• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Life

Dari Tukang Kebun ke Dosen: Jalan Panjang Mbah Saring

Desember 15, 2025
in Life
A A
Dari Tukang Kebun ke Dosen: Jalan Panjang Mbah Saring

Dari tukang kebun hingga dosen Mbah Saring membuktikan bahwa ketekunan dan cinta pada ilmu mampu mengubah jalan hidup, tanpa pernah meninggalkan kesederhanaan. (Foto dok. Darmajaya)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi di perpustakaan Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya selalu diawali ritme yang sama. Langkah kaki mahasiswa beradu dengan bunyi pintu kaca. Beberapa datang dengan wajah lelah, sebagian lain membawa ambisi yang belum sempat dirapikan. Di tengah arus itu, satu sosok berdiri tenang di balik meja layanan.

Pecinya selalu rapi. Senyumnya nyaris tak pernah absen. Namanya Abdurrahim, tetapi di kampus, hampir semua orang memanggilnya Mbah Saring.

Ia bukan dosen tamu, bukan pula pejabat kampus. Namun kehadirannya menempel kuat di ingatan banyak mahasiswa. Perpustakaan seolah memiliki denyut hidup karena caranya menyapa, mendengar, dan membantu tanpa tergesa.

Dari Halaman Kampus ke Ruang Pengetahuan

Abdurrahim lahir di Desa Sulit Air pada 17 Februari 1974. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Darmajaya, ia tidak membawa map berisi ijazah. Ia datang sebagai tukang kebun.

Setiap pagi, ia merawat tanaman, menyapu halaman, dan membersihkan sudut-sudut kampus dengan ketekunan yang jarang disorot. Namun di sela pekerjaan itu, tumbuh satu kebiasaan kecil yang kelak mengubah hidupnya. Ia kerap berhenti sejenak di depan ruang kelas, mendengarkan suara dosen mengajar dari balik pintu.

Di sanalah, perlahan, rasa ingin tahunya menemukan arah. Kata-kata asing ia simpan dalam ingatan. Topik-topik kuliah ia catat dalam diam. Dunia akademik terasa jauh, tetapi tidak mustahil.

Kemudian, kesempatan datang dari arah yang tak disangka. Yayasan Alfian Husin melihat kesungguhannya dan memberinya beasiswa. Sejak saat itu, Abdurrahim tidak lagi hanya menyapu halaman kampus. Ia mulai menata mimpinya sendiri.

Ketika Belajar Menjadi Jalan Hidup

Masuk sebagai mahasiswa Program Studi Sistem Informasi IIB Darmajaya bukan perkara mudah. Ia belajar sambil bekerja. Ia mengatur waktu dengan disiplin. Namun alih-alih mengeluh, ia memilih menikmati proses.

Baginya, belajar bukan sekadar mengejar gelar. Belajar adalah bentuk kesetiaan pada diri sendiri. Karena itu, ketika gelar sarjana akhirnya ia raih, ia tidak berhenti.

Beberapa tahun kemudian, Abdurrahim kembali melangkah. Kali ini, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Ia memilih Pendidikan Agama Islam dan berhasil meraih gelar magister.

Di titik ini, hidupnya berubah arah. Ia tidak hanya menjadi staf perpustakaan. Ia juga dipercaya mengajar Mata Kuliah Dasar Umum Agama Islam. Dari balik rak buku, ia berpindah ke ruang kelas.

Meski demikian, satu hal tetap sama caranya memanusiakan orang lain.

Perpustakaan yang Lebih dari Sekadar Ruang Sunyi

Kini, setiap hari Mbah Saring mengelola ribuan buku dan materi digital. Ia membantu mahasiswa mencari referensi. Ia menuntun mereka yang kebingungan menentukan topik. Ia bahkan mengingatkan tenggat dengan cara yang halus dan tidak menggurui.

Namun yang paling diingat mahasiswa bukan hanya bantuannya, melainkan suasana yang ia ciptakan. Perpustakaan tidak terasa kaku. Ruang itu menjadi tempat aman untuk bertanya dan salah.

Banyak mahasiswa datang bukan hanya demi literatur. Mereka datang untuk merasa didengar. Mereka datang untuk jeda sejenak dari tekanan akademik.

Di sanalah Mbah Saring bekerja dengan caranya sendiri tanpa laporan panjang, tanpa klaim kontribusi.

Prinsip Hidup yang Tidak Berisik

“Beramal itu seperti melempar batu ke laut, tidak perlu diingat lagi.”

Kalimat itu bukan slogan kosong. Prinsip itu hidup dalam kesehariannya. Ia membantu tanpa menghitung. Ia hadir tanpa meminta pengakuan. Ia bekerja tanpa membangun citra.

Dalam dunia yang gemar memamerkan pencapaian, sikap seperti ini terasa langka. Namun justru karena itulah ia meninggalkan jejak yang panjang.

RelatedPosts

Satyaning Caraka: Tentang Janji yang Dikhianati, dan Kesetiaan yang Diuji di Tengah Kekacauan

Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

Sekretaris Yayasan Alfian Husin, Dr. Ir. H. Firmansyah YA, MBA, M.Sc., menyebut Abdurrahim sebagai contoh nyata ketekunan. Dari tukang kebun hingga dosen, katanya, perjalanan Mbah Saring membuktikan bahwa perubahan besar sering lahir dari langkah kecil yang konsisten.

Paradoks dalam Dunia Pendidikan

Kisah Mbah Saring membuka satu paradoks penting. Dunia pendidikan kerap sibuk membicarakan peringkat, akreditasi, dan prestasi. Namun pada saat yang sama, ia sering melupakan orang-orang yang menjaga ekosistemnya tetap hangat.

Mereka bekerja dalam senyap. Mereka memastikan ruang belajar tetap bernapas. Nama mereka jarang muncul dalam laporan tahunan, tetapi hidup dalam ingatan banyak mahasiswa.

Abdurrahim bukan pengecualian. Ia adalah representasi dari mereka yang memilih setia pada proses, bukan pada sorotan.

Sikap Tabooo: Tentang Naik Tanpa Menyakiti

Bagi Tabooo, kisah ini bukan sekadar cerita sukses personal. Ini adalah narasi tentang cara naik tangga tanpa mendorong orang lain jatuh.

Mbah Saring menunjukkan bahwa pendidikan bisa menjadi jalan pembebasan jika dijalani dengan kerendahan hati. Ia tidak membuktikan dirinya lewat gelar semata. Ia membuktikannya lewat konsistensi, kehadiran, dan sikap yang tidak berubah meski peran bergeser.

Di tengah budaya yang mengukur nilai dari jabatan, ia mengingatkan bahwa martabat lahir dari cara memperlakukan sesama.

Penutup: Api Kecil yang Menyala Lama

Menjelang sore, perpustakaan kembali sunyi. Rak-rak buku berdiri diam. Lampu menyala temaram. Mbah Saring menutup hari dengan langkah yang sama seperti pagi tenang dan utuh.

Ia mungkin tidak pernah menjadi headline. Namun bagi banyak orang, ia adalah alasan untuk percaya bahwa mimpi tidak selalu membutuhkan panggung besar.

Terkadang, mimpi cukup dijaga dengan sabar. Seperti api kecil yang menyala lama. Dari sanalah, cahaya perlahan menyebar. @dimas

Tags: Feature LifeHuman InterestInspirasi HidupKisah NyataPendidikan IndonesiaPerjalanan HidupSemangat BelajarTabooo Life
Next Post
Lansia Ogah Makan, Keluarga Panik Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Lansia Ogah Makan, Keluarga Panik Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Di Balik Kelancaran Mudik Lebaran, Nyawa Petugas Jadi Taruhan

    Di Balik Kelancaran Mudik Lebaran, Nyawa Petugas Jadi Taruhan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Joget Rp6 Juta Sehari: Program Sosial atau Ladang Cuan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Becak yang Tak Pernah Pulang: Saat Kota Membiarkan Warganya Tidur di Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Healing ke Bali, Pulangnya Butuh Healing Lagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.