Tabooo.id: Regional – Kasus dugaan pelecehan seksual yang berujung pada kematian seorang mahasiswi mengguncang Universitas Negeri Manado (Unima). Rektor Unima Joseph Kambey langsung mengambil langkah tegas dengan memberhentikan sementara oknum dosen berinisial DM dari jabatannya. Pimpinan kampus mengambil keputusan ini setelah dugaan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi mencuat ke publik dan diduga mendorong korban mengakhiri hidupnya.
Melalui surat keputusan rektor tertanggal Kamis (1/1/2026), Joseph menegaskan bahwa pembebasan sementara tersebut tidak menghapus hak kepegawaian DM. Selama proses pemeriksaan berjalan, dosen yang bersangkutan tetap menerima hak sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Meski demikian, Joseph menekankan sikap tegas institusi. Ia menyatakan Unima tidak akan mentoleransi tindakan apa pun yang mencederai martabat perguruan tinggi. Rektor juga memastikan keputusan tersebut langsung berlaku sejak ditetapkan dan wajib dijalankan oleh seluruh pihak terkait.
Disiplin Kampus Diuji di Tengah Tekanan Publik
Menurut Joseph, langkah pemberhentian sementara ini menjadi bagian dari mekanisme internal kampus untuk menegakkan disiplin dan menjaga integritas akademik. Ia menilai kebijakan tersebut membuka ruang bagi proses pemeriksaan yang objektif, transparan, dan akuntabel sesuai norma hukum serta regulasi pendidikan tinggi.
Di tengah sorotan publik yang kian tajam, kebijakan ini menjadi ujian nyata bagi kampus. Publik menilai apakah institusi pendidikan tinggi benar-benar berpihak pada korban atau sekadar menjaga stabilitas birokrasi internal.
Mahasiswi Ditemukan Tewas, Dugaan Pelecehan Mencuat
Kasus ini bermula dari kematian EM (21), mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima. Warga menemukan EM dalam kondisi gantung diri di rumahnya di Kabupaten Tomohon, Sulawesi Utara, Selasa (30/12/2025).
Kapolsek Tomohon Tengah Iptu Stenly Tawalujan membenarkan peristiwa tersebut. Polisi segera membawa jenazah korban ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Tak berselang lama, dugaan pelecehan seksual mencuat ke ruang publik. Dugaan ini menguat setelah beredar surat tulisan tangan korban yang memuat pengaduan atas perlakuan tidak pantas yang diduga dilakukan oleh dosen berinisial DM.
Surat Tulisan Tangan Korban Jadi Petunjuk Penting
Dalam surat tersebut, EM mencantumkan identitas lengkap, mulai dari nama, nomor induk mahasiswa, program studi, fakultas, hingga kontak pribadi. Korban juga secara jelas menuliskan nama terlapor yang disebut berstatus sebagai dosen aktif di Unima.
Surat itu kini menjadi petunjuk penting bagi aparat penegak hukum. Kepolisian memastikan telah turun tangan untuk menyelidiki dugaan pelecehan seksual sekaligus menelusuri penyebab kematian korban.
Polisi Tangani Dugaan Bunuh Diri dan Pelecehan
Kapolres Tomohon AKBP Nur Kholis menyatakan penyidik menangani kasus ini secara menyeluruh. Polisi menelusuri dugaan bunuh diri sekaligus mendalami kemungkinan tindak pidana pelecehan seksual sebagaimana tertulis dalam surat korban.
Pihak keluarga EM telah mengajukan laporan resmi ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sulawesi Utara. Dengan laporan tersebut, Polda Sulut kini memegang penuh kewenangan penanganan perkara.
Hasil Awal: Tidak Ada Tanda Kekerasan Fisik
Kasat Reskrim Polres Tomohon Iptu Royke Raymon Yafet Mantiri memaparkan hasil awal penyelidikan. Berdasarkan olah tempat kejadian perkara dan visum luar, penyidik menduga korban meninggal dunia akibat bunuh diri.
Polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Meski begitu, penyidik menegaskan proses penyelidikan masih berjalan dan terus berkembang seiring pengumpulan keterangan saksi serta alat bukti tambahan.
Relasi Kuasa dan Sunyi Korban di Kampus
Kasus ini kembali menyoroti relasi kuasa yang timpang di lingkungan pendidikan tinggi. Mahasiswa, khususnya perempuan, sering berada pada posisi paling rentan, sementara institusi kerap bergerak setelah tragedi tak terelakkan terjadi.
Kini publik menanti lebih dari sekadar sanksi administratif. Pertanyaannya tetap menggantung apakah kampus akan sungguh-sungguh berdiri di sisi korban, atau kembali sibuk merapikan citra setelah satu nyawa hilang? @dimas







