Tabooo.id: Regional – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menarik perhatian publik. Bukan karena polemik yang biasa muncul, tetapi karena peringatan 40 hari wafatnya Paku Buwono XIII. Malam itu, doa tahlil mengalir, para kerabat duduk rapi, dan publik baik yang hadir maupun yang memantau dari jauh mengikuti satu pertanyaan besar: apa arti tradisi sebesar ini di tengah Indonesia yang makin bergerak cepat?
Rangkaian Acara Dimulai di Sasana Parasdya
Peringatan berlangsung Kamis (11/12/2025) malam sekitar pukul 20.20 WIB di Sasana Parasdya. Paku Buwono XIV Hamangkunagoro datang lebih dulu, mengenakan beskap biru, lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan. Di belakangnya, sang ibunda GKR Ageng dan para putri PB XIII GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, GKR Devi Lelyana Dewi, dan GKR Dewi Ratih Widyasari ikut menghadiri prosesi.
Tidak hanya keluarga keraton yang hadir. Sentono dalem, Abdi dalem dan masyarakat umum juga memenuhi ruangan. Dari seluruh tamu, satu nama langsung menarik perhatian: Ahmad Dhani. Musisi yang kini duduk di Senayan itu datang berbeskap hitam dan memilih kursi di barisan depan.
Kehadiran Ahmad Dhani yang “Datang Sendiri”
Apakah Dhani datang karena undangan resmi? Ternyata tidak.
“Beliaunya datang sendiri,” jelas GKR Panembahan Timoer Rumbai.
Ia menambahkan bahwa Dhani pernah menerima gelar kekancingan dari PB XIII, sehingga kehadirannya terasa wajar bagi pihak keraton.
Dhani pun mengaku menganggap kraton sebagai rumah kedua.
“Saya menganggap diri sebagai keluarga kraton. Meskipun nggak dianggap, nggak apa-apa. Yang penting menganggap sendiri,” ujarnya sambil tertawa.

Ahmad Dhani nampak hadir dalam 40 hari surud dalem PB XIII di Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kamis (11/12/2025) malam. (Tabooo.id/sig)
Prosesi Berlanjut ke Imogiri
Rangkaian 40 hari ini belum selesai. Gusti Panembahan Timoer menjelaskan bahwa prosesi akan berlanjut ke Imogiri keesokan harinya. Karena pembagian tugas, ia tidak bisa ikut.
“Besok yang tindak ke Imogiri itu Gusti Ratih,” katanya.
Makna Tradisi di Tengah Hiruk-Pikuk Modernitas
Di balik ritual yang tampak sakral dan tertata, tradisi ini membawa makna kuat bukan hanya bagi keluarga keraton, tetapi juga bagi publik. Upacara ini mengingatkan bahwa budaya tetap bernafas meski modernitas menekan dari segala arah.
Dhani menegaskan hal serupa:
“Kraton ini heritage. Bagian utama budaya bangsa. Jangan sampai hilang.”
Kenapa Berita Ini Penting?
Di tengah negara yang terus bergerak cepat dengan rapat, deadline, dan algoritma tradisi seperti ini mengingatkan kita bahwa identitas tidak boleh hanyut. Kraton Kasunanan Surakarta bukan sekadar bangunan tua, ia simbol sejarah yang masih hidup, yang harus kita rawat sebelum generasi baru kehilangan jejak asalnya.
Warisan budaya hanya bertahan kalau kita peduli.
Pertanyaannya sederhana namun tajam:
kita masih peduli, atau kita sudah terlalu sibuk scroll berita lain? (red)




