• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Kamis, Maret 26, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Doomscrolling Bikin Cemas dan Sulit Konsentrasi?

Februari 28, 2026
in Talk
A A
Doomscrolling Bikin Cemas dan Sulit Konsentrasi?

Ilustrasi pemuda terjebak doomscrolling di tengah banjir berita negatif yang menggerus fokus dan kesehatan mental generasi digital. (Foto ilustrasi Tabooo.id/Dimas P)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Katanya Generasi Z adalah generasi paling cerdas sepanjang sejarah. Mereka lahir saat internet sudah stabil, tumbuh bersama smartphone, dan memasuki masa remaja ditemani kecerdasan buatan. Multitasking? Jago. Edit video? Sat-set. Cari informasi? Tinggal ketik.

Namun ada kabar yang membuat kita perlu berhenti sejenak.

RelatedPosts

Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

Tahanan Rumah untuk Pejabat, Ujian Konsistensi Penegakan Hukum

Sejumlah studi terbaru menunjukkan tren yang tidak nyaman. Generasi Z mereka yang lahir pada akhir 1990-an hingga awal 2010-an berpotensi menjadi generasi pertama yang mencatat skor lebih rendah dalam ukuran kognitif inti dibanding orang tua mereka dari generasi Milenial. Penurunan itu menyentuh perhatian, memori, kemampuan memecahkan masalah, bahkan IQ secara keseluruhan.

Ini bukan sekadar opini warung kopi. Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Senat Amerika Serikat pada 2026, ahli saraf dan pendidik Jared Cooney Horvath menegaskan bahwa selama dua dekade terakhir literasi, numerasi, perhatian, dan penalaran tingkat tinggi di banyak negara maju tidak menunjukkan kemajuan berarti bahkan cenderung menurun.

Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar makin pintar, atau hanya makin cepat menemukan jawaban?

Layar Menggerus Kedalaman

Mari jujur pada diri sendiri. Kapan terakhir kali kamu membaca buku tebal tanpa mengecek notifikasi? Kapan terakhir kali kamu menuntaskan artikel panjang tanpa berpindah aplikasi?

Data di Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan minat membaca untuk kesenangan berada di titik terendah dalam beberapa dekade. Hanya sekitar sepertiga anak usia 8-18 tahun yang menikmati membaca di waktu luang, dan lebih sedikit lagi yang melakukannya setiap hari.

Peneliti juga mencatat kebiasaan membaca harian di AS turun lebih dari 40 persen dalam dua dekade terakhir. Dampaknya langsung terasa. Riset Stanford menemukan banyak siswa sekolah dasar belum mencapai tingkat kelancaran membaca yang diharapkan, terutama di wilayah berpenghasilan rendah.

Kelancaran membaca membentuk fondasi semua pelajaran. Ketika anak kesulitan memahami teks, mereka juga kesulitan mencerna matematika, sains, dan ilmu sosial. Jika fondasi rapuh, bangunan pengetahuan ikut goyah.

Sementara itu, layar menawarkan sensasi instan. Video pendek, headline cepat, konten 30 detik. Kita terus menggulir. Otak jarang berlatih duduk tenang dan mengunyah satu gagasan sampai tuntas.

Doomscrolling dan Pola Pikir Reaktif

Kebiasaan doomscrolling memperparah situasi. Banyak orang menggulir berita negatif tanpa henti hingga larut malam. Kita berkata “sebentar lagi”, tetapi satu jam menghilang begitu saja.

Kebiasaan ini tidak hanya memengaruhi suasana hati. Ia membentuk pola berpikir. Otak terbiasa memindai cepat, bereaksi spontan, dan melewati refleksi mendalam.

Sekolah masih menuntut konsentrasi panjang dan argumen kompleks. Namun ekonomi digital justru memberi hadiah pada distraksi. Algoritma mendorong kita untuk terus kembali, bukan untuk berhenti dan berpikir.

Kita menyebut semua itu kemajuan. Tapi apakah benar begitu?

Jangan Terburu-buru Menyalahkan

Sebelum kita menunjuk Gen Z sebagai biang masalah, mari ajukan pertanyaan yang lebih adil: siapa yang merancang ekosistem ini?

Gen Z tidak menciptakan algoritma adiktif. Mereka juga tidak menetapkan kebijakan pendidikan digital tanpa perencanaan matang. Generasi sebelumnya mengambil banyak keputusan strategis tentang teknologi dan pendidikan.

Kita juga harus mengakui satu hal: kecerdasan hari ini tampil dalam bentuk berbeda. Generasi muda menunjukkan kelincahan digital, kreativitas lintas platform, dan kemampuan adaptasi tinggi. Mereka belajar coding dari video daring, membangun bisnis lewat media sosial, dan berjejaring lintas negara dalam hitungan detik.

Masalahnya bukan pada generasinya. Masalahnya terletak pada keseimbangan. Ketika mesin selalu menyediakan jawaban instan, manusia harus tetap melatih proses berpikirnya.

Jika semua soal kamu serahkan pada mesin, kapan otakmu bekerja?

Pendidikan Harus Bergerak

Para pakar menekankan bahwa kecerdasan tumbuh melalui latihan. Seseorang mengasah daya pikirnya lewat pemecahan masalah, diskusi, dan pembacaan mendalam bukan sekadar konsumsi cepat.

Karena itu, kita perlu mendesain ulang sistem belajar. Sekolah harus mengajarkan cara membaca secara kritis, bukan hanya mengejar penyelesaian materi. Literasi digital perlu berjalan berdampingan dengan literasi mendalam.

Kita juga perlu membangun disiplin penggunaan layar. Teknologi harus mendukung proses berpikir, bukan menggantikannya.

Ini bukan alarm untuk panik. Ini ajakan untuk bertindak dengan sadar.

Semua Terlibat, Semua Bertanggung Jawab

Isu ini tidak berhenti pada Gen Z. Kita semua hidup dalam arus yang sama. Kita semua tergoda untuk mencari jawaban tercepat.

Pada akhirnya, ini bukan soal siapa lebih pintar. Ini soal siapa yang masih mau melatih pikirannya.

Di tengah banjir informasi, apakah kamu masih menyediakan waktu untuk membaca pelan dan merenung? Atau kamu merasa cukup dengan ringkasan 30 detik?

Kita mungkin menjadi generasi yang paling cepat tahu. Tetapi apakah kita juga menjadi generasi yang paling dalam memahami?

Sekarang pertanyaannya kembali ke kamu.

Lalu, kamu di kubu mana? @dimas

Tags: AIBudayaDigitalDoomscrollingGen ZGenerasiIQKesehatanLiterasiMembacamentalOtakPendidikanTeknologi
Next Post
Dari Teheran ke Abu Dhabi: Eskalasi yang Melebar

Dari Teheran ke Abu Dhabi: Eskalasi yang Melebar

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Pakoe Boewono XIV: Raja Gen Z yang Menyelamatkan Ingatan Kraton

    Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengamen Jalanan: Korban Sistem atau Pilihan yang Dipelihara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Balik Kelancaran Mudik Lebaran, Nyawa Petugas Jadi Taruhan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Joget Rp6 Juta Sehari: Program Sosial atau Ladang Cuan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.