Aksi demonstrasi mahasiswa kembali menguat di berbagai daerah. Apakah ini murni idealisme atau hasil amplifikasi algoritma media sosial yang membentuk kemarahan kolektif?
Tabooo.id – Teriakan dari pengeras suara memantul di antara gedung-gedung pemerintahan. Poster kritik terangkat tinggi. Ribuan mahasiswa berjalan memenuhi jalan raya sambil meneriakkan tuntutan yang sama: dengarkan kami.
Pemandangan seperti ini berulang dalam sejarah Indonesia.
Saat harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja menyusut, atau kebijakan pemerintah memicu kontroversi, mahasiswa hampir selalu muncul di garis depan. Mereka membawa keresahan yang tidak lagi mampu mereka simpan di ruang kelas atau media sosial.
Namun demonstrasi hari ini lahir dalam zaman yang berbeda.
Generasi mahasiswa era Reformasi mengorganisasi gerakan melalui diskusi kampus, selebaran, dan rapat panjang. Sementara itu, generasi sekarang membangun mobilisasi lewat grup WhatsApp, TikTok, Instagram, hingga tagar yang menyebar dalam hitungan menit.
Perubahan itu memunculkan pertanyaan penting.
Apakah mahasiswa masih bergerak karena idealisme? Ataukah algoritma media sosial ikut mengarahkan kemarahan mereka?
Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu.
Keduanya berjalan bersamaan.
Ketika Kritik Tidak Lagi Cukup
Banyak orang melihat demonstrasi sebagai gangguan ketertiban. Padahal aksi turun ke jalan sering kali muncul setelah berbagai saluran komunikasi tidak menghasilkan perubahan.
Mahasiswa umumnya tidak langsung memilih demonstrasi. Mereka berdiskusi, menyampaikan kritik, menulis pernyataan sikap, hingga menggelar audiensi. Ketika semua cara itu terasa buntu, jalan raya berubah menjadi ruang bicara yang paling terlihat.
Di titik itulah demonstrasi berfungsi sebagai alarm sosial.
Alarm tidak menciptakan kebakaran. Alarm hanya memberi tahu bahwa sesuatu sedang terjadi.
Karena itu, publik perlu melihat demonstrasi bukan sekadar sebagai kerumunan massa, melainkan sebagai tanda bahwa sebagian warga merasa negara kurang mendengar suara mereka.
Algoritma Menjual Emosi, Bukan Kebenaran
Dulu mahasiswa mencari informasi.
Sekarang informasi mengejar mahasiswa.
Setiap hari media sosial menyuguhkan video penggusuran, kenaikan harga, konflik politik, hingga kritik terhadap penguasa. Sebagian konten memuat fakta yang valid. Sebagian lainnya hanya menampilkan potongan peristiwa tanpa konteks utuh.
Di sinilah algoritma bekerja.
Platform digital tidak memprioritaskan informasi paling benar. Sistem mereka justru mengutamakan konten yang mampu menarik perhatian pengguna lebih lama.
Konten yang memicu kemarahan biasanya memperoleh lebih banyak komentar. Konten yang memancing ketakutan sering mendapat lebih banyak bagikan. Akibatnya, emosi bergerak lebih cepat daripada verifikasi.
Peneliti menyebut kondisi itu sebagai echo chamber dan filter bubble. Pengguna terus menerima informasi yang sejalan dengan keyakinan mereka. Lama-kelamaan mereka merasa seluruh masyarakat memiliki pandangan yang sama.
Kondisi tersebut mempersempit ruang dialog.
Orang semakin jarang mendengar argumen berbeda. Sebaliknya, mereka terus mengonsumsi informasi yang menguatkan posisi masing-masing.
Kemarahan Tidak Lahir dari Ruang Kosong
Meski demikian, menyalahkan media sosial sepenuhnya juga tidak tepat.
Algoritma memang mempercepat penyebaran emosi. Namun algoritma tidak bisa menciptakan kemarahan tanpa sebab.
Jika harga kebutuhan stabil, kesempatan kerja terbuka luas, dan masyarakat merasa didengar, narasi kemarahan tidak akan mudah mendapat perhatian publik.
Artinya, akar persoalan tetap berada di dunia nyata.
Media sosial hanya memperbesar suara yang sudah ada.
Karena itu, pemerintah perlu memahami satu hal penting: mahasiswa tidak turun ke jalan semata karena melihat video viral. Mereka turun karena menemukan pengalaman sehari-hari yang sesuai dengan keresahan yang mereka lihat di layar ponsel.
Mayoritas Mahasiswa Menolak Kekerasan
Ada anggapan bahwa demonstrasi mahasiswa identik dengan kerusuhan.
Data justru menunjukkan hal berbeda.
Studi terhadap 500 mahasiswa di Jakarta, Surabaya, Malang, dan Kediri menemukan bahwa mayoritas responden mendukung demonstrasi sebagai bagian dari demokrasi. Sebanyak 81,4 persen responden menilai aksi diperlukan agar suara mereka terdengar. Sementara 80,4 persen menolak tindakan represif aparat terhadap demonstran.
Penelitian yang sama juga menemukan sebagian besar mahasiswa menolak tindakan anarkistis. Sebanyak 68,2 persen responden menyatakan demonstrasi tidak seharusnya berujung kekerasan.
Temuan itu memperlihatkan satu fakta sederhana.
Sebagian besar mahasiswa tidak mencari kerusuhan.
Mereka mencari perhatian terhadap isu yang mereka anggap penting.
Mengapa Bentrokan Terus Terjadi?
Masalah muncul ketika kedua pihak lebih sibuk mempertahankan posisi masing-masing daripada membangun dialog.
Mahasiswa sering menganggap pemerintah antikritik.
Sebaliknya, pemerintah kerap menilai demonstran tidak memahami kompleksitas persoalan.
Ketegangan itu membuat jarak semakin lebar.
Saat aparat bertindak represif, kemarahan meningkat. Ketika kemarahan meningkat, peluang bentrokan ikut membesar. Setelah bentrokan terjadi, perhatian publik beralih dari substansi tuntutan menuju kericuhan di lapangan.
Akibatnya, isu utama menghilang di balik gambar-gambar kekacauan.
Siklus tersebut terus berulang tanpa menghasilkan penyelesaian yang berarti.
Demokrasi Membutuhkan Telinga yang Mau Mendengar
Demokrasi tidak runtuh karena terlalu banyak kritik.
Sebaliknya, demokrasi melemah ketika kritik kehilangan ruang untuk tumbuh.
Negara yang sehat bukan negara tanpa demonstrasi. Negara yang sehat justru mampu mendengar demonstrasi tanpa melihat setiap kritik sebagai ancaman.
Pemerintah tentu tidak harus menyetujui seluruh tuntutan mahasiswa. Namun pemerintah perlu menunjukkan bahwa kritik memiliki tempat dalam proses pengambilan kebijakan.
Kemampuan mendengar sering kali lebih penting daripada kemampuan membalas.
Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kekuasaan mulai kehilangan arah ketika ia berhenti mendengar suara dari luar lingkarannya sendiri.
Bukan Sekadar Aksi Jalanan
Melihat demonstrasi hanya sebagai peristiwa keamanan berarti mengabaikan akar persoalannya.
Aksi mahasiswa bukan sekadar kumpulan poster, pengeras suara, atau tagar yang ramai di media sosial.
Gerakan itu mencerminkan hubungan yang sedang mengalami ketegangan antara pengambil kebijakan dan generasi yang akan mewarisi masa depan bangsa.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah mengapa mahasiswa berteriak begitu keras.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa mereka merasa harus berteriak agar bisa didengar.
Ketika sebuah kelompok memilih turun ke jalan, mereka sebenarnya sedang menyampaikan pesan yang sederhana: ada sesuatu yang menurut mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Mungkin pesan itu benar. Mungkin juga tidak seluruhnya benar.
Namun demokrasi yang sehat selalu memberi ruang untuk mendengarnya terlebih dahulu.
Penguasa yang berhenti mendengar kritik biasanya tidak kehilangan kekuasaan lebih dulu, tetapi kehilangan kemampuan membaca kenyataan. @dimas






