Tiga agama bersatu dalam doa bersama pada Bersih Desa Winongo untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan perdamaian bagi masyarakat.
Tabooo.id: Madiun – Malam itu, tidak ada perdebatan tentang perbedaan. Yang terdengar justru lantunan doa dari tiga ruang dengan satu tujuan yang sama. Warga Winongo memilih memulai Bersih Desa 2026 dengan merawat persaudaraan sebelum merayakan tradisi.
Kelurahan Winongo menggelar doa bersama lintas agama dalam rangka Bersih Desa Kelurahan Winongo 2026, Kamis (9/7/2026). Umat Islam, Kristen, dan Katolik memanjatkan doa secara bersamaan untuk memohon keselamatan, kemakmuran, serta kedamaian bagi Winongo dan Indonesia.
Malam itu, perbedaan keyakinan tidak menjadi sekat. Justru, keberagaman menjadi kekuatan yang mempertemukan seluruh warga dalam satu harapan.
Satu Pembukaan, Tiga Ruang, Satu Tujuan
Panitia membuka kegiatan di Aula Kelurahan Winongo. Setelah pembukaan selesai, peserta menuju ruang ibadah sesuai agama masing-masing.
Umat Islam melaksanakan doa di aula utama. Umat Katolik berkumpul di ruang PKK. Sementara itu, umat Kristen berdoa di ruang tengah.
Setiap kelompok menjalankan tata cara ibadah sesuai keyakinannya. Namun, seluruh doa mengarah pada tujuan yang sama. Mereka memohon keberkahan, keselamatan, kesejahteraan, dan perdamaian untuk masyarakat Winongo serta bangsa Indonesia.
Pembagian ruang bukan bentuk pemisahan. Panitia justru menghormati setiap tata cara ibadah agar seluruh umat dapat berdoa dengan khusyuk.
Bersih Desa Dimulai dari Kebersihan Hati
Ketua LPMK Winongo, Prasetyo Kurniawan, mengatakan doa bersama selalu menjadi bagian penting dalam rangkaian Bersih Desa. Menurutnya, masyarakat ingin mengawali seluruh kegiatan dengan memohon restu kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Malam ini kita melaksanakan doa bersama dalam rangka Bersih Desa Kelurahan Winongo. Kami bersama-sama memohon agar Kelurahan Winongo selalu diberikan barokah, keselamatan, kedamaian, serta kehidupan masyarakat yang semakin sejahtera. Kami juga memohon agar Indonesia senantiasa diberikan kemakmuran, persatuan, dan perdamaian,” ujar Prasetyo.
Ia menegaskan bahwa Bersih Desa bukan sekadar agenda budaya tahunan. Tradisi ini juga menjadi ruang memperkuat kebersamaan antarwarga tanpa memandang agama maupun latar belakang.
Harmoni Menjadi Modal Sosial
Doa lintas agama menghadirkan pesan yang sederhana, tetapi sangat bermakna. Pembangunan sebuah kampung tidak hanya bergantung pada jalan, gedung, atau program pemerintah. Keharmonisan sosial juga menentukan masa depan sebuah daerah.
Winongo menunjukkan bahwa toleransi tidak berhenti pada slogan. Warga menghadirkannya dalam tindakan nyata melalui penghormatan terhadap setiap keyakinan.
Di tengah berbagai kabar tentang konflik identitas, malam itu Winongo justru memperlihatkan wajah Indonesia yang berbeda. Semua orang berdoa dengan cara masing-masing, tetapi menyimpan harapan yang sama.
Tradisi yang Merawat Persatuan
Bersih Desa Winongo 2026 menghadirkan berbagai kegiatan budaya, literasi, hingga pemberdayaan masyarakat. Doa bersama tiga agama menjadi salah satu agenda yang memberi makna lebih dalam bagi seluruh rangkaian tersebut.
Tradisi ini tidak hanya menjaga warisan leluhur. Tradisi ini juga merawat nilai gotong royong, toleransi, dan persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Malam itu, Winongo mengajarkan satu hal sederhana. Perbedaan tidak selalu melahirkan jarak. Ketika masyarakat memilih saling menghormati, perbedaan justru berubah menjadi kekuatan.
Karena pada akhirnya, doa boleh terucap dalam cara yang berbeda. Namun harapan seluruh warga tetap sama: Winongo yang damai, masyarakat yang sejahtera, dan Indonesia yang terus hidup dalam persatuan. @dimas







