Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dosen di Makassar: Antre, Tersinggung, dan Reputasi Hancur

by dimas
Desember 28, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – “Ini sudah rusak nama saya,” kata Amal Said dengan nada campur aduk antara frustasi dan penyesalan. Usianya 55 tahun, rambut mulai memutih, wajahnya menua oleh pengalaman. Namun satu tindakan impulsif hampir meruntuhkan reputasi yang dibangun selama 33 tahun sebagai dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM).

Video yang menunjukkan Amal meludahi seorang kasir wanita berinisial N (21) di sebuah swalayan di Makassar mendadak viral. Sekejap, ia menjadi sorotan publik bukan karena prestasi mengajar ribuan mahasiswa, tetapi karena satu momen emosional yang terekam kamera ponsel.

“Rasanya tidak sebanding, satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya mengajar, masa sedetik itu merusak segalanya.” ujarnya, menekankan bagaimana satu detik spontan itu mampu meniadakan perjalanan panjang karirnya.

Awal yang Biasa, Berakhir Tidak Biasa

Kejadian terjadi pada Rabu, 24 Desember 2025. Amal singgah membeli cemilan, seperti rutinitas biasanya. Ia mengantre di kasir, kemudian melihat kasir kosong di dekatnya. Agar antrean tidak mengular, ia memutuskan pindah ke kasir yang kosong itu.

Tindakan itu memicu ketegangan. Kasir menegur Amal dengan cara yang menurutnya tidak menghargai posisinya sebagai orang tua. Amarahnya meledak, dan tanpa berpikir panjang, ia meludahi kasir tersebut.

Ini Belum Selesai

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

“Setelah ditegur, saya merasa dilecehkan, dihina. Saya orang tua, masa diperlakukan begitu?,” jelas Amal, sambil menekankan budaya Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi rasa hormat kepada yang lebih tua.

Di Balik Emosi: Kehilangan dan Kerusakan

Amal tidak hanya kehilangan kontrol emosionalnya, tetapi juga menyaksikan citranya hancur di mata publik. Nama baiknya tercoreng. Karir sebagai dosen terancam. Ia merasakan beban sosial yang mendalam, seolah satu tindakan kecil telah membalik seluruh hidupnya.

“Kalau bisa, saya berharap masalah ini selesai secara kekeluargaan. Saya bersedia menanggung dosa sendiri, tapi semoga orang lain juga mengakui khilafnya,” tambahnya.

Kasus ini menyoroti ketegangan antara sistem hukum formal dan ekspektasi sosial yang personal. Amal menginginkan penyelesaian damai, tetapi kasus sudah berada di jalur kepolisian.

Sistem Hukum dan Tekanan Publik

Kasus Amal menunjukkan bagaimana hukum dan norma sosial saling bertabrakan. Polisi memeriksa beberapa saksi dan mengumpulkan fakta untuk menentukan langkah hukum berikutnya. Sementara itu, publik menilai Amal hanya dari perspektif video viral, tanpa memahami konteks lengkap di balik emosi sesaat itu.

Pertanyaannya muncul: seberapa cepat hukum mampu melindungi reputasi seseorang, ketika masyarakat modern menilai melalui viralitas digital sebelum sistem hukum bekerja?

Refleksi: Ketika Viral Menggerus Manusia

Tabooo melihat kasus ini lebih dari sekadar insiden seorang dosen meludahi kasir. Kasus ini menjadi simbol bagaimana masyarakat digital memproses kemarahan, kesalahan, dan hukuman. Dalam sekejap, citra seseorang bisa terbalik. Karir, reputasi, dan rasa aman sosial terguncang karena satu detik.

Kasus ini juga menyoroti ketimpangan antara impuls manusia dan ekspektasi publik. Amal tersinggung dan bertindak spontan. Publik, dengan akses cepat terhadap video viral, segera menilai dan menghukum. Dalam sekejap, manusia menjadi medan pertarungan moral publik.

Pertanyaan yang Tertinggal

Kini, kasus Amal Said masih diselidiki polisi. Nama baiknya perlahan dicatat, tetapi pertanyaan lebih besar tetap menggantung:

  1. Bagaimana masyarakat dan sistem hukum menyeimbangkan antara hak korban dan perlindungan bagi pelaku yang menyesal?
  2. Berapa banyak reputasi yang hancur karena impuls sesaat, sebelum kesempatan memperbaiki kesalahan diberikan?
  3. Apakah digitalisasi emosi publik membuat manusia kehilangan ruang untuk refleksi dan rekonsiliasi?

Kasus ini mengingatkan kita di dunia serba cepat dan terdokumentasi, satu detik bisa menimpa ribuan hari hidup. Satu detik itu jarang cukup untuk menimbang sejarah panjang yang dibangun manusia. @dimas

Tags: EmosiKonflik DuniaMakassarSosial

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

by teguh
Juni 2, 2026

Lampu minimarket yang biasanya menyala hampir tanpa jeda mendadak padam saat libur nasional 31 Mei hingga 1 Juni 2026 karena...

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Next Post
Rumah Nenek Elina Dirusak, Ormas Madas Buka Suara

Rumah Nenek Elina Dirusak, Ormas Madas Buka Suara

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id