Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ditusuk dari Depan Lebih Terhormat daripada Dipuji Palsu

by eko
Februari 17, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Hujan turun tipis di luar kafe ketika Raka memutar sendok terlalu lama di cangkirnya. Sejak tadi ia menahan kalimat yang terus mendesak keluar. Akhirnya, ia menatap Bima dan menyatakan bahwa ia tidak akan ikut tepuk tangan. Jika semua orang memilih memuji, maka ia memilih berkata jujur bahwa sahabatnya sedang kehilangan arah. Suaranya tetap tenang, tetapi ketegasannya tak bisa disamarkan.

Tidak ada teriakan, dan tak ada drama berlebihan. Hanya dua pasang mata yang saling mengunci, sementara satu kebenaran jatuh di antara mereka. Pada saat itulah persahabatan mereka diuji, dan pepatah yang sering dikaitkan dengan Oscar Wilde terasa relevan, sebab true friend stabs you in the front bukan lagi sekadar kutipan, melainkan situasi nyata.

Budaya Pujian dan Ketakutan pada Konflik

Saat ini kita hidup dalam budaya yang gemar memuji. Melalui media sosial, orang terdorong untuk tampil kompak dan positif. Akibatnya, banyak orang menghindari konflik demi menjaga citra dewasa dan santun. Di kantor, misalnya, sebagian orang menganggap kritik sebagai serangan pribadi. Sementara itu, dalam pertemanan, teguran sering disalahartikan sebagai iri hati. Bahkan di keluarga, kejujuran kerap dicap kurang ajar. Karena alasan itulah banyak orang memilih jalan aman. Sebagian bergosip, sebagian lain mengeluh diam-diam, dan sisanya memilih bungkam. Padahal, sikap diam justru perlahan merusak hubungan.

Sahabat yang Berani Menjadi Cermin

Raka sebenarnya tidak ingin menjatuhkan Bima. Sebaliknya, ia hanya melihat perubahan yang makin jelas. Dahulu mereka sama-sama mengkritik atasan yang menekan bawahan. Mereka pun berjanji tidak akan mengulang pola tersebut. Namun kini, setelah Bima naik jabatan, nada bicaranya berubah dan tuntutannya semakin keras. Tanpa sadar, ia menekan stafnya sendiri. Karena itu, Raka memilih berbicara agar ia tidak ikut terseret perubahan yang sama. Meski demikian, keputusan itu membuat Bima tersinggung. Seketika wajahnya menegang dan suasana menjadi kaku. Memang, ego sering bergerak lebih cepat daripada nurani.

Sistem yang Mengutamakan Citra

Di sisi lain, banyak sistem lebih menghargai kepatuhan daripada integritas. Orang berlomba membangun reputasi, tetapi jarang meluangkan waktu untuk refleksi diri. Oleh sebab itu, kritik terasa mengganggu karena ia merusak narasi nyaman yang telah dibangun. Padahal justru teman yang jujur menunjukkan kepedulian. Ia berdiri di depan kita dan menyebut kesalahan secara langsung. Dengan demikian, ia mengambil risiko kehilangan hubungan demi mempertahankan nilai yang ia yakini.

Ini Belum Selesai

G30S, PKI dan Ingatan yang Dibentuk Kekuasaan

Danyang dan Roh Leluhur: Mengapa Masih Dipercaya?

Luka yang Mengantar pada Kesadaran

Beberapa minggu kemudian, Bima mulai menjauh. Ia tidak membalas pesan dan menghindari pertemuan. Namun demikian, kata-kata Raka terus terngiang di kepalanya. Pada suatu malam, ia teringat wajah lelah stafnya serta nada suaranya sendiri yang terdengar asing. Perlahan, ia melihat dirinya dari sudut yang berbeda. Dalam proses itu, kejujuran Raka berubah menjadi cermin yang memaksanya menilai ulang sikapnya.

Keberanian yang Menyelamatkan Persahabatan

Akhirnya, beberapa bulan kemudian, Bima menghubungi Raka. Ia mengaku sempat marah, tetapi kini ia menyadari bahwa hanya sahabatnya itulah yang cukup peduli untuk berbicara jujur. Mereka tidak berpelukan dramatis. Sebaliknya, mereka duduk dan berbincang sebagai dua orang dewasa yang belajar dari benturan. Dengan begitu, persahabatan mereka justru menguat, bukan runtuh. Luka itu membersihkan sesuatu yang selama ini mengganggu. Maka pertanyaannya menjadi sederhana: ketika seorang sahabat menusuk dari depan demi kebenaran, apakah kita akan membalas dengan amarah, atau justru memilih bertumbuh? @eko

Tags: beraniDeepjujurKritikpalsu

Kamu Melewatkan Ini

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

by dimas
Juni 5, 2026

Demokrasi menjanjikan kesetaraan, tetapi apakah suara terbanyak selalu melahirkan keputusan terbaik? Saat emosi mengalahkan pengetahuan, bencana bisa terjadi. Tabooo.id -...

Fitur Minim, Harga Tinggi: Kenapa Suzuki Jimny Tetap Dipuja?

Fitur Minim, Harga Tinggi: Kenapa Suzuki Jimny Tetap Dipuja?

by eko
Mei 19, 2026

Suzuki Jimny sebenarnya bukan SUV paling nyaman. Mobil ini juga bukan yang paling canggih di kelasnya. Namun, justru di situlah...

Revanno dan Ruang Toleransi: Saat Sekolah Agama Tak Lagi Eksklusif

Revanno dan Ruang Toleransi: Saat Sekolah Agama Tak Lagi Eksklusif

by teguh
Mei 18, 2026

Di sebuah sekolah berbasis Islam di Kota Pekalongan, seorang remaja keturunan Tionghoa beragama Katolik justru menemukan ruang yang membuatnya bertumbuh....

Next Post
Wakil Wali Kota Solo Pimpin HUT 281, Soroti Peran Perempuan dan Budaya

Wakil Wali Kota Solo Pimpin HUT 281, Soroti Peran Perempuan dan Budaya

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id