Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Penjual Es Teh Jumbo ke Podium ASEAN: Kisah Sri Lestari dan Empat Medali

by dimas
Januari 25, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi di Desa Teter, Kecamatan Simo, Boyolali, selalu dimulai dengan bunyi gelas beradu dan es batu yang diremukkan. Di depan rumah sederhana, Sri Lestari menuang teh ke gelas plastik besar. Es teh jumbo dagangan yang ia rawat seperti napas sehari-hari mengalir dari tangannya yang cekatan dan terlatih. Nyaris tak ada yang menduga, dari gerobak kecil itulah seorang atlet internasional menyiapkan langkahnya menantang dunia.

Sementara itu, ribuan kilometer dari Boyolali, nama Sri Lestari bergema di arena ASEAN Para Games 2025 di Thailand. Panitia memanggilnya satu per satu. Usianya 47 tahun. Ia bertanding di atas kursi roda. Di lehernya, empat medali bergantung dua perak dan dua perunggu. Pencapaian itu tidak lahir dari pusat pelatihan mewah, melainkan dari disiplin yang tumbuh di sela hidup keras di antara pesanan es teh, peran sebagai ibu, dan rindu yang tak pernah tuntas pada suami yang telah tiada.

Medali dari Waktu yang Dicuri

Sri Lestari berangkat ke Thailand pada 15 Januari 2026. Hingga kabar prestasinya menyebar luas, ia masih berada di sana karena pertandingan belum rampung dan penutupan baru dijadwalkan pada 27 Januari. Dari arena anggar kursi roda, ia mengirim kabar singkat namun bermakna empat medali, dua dari nomor beregu dan dua dari nomor tunggal. Medali perak datang dari beregu, sementara perunggu mengukuhkan namanya di sektor individu.

Namun, angka-angka itu hanya mewakili sebagian kecil cerita. Di baliknya, Sri merebut waktu dengan susah payah. Selama tiga bulan sebelum keberangkatan, ia menjalani latihan mandiri di Wisma Sejahtera Solo. Ia tidak selalu bisa berlatih ideal. Ia tidak memiliki kemewahan jadwal penuh. Karena itu, ia memilih waktu senggang saat pesanan es teh mereda, saat anaknya telah terlelap, dan saat tubuhnya masih menyimpan sisa tenaga.

Ia sadar betul intensitas latihannya tertinggal dibanding atlet lain. Meski begitu, hidup memaksanya berdamai dengan kenyataan.

Ini Belum Selesai

Jejak yang Tertinggal: Ketika Generasi Kehilangan Akar Kehidupan

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

“Kalau ada pesanan, saya dahulukan,” ujarnya suatu kali. Bagi Sri, uang dari es teh bukan sekadar pemasukan.

Uang itu menjadi bekal sekolah anaknya sekaligus alasan untuk terus bertahan.

Dari Dapur ke Arena, dari Duka ke Tekad

Sri Lestari tidak tumbuh dari keluarga atlet. Sebelum dunia olahraga hadir, ia mengandalkan dapur dan lapak kecil untuk bertahan hidup di Solo. Perubahan besar datang saat ia bertemu Muhammad Ra’i atlet yang kemudian menjadi pasangan hidup sekaligus orang pertama yang meyakinkannya bahwa disabilitas bukan akhir dari mimpi.

Berbekal dukungan suami, Sri mengikuti seleksi National Paralympic Committee (NPC) pada 2010 dan berhasil lolos. Setahun berselang, ia meraih emas voli duduk tingkat ASEAN. Prestasinya berlanjut di ASEAN Para Games 2014 Myanmar serta berbagai ajang nasional lainnya.

Cabang anggar ia tekuni belakangan, pada Asian Para Games 2018, ia meraih medali perunggu. Namun, hidup kembali mengubah arah. Pada 2020-2021, suaminya meninggal dunia. Dunia terasa runtuh. Meski tawaran bertanding berdatangan, Sri memilih menolak. Saat itu, hatinya belum siap melangkah.

Duka itu tidak pernah benar-benar pergi. Sri hanya belajar menyimpannya di ruang yang lebih sunyi. Pada 2022, ia kembali ke arena—voli duduk lebih dulu, lalu anggar. Kenangan berlatih bersama suami kerap datang mendadak dan menekan dada. Kendati demikian, Sri memilih terus berjalan, bukan mundur.

“Tidak ada kata terlambat,” katanya pelan. Ia teringat candaan sang suami yang dulu menyebutnya telat menjadi atlet. Kini, ia menjawab candaan itu dengan bukti tekad tidak pernah mengenal usia.

Ibu, Atlet, dan Anak yang Tumbuh di Antaranya

Di luar arena, Sri Lestari adalah ibu dari seorang anak laki-laki. Sejak usia 2,5 tahun, anak itu telah terbiasa ditinggal ibunya untuk pemusatan latihan nasional. Saat itu, peran sang suami sangat menentukan mengurus rumah, menjaga anak, dan memberi ruang agar Sri mengejar prestasi.

Kini, anaknya duduk di kelas XII SMAN 1 Simo. Ia menyukai olahraga dan mencoba berbagai cabang, meniru semangat ibunya dengan caranya sendiri. Bagi Sri, prestasi tidak semata soal podium. Prestasi juga berarti teladan tentang menunjukkan bahwa kerja keras tidak selalu berbuah kemewahan, tetapi selalu melahirkan martabat.

Selain es teh jumbo, Sri menyesuaikan dagangannya dengan kebutuhan pasar. Saat musim durian tiba, ia ikut menjual durian. Hidupnya bergerak mengikuti permintaan, tetapi prinsipnya tetap sama ia menolak menyerah.

Boyolali dan Nama-Nama yang Berangkat Bersama

Sri tidak berangkat sendirian. Dari Boyolali, lima atlet NPCI mewakili Indonesia di ASEAN Para Games 2025 Thailand. Mereka adalah Karisma Evi Tiarani dan David Subiyantoro di para atletik, Sri Lestari dan Dwi Lestari di anggar kursi roda, serta Suci Kirana Dewi di cabang boccia. Sebelum berangkat, mereka berpamitan kepada Bupati Boyolali, Agus Irawan, pada 6 Januari 2026.

Pesannya sederhana namun berat: jaga nama daerah, jaga nama Indonesia.

Di mata orang-orang terdekat, Sri dikenal sebagai sosok gigih. Istiqomah, orang tua atlet Karisma Evi Tiarani, menyebut dunia olahraga disabilitas sering tumbuh dari ajakan sederhana dari pasangan, keluarga, dan komunitas kecil yang saling percaya.

Ketika Prestasi Tidak Lahir dari Fasilitas

Kisah Sri Lestari mencerminkan paradoks olahraga disabilitas di Indonesia. Prestasi kerap lahir dari keterbatasan, dari latihan seadanya, dan dari dukungan yang tidak selalu sistematis. Negara hadir, tetapi sering terlambat. Medali datang, tetapi kesejahteraan belum tentu mengikuti.

Meski begitu, Sri tidak menunggu sistem sempurna untuk bergerak. Ia memilih berangkat dengan apa yang ia miliki. Kursi roda menjelma sayap. Gerobak es teh berubah menjadi landasan.

Yang Tersisa Setelah Tepuk Tangan

Di Thailand, lampu arena perlahan padam. Di Boyolali, gelas-gelas plastik kembali tersusun. Hidup Sri Lestari berjalan seperti biasa namun tidak sepenuhnya sama. Empat medali itu bukan garis akhir. Medali itu menjadi penanda bahwa mimpi bisa tumbuh di tempat yang paling tak terduga.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan berapa medali yang ia raih, melainkan berapa banyak orang yang berani bermimpi setelah membaca kisahnya. Sebab, Sri Lestari mengajarkan satu hal sederhana kemenangan jarang lahir dari kemewahan, tetapi hampir selalu lahir dari keberanian untuk bertahan.

Dan di antara bunyi es yang pecah serta sorak penonton yang jauh, keberanian itu terus hidup. @dimas

Tags: ASEANAtletBoyolaliDisabilitasInspiratifNasionalolahragaPara Gamesperempuan

Kamu Melewatkan Ini

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

by teguh
Mei 29, 2026

Hari Lahir Pancasila tahun ini terasa lebih dari sekadar seremoni negara. Di tengah dinamika politik nasional, publik mulai bertanya: siapa...

Next Post
Bikin Oscar Panas! Sinners Raup 16 Nominasi dan Kalahkan Film Legendaris

Bikin Oscar Panas! Sinners Raup 16 Nominasi dan Kalahkan Film Legendaris

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id