Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Batik Khas Winongo, Ketika Tradisi Menjadi Identitas Kota

by eko
Juli 11, 2026
in Reality
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Di sudut Kelurahan Winongo, Kota Madiun, selembar kain putih perlahan berubah menjadi karya bernilai budaya. Dari tangan-tangan yang tak lelah mencanting, Batik Winongo tumbuh bukan hanya sebagai produk UMKM, tetapi juga sebagai identitas daerah yang terus bertahan di tengah derasnya arus industri modern.

Tabooo.id: Madiun – Di sebuah rumah sederhana di Jalan Sabdopalon, Kelurahan Winongo, Kota Madiun, tangan Djoko Slameto tak pernah berhenti menari di atas selembar kain putih. Selama 29 tahun, ia menjaga warisan budaya melalui setiap goresan canting yang lahir dari kesabaran dan ketelatenan.

Di tengah anggapan bahwa membatik identik dengan perempuan, Djoko memilih jalan berbeda. Hingga kini, ia menjadi satu-satunya perajin batik pria di Kota Madiun yang tetap bertahan dan berkarya.

“Mencanting atau membatik tidak hanya dilakukan perempuan. Tapi siapa pun bisa jika memiliki tekad dan kemauan yang kuat,” ujar Djoko.

Berawal dari Kecintaan pada Seni

Ketertarikannya pada batik tumbuh dari lingkungan keluarga di Bali dan Solo yang mencintai seni lukis. Kecintaan terhadap corak dan warna mendorongnya menekuni dunia batik sejak 1990. Sejak saat itu, ia membangun usaha batiknya secara perlahan di Kota Madiun hingga dikenal luas oleh masyarakat.

Mimpi Membangun Kampung Batik

Namun, perjalanan panjang itu tidak selalu berjalan mulus. Djoko pernah bercita-cita menghadirkan kampung batik agar Madiun memiliki sentra batik yang mampu menjadi identitas daerah. Sayangnya, keterbatasan modal masih menghambat impian tersebut.

Menurut Djoko, membangun industri batik tidak cukup mengandalkan keterampilan. Para pembatik juga harus membangun kekompakan agar dapat berkembang bersama.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

“Batik itu nggak sekaligus bisa berkembang. Butuh proses. Yang paling utama harus akur dulu antarpembatik. Kalau bisa akur nanti akan berkembang,” katanya.

Bertahan di Tengah Persaingan

Selama ini, Djoko menerima pesanan dari masyarakat, perusahaan swasta, hingga sejumlah instansi di lingkungan Pemerintah Kota Madiun. Pelanggan paling banyak memesan batik tulis karena teknik canting menghasilkan nilai seni yang tinggi. Meski begitu, proses pembuatannya membutuhkan waktu lebih lama, ketelitian, dan kesabaran yang tidak sedikit.

Bagi Djoko, tantangan terbesar bukan hanya membuat batik. Ia juga harus memasarkan hasil karyanya agar mampu bersaing dengan produk tekstil modern yang diproduksi secara massal.

Melukis Motif Tanpa Pola

Keunikan karya Djoko terlihat dari proses kreatifnya. Ia tidak menggambar pola terlebih dahulu seperti kebanyakan pembatik. Sebaliknya, ia langsung menuangkan ide ke atas kain putih layaknya seorang pelukis yang menggoreskan kuas di atas kanvas. Cara itu membuat setiap lembar batik memiliki karakter yang berbeda dan tidak pernah benar-benar sama.

Motif pecel menjadi identitas khas yang paling sering ia angkat. Djoko mengolah unsur kacang panjang, kacang tanah, kangkung, cabai, dan berbagai sayuran menjadi corak batik yang merepresentasikan kuliner khas Madiun. Selain itu, ia juga menciptakan motif Madiun Karismatik dan Kota Sejuta Bunga sebagai bentuk kecintaannya terhadap daerah.

Harapan untuk Generasi Penerus

Menjelang Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober, Djoko berharap pemerintah terus membuka ruang bagi para pembatik lokal untuk berkembang. Ia juga mengajak generasi muda agar tidak hanya bangga mengenakan batik, tetapi ikut menjaga keberlangsungan budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

“Batik sudah diakui dunia sebagai warisan budaya. Pesan saya, generasi muda juga harus mencintai batik dan ikut melestarikannya,” tutup Djoko.

Yang Bertahan Adalah yang Menjaga

Di balik setiap helai batik, ada ribuan titik malam yang lahir dari kesabaran. Tidak ada jalan pintas untuk menghasilkan sebuah karya yang bernilai. Semua membutuhkan waktu, ketelatenan, dan keteguhan hati.

Djoko Slameto membuktikan bahwa melestarikan budaya bukan soal siapa yang mengerjakannya, melainkan siapa yang tetap bertahan ketika banyak orang mulai meninggalkannya.

Sebab yang membuat batik tetap hidup bukan jenis kelamin pembatiknya, melainkan keberanian seseorang untuk terus menjaga warisan ketika dunia lebih sibuk mengejar sesuatu yang instan.@eko

Tags: Batik AthanisaBatik MadiunBatik WinongoKelurahan Winongo

Kamu Melewatkan Ini

Seni dalam Kain: Merawat Warisan, Menolak Dilupakan

Seni dalam Kain: Merawat Warisan, Menolak Dilupakan

by dimas
Juli 18, 2026

Film dokumenter Seni dalam Kain mengangkat perjuangan Joko menjaga Batik Athanissa sebagai warisan budaya Madiun di tengah perubahan zaman. Tabooo.id...

Karya Terbaik Lahir Saat Kita Berani Percaya pada Tangan Sendiri

Karya Terbaik Lahir Saat Kita Berani Percaya pada Tangan Sendiri

by eko
Juli 11, 2026

Tidak semua orang membutuhkan pola untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa. Terkadang, karya terbaik justru lahir ketika keberanian lebih besar...

Doa Berbeda, Harapan Sama: Tiga Agama Satukan Winongo dalam Bersih Desa

Doa Berbeda, Harapan Sama: Tiga Agama Satukan Winongo dalam Bersih Desa

by dimas
Juli 10, 2026

Tiga agama bersatu dalam doa bersama pada Bersih Desa Winongo untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan perdamaian bagi masyarakat. Tabooo.id: Madiun...

Next Post
UMKM Disuruh Go Digital. Giliran Digitalnya Error, Mau Ngadu ke Siapa?

UMKM Disuruh Go Digital. Giliran Digitalnya Error, Mau Ngadu ke Siapa?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id