Tabooo.id: Life – Pagi di Jakarta belum sepenuhnya ramah ketika Ade Putri Sarwendah duduk di sebuah ruang di Kantor Kedutaan Besar Kerajaan Thailand. Di luar, lalu lintas bergerak seperti biasa tergesa, gaduh, dan penuh ambisi. Namun di dalam ruangan itu, Ade berbicara pelan, nyaris seperti sedang mengingat sesuatu yang sangat personal.
“Setiap kali orang bertanya mengapa saya mengajar di SLB, saya tidak pernah punya alasan,” ujarnya sambil menggeleng kecil.
Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin membingungkan. Namun dari sanalah kisah Ade bermula bukan dari ambisi besar, bukan dari panggilan heroik, melainkan dari sebuah cinta yang tidak pernah menuntut penjelasan.
Cinta yang Tidak Perlu Alasan
Lebih dari 15 tahun Ade mengabdi sebagai guru siswa berkebutuhan khusus. Ia mengajar anak-anak dengan gangguan pendengaran, intelektual, dan spektrum disabilitas lainnya. Namun ia menolak narasi klasik tentang pengorbanan.
“Bagi saya, tingkat cinta terdalam memang tidak membutuhkan alasan yang pasti, Mungkin itu sebabnya saya masih punya hasrat luar biasa untuk mengajar mereka.” tambahnya.
Di tengah dunia pendidikan yang sering mengukur keberhasilan dengan angka, peringkat, dan kurikulum kaku, Ade memilih jalur yang sunyi. Ia menaruh perhatian pada hal-hal yang kerap luput: tatapan mata murid yang akhirnya memahami, isyarat tangan yang mulai lancar, atau senyum kecil yang muncul setelah berhari-hari mencoba.
Inovasi yang Lahir dari Kebutuhan Nyata
Alih-alih menunggu sistem berubah, Ade menciptakan jalannya sendiri. Ia mengembangkan aplikasi Gembira Mengenal Ragam Bunyi dan Suara untuk membantu siswa dengan gangguan pendengaran memahami dunia auditori melalui pendekatan visual dan taktil.
“Aplikasi ini saya rancang untuk mengoptimalkan potensi mereka, bukan untuk menyeragamkan cara belajar,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Ade juga mengembangkan Sehati, aplikasi pendidikan kesehatan reproduksi untuk siswa dengan gangguan intelektual topik yang sering dianggap tabu, bahkan di pendidikan umum. Baginya, akses informasi adalah hak, bukan privilese.
Selain aplikasi, Ade merancang meja kerja adaptif berisi aktivitas pembelajaran yang terintegrasi dengan bahasa isyarat. Dengan alat itu, siswa belajar sambil bergerak, berinteraksi, dan memahami bahasa tubuh mereka sendiri.
Semua inovasi itu lahir bukan dari laboratorium canggih, melainkan dari ruang kelas sederhana dan dialog sehari-hari dengan murid-muridnya.
ABK Farm dan Pelajaran tentang Kemandirian
Di Balikpapan, Kalimantan Timur, Ade juga menjalankan proyek bernama ABK Farm. Di sana, siswa berkebutuhan khusus belajar bertani, merawat tanaman, dan memahami ritme kerja.
“Orientasi saya bukan menyiapkan mereka setelah lulus, Saya ingin menanamkan kemandirian sedini mungkin.” tambahnya.
Proyek ini mengajarkan bahwa kemandirian bukan tujuan akhir, melainkan proses harian. Anak-anak belajar bahwa mereka mampu menghasilkan, merawat, dan bertanggung jawab nilai yang sering kali justru dilupakan dunia luar terhadap penyandang disabilitas.
Tantangan yang Berubah Menjadi Peluang
Menariknya, Ade tidak menyebut pekerjaannya sebagai penuh tantangan. Ia justru menyebutnya peluang.
“Peluang untuk membangun empati saya sebagai guru, “Peluang untuk memahami kebutuhan mereka secara personal. Dan peluang untuk terus belajar.” pungkasnya.
Pernyataan ini terasa kontras dengan narasi umum yang sering memosisikan guru SLB sebagai pahlawan kelelahan. Ade menolak glorifikasi itu. Ia tidak ingin dikasihani, apalagi diagungkan. Ia hanya ingin mengajar dengan utuh.
Pengakuan yang Datang Belakangan
Kerja sunyi Ade akhirnya mendapat sorotan. Sejak 2018, ia mengoleksi berbagai penghargaan, mulai dari Juara Kedua Guru Berprestasi Nasional hingga Penghargaan Inovasi Pendidikan Khusus di Malaysia pada 2022.
Pada 2024, publik kembali mengenalnya sebagai peserta favorit Jambore Guru dan Tenaga Kependidikan Nasional dalam kategori Guru Inovatif SLB. Puncaknya, pada 2025, Ade menerima Princess Maha Chakri Award penghargaan internasional bergengsi di bidang pendidikan.
Ia pun terbang ke Bangkok untuk mempresentasikan metode pengajarannya. Dari Balikpapan ke panggung internasional, langkah Ade terasa jauh, tetapi tetap berpijak pada kelas kecil tempat semuanya bermula.
Di Antara Sistem dan Manusia
Kisah Ade mengingatkan kita pada satu paradoks besar pendidikan: sistem sering berbicara tentang inklusi, tetapi praktiknya masih tertinggal jauh. Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya perhatian, perubahan justru lahir dari individu yang memilih peduli.
Ade tidak berbicara tentang revolusi. Ia berbicara tentang kehadiran. Tentang mendengar, meski muridnya tidak selalu bisa bersuara. Tentang memahami, meski dunia sering menutup mata.
Pertanyaan yang Tertinggal
Di akhir percakapan, Ade kembali tersenyum kecil. Ia tidak menyebut dirinya inspiratif. Ia hanya mengatakan akan terus mengajar, selama cinta itu masih ada.
Mungkin di situlah letak kekuatannya. Di dunia yang gemar mencari alasan untuk berhenti, Ade Putri Sarwendah memilih bertahan tanpa alasan, tanpa slogan, dan tanpa suara keras. Hanya kerja, cinta, dan keyakinan bahwa setiap anak, apa pun kondisinya, pantas diberi ruang untuk tumbuh.
Dan mungkin, justru dari ruang-ruang kecil itulah masa depan pendidikan paling jujur sedang dirawat. @dimas




