahan, kesalahan, dan hukuman. Dalam sekejap, citra seseorang bisa terbalik. Karir, reputasi, dan rasa aman sosial terguncang karena satu detik.

Kasus ini juga menyoroti ketimpangan antara impuls manusia dan ekspektasi publik. Amal tersinggung dan bertindak spontan. Publik, dengan akses cepat terhadap video viral, segera menilai dan menghukum. Dalam sekejap, manusia menjadi medan pertarungan moral publik.

Pertanyaan yang Tertinggal

Kini, kasus Amal Said masih diselidiki polisi. Nama baiknya perlahan dicatat, tetapi pertanyaan lebih besar tetap menggantung:

  1. Bagaimana masyarakat dan sistem hukum menyeimbangkan antara hak korban dan perlindungan bagi pelaku yang menyesal?
  2. Berapa banyak reputasi yang hancur karena impuls sesaat, sebelum kesempatan memperbaiki kesalahan diberikan?
  3. Apakah digitalisasi emosi publik membuat manusia kehilangan ruang untuk refleksi dan rekonsiliasi?

Kasus ini mengingatkan kita di dunia serba cepat dan terdokumentasi, satu detik bisa menimpa ribuan hari hidup. Satu detik itu jarang cukup untuk menimbang sejarah panjang yang dibangun manusia. @dimas

Tags: EmosiKonflik DuniaMakassarSosial

Kamu Melewatkan Ini

Dari Room Karaoke ke Laporan Polisi: Ketika Video Viral Menjadi Senjata

Dari Room Karaoke ke Laporan Polisi: Ketika Video Viral Menjadi Senjata

by teguh
September 22, 2026

Dalam hitungan menit, sebuah video viral dapat mengubah reputasi seseorang. Nama yang sebelumnya hanya dikenal dalam lingkaran tertentu mendadak muncul...

Kasus MS Melebar: Room Karaoke Jadi Viral, Uang Jadi Persoalan

Kasus MS Melebar: Room Karaoke Jadi Viral, Uang Jadi Persoalan

by teguh
September 21, 2026

Video dari sebuah room karaoke menyeret nama MS, pengurus PWNU Sulawesi Selatan, ke ruang publik. Sejumlah media kemudian mengangkat aktivitas...

Senioritas Jadi Kekerasan: Ada Apa dengan Pengaderan Kampus?

Senioritas Jadi Kekerasan: Ada Apa dengan Pengaderan Kampus?

by teguh
September 9, 2026

Universitas Hasanuddin (Unhas) membekukan sementara kegiatan pengaderan kampus di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) setelah dugaan perpeloncoan dan...

Next Post
Rumah Nenek Elina Dirusak, Ormas Madas Buka Suara

Rumah Nenek Elina Dirusak, Ormas Madas Buka Suara

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id