Di sudut Kelurahan Winongo, Kota Madiun, selembar kain putih perlahan berubah menjadi karya bernilai budaya. Dari tangan-tangan yang tak lelah mencanting, Batik Winongo tumbuh bukan hanya sebagai produk UMKM, tetapi juga sebagai identitas daerah yang terus bertahan di tengah derasnya arus industri modern.
Tabooo.id: Madiun – Di sebuah rumah sederhana di Jalan Sabdopalon, Kelurahan Winongo, Kota Madiun, tangan Djoko Slameto tak pernah berhenti menari di atas selembar kain putih. Selama 29 tahun, ia menjaga warisan budaya melalui setiap goresan canting yang lahir dari kesabaran dan ketelatenan.
Di tengah anggapan bahwa membatik identik dengan perempuan, Djoko memilih jalan berbeda. Hingga kini, ia menjadi satu-satunya perajin batik pria di Kota Madiun yang tetap bertahan dan berkarya.
“Mencanting atau membatik tidak hanya dilakukan perempuan. Tapi siapa pun bisa jika memiliki tekad dan kemauan yang kuat,” ujar Djoko.
Berawal dari Kecintaan pada Seni
Ketertarikannya pada batik tumbuh dari lingkungan keluarga di Bali dan Solo yang mencintai seni lukis. Kecintaan terhadap corak dan warna mendorongnya menekuni dunia batik sejak 1990. Sejak saat itu, ia membangun usaha batiknya secara perlahan di Kota Madiun hingga dikenal luas oleh masyarakat.
Mimpi Membangun Kampung Batik
Namun, perjalanan panjang itu tidak selalu berjalan mulus. Djoko pernah bercita-cita menghadirkan kampung batik agar Madiun memiliki sentra batik yang mampu menjadi identitas daerah. Sayangnya, keterbatasan modal masih menghambat impian tersebut.
Menurut Djoko, membangun industri batik tidak cukup mengandalkan keterampilan. Para pembatik juga harus membangun kekompakan agar dapat berkembang bersama.
“Batik itu nggak sekaligus bisa berkembang. Butuh proses. Yang paling utama harus akur dulu antarpembatik. Kalau bisa akur nanti akan berkembang,” katanya.
Bertahan di Tengah Persaingan
Selama ini, Djoko menerima pesanan dari masyarakat, perusahaan swasta, hingga sejumlah instansi di lingkungan Pemerintah Kota Madiun. Pelanggan paling banyak memesan batik tulis karena teknik canting menghasilkan nilai seni yang tinggi. Meski begitu, proses pembuatannya membutuhkan waktu lebih lama, ketelitian, dan kesabaran yang tidak sedikit.
Bagi Djoko, tantangan terbesar bukan hanya membuat batik. Ia juga harus memasarkan hasil karyanya agar mampu bersaing dengan produk tekstil modern yang diproduksi secara massal.
Melukis Motif Tanpa Pola
Keunikan karya Djoko terlihat dari proses kreatifnya. Ia tidak menggambar pola terlebih dahulu seperti kebanyakan pembatik. Sebaliknya, ia langsung menuangkan ide ke atas kain putih layaknya seorang pelukis yang menggoreskan kuas di atas kanvas. Cara itu membuat setiap lembar batik memiliki karakter yang berbeda dan tidak pernah benar-benar sama.
Motif pecel menjadi identitas khas yang paling sering ia angkat. Djoko mengolah unsur kacang panjang, kacang tanah, kangkung, cabai, dan berbagai sayuran menjadi corak batik yang merepresentasikan kuliner khas Madiun. Selain itu, ia juga menciptakan motif Madiun Karismatik dan Kota Sejuta Bunga sebagai bentuk kecintaannya terhadap daerah.
Harapan untuk Generasi Penerus
Menjelang Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober, Djoko berharap pemerintah terus membuka ruang bagi para pembatik lokal untuk berkembang. Ia juga mengajak generasi muda agar tidak hanya bangga mengenakan batik, tetapi ikut menjaga keberlangsungan budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
“Batik sudah diakui dunia sebagai warisan budaya. Pesan saya, generasi muda juga harus mencintai batik dan ikut melestarikannya,” tutup Djoko.
Yang Bertahan Adalah yang Menjaga
Di balik setiap helai batik, ada ribuan titik malam yang lahir dari kesabaran. Tidak ada jalan pintas untuk menghasilkan sebuah karya yang bernilai. Semua membutuhkan waktu, ketelatenan, dan keteguhan hati.
Djoko Slameto membuktikan bahwa melestarikan budaya bukan soal siapa yang mengerjakannya, melainkan siapa yang tetap bertahan ketika banyak orang mulai meninggalkannya.
Sebab yang membuat batik tetap hidup bukan jenis kelamin pembatiknya, melainkan keberanian seseorang untuk terus menjaga warisan ketika dunia lebih sibuk mengejar sesuatu yang instan.@eko







