Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dewi Persik dan Doa di Balik Seragam

by teguh
November 29, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

1. Sebuah Momen yang Menangkap Napas

Tabooo.id: Vibes – Ada momen ketika dunia terasa berhenti sebentar ketika sorak barisan taruna, denting musik upacara, dan aroma rumput pagi seolah mengunci satu adegan menjadi gambar abadi. Di Lembah Tidar, Jumat siang itu, Dewi Persik berdiri di antara sekelompok orang tua yang menunggu kelulusan anak mereka. Namun, sorot matanya berbeda lebih genting, lebih hangat, lebih penuh syukur yang lama ia simpan.

Saat lantunan lagu Bunda mengalun, suaranya masih stabil. Tapi ketika puisi mulai menggulung udara, keteguhan itu pecah. Ia menahan napas sebentar, lalu runtuh dalam pelukan putranya, Felice Gabriel. Tangisnya meletup tanpa aba-aba.

Momen itu pun menyihir seluruh lapangan: bukan hanya tentang seorang pedangdut terkenal, tetapi tentang seorang ibu yang menuntaskan doa puluhan tahun.

2. Jejak yang Tak Banyak Orang Tahu

Untuk memahami beratnya pelukan itu, kita perlu mundur jauh. Gabriel atau Gegeb, begitu panggilannya bukan lahir dari rahim Dewi Persik. Ia datang ke kehidupan sang pedangdut ketika usianya baru dua minggu. Saat itu, rumah tangga Dewi dengan Saiful Jamil sedang retak. Banyak hal limbung; banyak suara bising dari publik; banyak pintu terasa menutup.

Namun, justru di tengah kekacauan itulah ia mengambil keputusan paling tenang dalam hidupnya merawat seorang bayi.

Ini Belum Selesai

Asal Usul Kebo Bule Kyai Slamet, Penolak Bala Karaton Surakarta

Politik di Balik Sinkretisme Jawa

Sejak hari itu, cerita mereka berjalan bersama bukan sebagai selebritas dan anak angkat, tapi sebagai ibu dan putra yang saling memilih.

3. Dari Masa Lalu ke Ruang Publik Hari Ini

Kini Gabriel berdiri gagah sebagai taruna Akademi Angkatan Laut. Seragam PDU biru laut itu memeluk tubuh remajanya yang tumbuh cepat. Sementara itu, Dewi tampil dengan kebaya biru muda yang lembut, seolah ingin mengimbangi ketegasan seragam putranya.

Dalam siaran langsung prosesi wisuda, keduanya tak bisa menyembunyikan gejolak perasaan. Selama puisi bergema, Dewi terus memeluk Gabriel kadang lama, kadang cepat seakan setiap detik ingin ia simpan.

Setelah upacara selesai, ia menulis di Instagram. Kali ini bahasanya lebih lirih, lebih membumi, dan lebih religius daripada biasanya. “Bismillah barakallah, anakku… berbaktilah kepada bangsa dan negara,” tulisnya. Kemudian ia menambahkan pesan yang menjadi semacam mantra keluarga jangan pernah tinggalkan salat di mana pun berada.

Di era digital ketika hubungan keluarga sering digantikan notifikasi, adegan ini terasa jujur. Tidak dibuat-buat. Tidak berlebihan. Justru kontras dengan citra glamor Dewi selama ini.

Dewi Persik dan Doa di Balik Seragam
Dewi terus memeluk Gabriel

4. Refleksi Tabooo: Ketika Keluarga Dibangun, Bukan Dilahirkan

Fenomena seperti ini selalu mencuri perhatian publik Indonesia selebritas menangis, keluarga seleb tampil harmonis, taruna ganteng yang baru lulus. Namun, bila kita menyusup lebih dalam, kisah Dewi dan Gabriel memantulkan sesuatu yang lebih besar daripada viralitas.

Pertama, kisah ini menggeser cara kita membaca “keluarga”. Di media sosial dengan cepat orang melabeli “anak angkat”, “anak kandung”, “ibu tiri” seolah hubungan selalu harus ditafsirkan melalui darah. Padahal, Dewi menunjukkan hal sebaliknya: keluarga juga bisa lahir dari pilihan, keberanian, dan keteguhan saling menjaga.

Kedua, momen ini memunculkan perbincangan tentang perjalanan perempuan dalam budaya pop Indonesia. Dewi, yang dulu sering disudutkan ketika menikah, bercerai, atau berkonflik, kembali tampil sebagai sosok ibu penuh kasih. Bukan karena pencitraan, tetapi karena ia memang tumbuh. Hampir tidak ada yang tetap dari perempuan yang terus menata hidupnya.

Ketiga, generasi muda yang kini hidup dalam tekanan digital menemukan inspirasi dari Gabriel remaja yang memilih disiplin, bukan sensasi memilih dedikasi, bukan konten; memilih seragam yang mengikat aturan, bukan kebebasan tanpa arah. Pilihan seperti itu jarang muncul di linimasa kita yang penuh gimik.

5. Penutup: Air Mata yang Menyimpan Sebuah Janji

Pada akhirnya, adegan Dewi menghambur ke pelukan Gabriel bukan sekadar viral harian. Ia seperti pintu kecil menuju pemahaman yang lebih luas bahwa setiap orang membawa masa lalu, tetapi masa depan selalu bisa dipilih.

Lembah Tidar menyimpan banyak cerita tentang taruna yang ditempa disiplin. Namun, hari itu, lembah yang dingin itu menyimpan cerita tentang seorang ibu yang menua bersama harapan, serta seorang anak yang tumbuh menjemput tanggung jawab.

Dan ketika mereka berpisah setelah upacara, air mata yang sempat jatuh itu terasa seperti janji kecil. Bahwa keluarga tidak selalu lahir dari tubuh,
tetapi selalu lahir dari ketulusan yang tak pernah berhenti mencari rumah. @teguh

Kamu Melewatkan Ini

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

by Tabooo
Juni 10, 2026

DPR RI resmi sahkan RUU Polri menjadi undang-undang dalam rapat paripurna. DPR menyebut aturan baru ini memperkuat transformasi, pengawasan, netralitas,...

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

by teguh
Juni 10, 2026

Konflik pusaka Karaton Solo kembali mencuat. Benarkah pusaka milik raja atau dinasti? ini seakan menjadi akar legitimasi yang belum selesai....

Next Post
Gula Darah Naik, Tapi Kamu Nggak Diabetes? Kok Bisa!

Gula Darah Naik, Tapi Kamu Nggak Diabetes? Kok Bisa!

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id