Tabooo.id: Lifestyle – Pagi di Cianjur selalu menyapa dengan lembut. Cahaya matahari merambat masuk lewat sela genting, suara panci beradu pelan, dan aroma tepung yang baru dibuka memenuhi udara. Di dapur kecil itu, Yeti Hernawati (48) mengaduk adonan kukis. Tangannya lincah, geraknya teratur, tetapi pikirannya kembali ke masa ketika semuanya belum terbentuk seperti hari ini.
“Waktu itu saya cuma ingin pulang,” ujarnya sambil merapikan loyang yang baru keluar dari oven. “Pulang dan dekat dengan anak-anak.”
Selama enam tahun bekerja di Jakarta, ia hidup dari pagi hingga malam. Aktivitas itu perlahan mencuri peran pentingnya sebagai ibu. Keputusan pulang muncul bukan karena kegagalan atau kejenuhan, melainkan karena rasa kehilangan setiap kali ia mendapati anak-anak tertidur tanpa sempat ia temani.
Ironisnya, langkah yang tampak mundur justru membuka pintu menuju kehidupan baru.
Ketika Kota Melepas, Kampung Menyambut
Saat kembali ke Cianjur, Yeti tidak membawa rencana megah. Ia hanya memegang keberanian, sedikit tabungan, dan segenggam harapan. Selebihnya adalah ketidakpastian yang harus ia jinakkan.
Ia belajar membuat kue dari nol. Ia mengikuti kursus, bereksperimen, dan berkali-kali gagal. Namun suatu hari, sebuah ide tak terduga muncul: bagaimana jika tauco bahan masakan khas Cianjur diolah menjadi kukis?
“Awalnya banyak yang bilang aneh,” katanya sambil tertawa. “Tauco itu buat sambal, bukan buat kue.”
Namun, justru karena berbeda, ide itu memancing keberanian baru. Inovasi sering muncul dari seseorang yang berani meragukan hal-hal yang selama ini dianggap “sudah semestinya.” Dari dapur kecil itu, lahirlah Tauco Cookies, produk rumahan yang kelak terbang ke kota-kota lain, bahkan ke Malaysia, Singapura, hingga Arab Saudi.
Kini, kukis buatannya sudah masuk ke toko oleh-oleh, lobi hotel di Puncak, dan paket-paket pesanan dari berbagai daerah.
Empat Tahun Sunyi, Lalu Pasar Menoleh
Kesuksesan itu tidak muncul seketika. Selama empat tahun pertama, penjualan berjalan pelan. Hampir tidak ada keuntungan, dan dukungan pun minim. Tetapi Yeti tetap bekerja, hari demi hari.
Empat tahun mungkin terasa lama bagi banyak orang. Namun ia memilih bertahan. Baginya, bertahan berarti menjaga masa depan anak-anaknya.
“Kalau dulu bikin hanya saat ada pesanan,” katanya, “sekarang setiap hari saya produksi. Tidak terasa, waktunya berjalan cepat.”
Ada keteguhan yang kentara di setiap ucapannya. Keteguhan itu membuktikan bahwa bertahan bukan sekadar strategi bisnis melainkan bentuk cinta yang bekerja dalam diam.
Pandemi dan Gempa: Saat Hidup Menguji Lebih Keras
Ketika usahanya mulai stabil, badai menghantam.
Pandemi Covid-19 membuat pesanan turun drastis. Masyarakat tidak bepergian dan tidak membeli oleh-oleh. Yeti sempat menghentikan produksi dan banting setir menjual frozen food demi memastikan dapurnya tetap hidup.
Belum selesai dari situ, gempa besar mengguncang Cianjur. Rumah rusak, toko tutup, dan UMKM terpukul hebat. Usaha Yeti ikut limbung.
“Waktu itu betul-betul kacau,” ucapnya. “Tapi kalau saya berhenti, anak-anak makan apa?”
Keputusannya untuk terus melangkah lahir bukan dari kekuatan besar, tetapi dari kebutuhan untuk tetap berdiri. Keberaniannya tumbuh karena ia tidak punya pilihan lain selain kuat. Dan itu adalah keberanian paling sunyi, tetapi paling nyata.
Dapur sebagai Ruang Pertumbuhan
Menjadi wirausaha mengubah hidup Yeti. Ia menemukan kembali waktu untuk anak-anaknya hal yang dulu mustahil ia dapatkan saat bekerja di kota besar. Kini, ia bisa bekerja sambil memastikan anak-anaknya tumbuh dengan kehadiran yang penuh.
“Dulu saat di Jakarta, mereka masih balita,” kenangnya. “Kadang saya harus membawa mereka ke tempat kerja.”
Kini, putri sulungnya membantu memasarkan produk lewat media sosial dan bahkan membuat produknya sendiri. Sementara si bungsu, yang masih SMA, selalu sigap membantu mengemas pesanan.
Dapur kecil itu tidak lagi hanya ruang untuk memasak. Ia berubah menjadi sekolah ketabahan, tempat Yeti belajar sabar, berinovasi, bangkit, dan memahami arti rumah.
Sikap Tabooo: Langkah Mundur Bukan Tanda Kalah
Selama ini, banyak narasi besar menempatkan perempuan dalam dikotomi sempit karier atau keluarga, ambisi atau rumah. Kisah Yeti mematahkan itu semua.
Ia mundur dari dunia korporasi, masuk ke dapur kecil, lalu justru maju lebih jauh daripada yang pernah ia bayangkan. Langkahnya menggugat definisi kesuksesan yang sering memaksakan satu jalur untuk semua orang.
Kisah Yeti mengingatkan bahwa:
- karier tidak selalu berada di gedung tinggi,
- ambisi tidak selalu tampak keras,
- dan keputusan paling berani sering lahir dalam sunyi, sambil mengaduk adonan pada subuh hari.
Penutup: Aroma yang Mengajarkan Pulang
“Sudah lebih dari sepuluh tahun,” kata Yeti. “Saya hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak.”
Aroma kukis tauco yang baru matang memenuhi ruangan. Harumnya membawa jejak perjalanan kegagalan, kebangkitan, cinta, dan keberanian seorang ibu yang memilih jalannya sendiri.
Dari luar, kukis itu tampak biasa. Namun di balik setiap toples, ada kisah tentang seorang perempuan yang memutuskan untuk pulang agar hidupnya menemukan arti yang lebih dalam.
Dan di dunia yang bergerak cepat, cerita seperti ini mengingatkan kita bahwa langkah mundur kadang menjadi cara paling sunyi untuk melompat jauh. @dimas




