Tabooo.id: Life – Pagi di Desa Teter, Kecamatan Simo, Boyolali, selalu dimulai dengan bunyi gelas beradu dan es batu yang diremukkan. Di depan rumah sederhana, Sri Lestari menuang teh ke gelas plastik besar. Es teh jumbo dagangan yang ia rawat seperti napas sehari-hari mengalir dari tangannya yang cekatan dan terlatih. Nyaris tak ada yang menduga, dari gerobak kecil itulah seorang atlet internasional menyiapkan langkahnya menantang dunia.
Sementara itu, ribuan kilometer dari Boyolali, nama Sri Lestari bergema di arena ASEAN Para Games 2025 di Thailand. Panitia memanggilnya satu per satu. Usianya 47 tahun. Ia bertanding di atas kursi roda. Di lehernya, empat medali bergantung dua perak dan dua perunggu. Pencapaian itu tidak lahir dari pusat pelatihan mewah, melainkan dari disiplin yang tumbuh di sela hidup keras di antara pesanan es teh, peran sebagai ibu, dan rindu yang tak pernah tuntas pada suami yang telah tiada.
Medali dari Waktu yang Dicuri
Sri Lestari berangkat ke Thailand pada 15 Januari 2026. Hingga kabar prestasinya menyebar luas, ia masih berada di sana karena pertandingan belum rampung dan penutupan baru dijadwalkan pada 27 Januari. Dari arena anggar kursi roda, ia mengirim kabar singkat namun bermakna empat medali, dua dari nomor beregu dan dua dari nomor tunggal. Medali perak datang dari beregu, sementara perunggu mengukuhkan namanya di sektor individu.
Namun, angka-angka itu hanya mewakili sebagian kecil cerita. Di baliknya, Sri merebut waktu dengan susah payah. Selama tiga bulan sebelum keberangkatan, ia menjalani latihan mandiri di Wisma Sejahtera Solo. Ia tidak selalu bisa berlatih ideal. Ia tidak memiliki kemewahan jadwal penuh. Karena itu, ia memilih waktu senggang saat pesanan es teh mereda, saat anaknya telah terlelap, dan saat tubuhnya masih menyimpan sisa tenaga.
Ia sadar betul intensitas latihannya tertinggal dibanding atlet lain. Meski begitu, hidup memaksanya berdamai dengan kenyataan.
“Kalau ada pesanan, saya dahulukan,” ujarnya suatu kali. Bagi Sri, uang dari es teh bukan sekadar pemasukan.
Uang itu menjadi bekal sekolah anaknya sekaligus alasan untuk terus bertahan.
Dari Dapur ke Arena, dari Duka ke Tekad
Sri Lestari tidak tumbuh dari keluarga atlet. Sebelum dunia olahraga hadir, ia mengandalkan dapur dan lapak kecil untuk bertahan hidup di Solo. Perubahan besar datang saat ia bertemu Muhammad Ra’i atlet yang kemudian menjadi pasangan hidup sekaligus orang pertama yang meyakinkannya bahwa disabilitas bukan akhir dari mimpi.
Berbekal dukungan suami, Sri mengikuti seleksi National Paralympic Committee (NPC) pada 2010 dan berhasil lolos. Setahun berselang, ia meraih emas voli duduk tingkat ASEAN. Prestasinya berlanjut di ASEAN Para Games 2014 Myanmar serta berbagai ajang nasional lainnya.
Cabang anggar ia tekuni belakangan, pada Asian Para Games 2018, ia meraih medali perunggu. Namun, hidup kembali mengubah arah. Pada 2020-2021, suaminya meninggal dunia. Dunia terasa runtuh. Meski tawaran bertanding berdatangan, Sri memilih menolak. Saat itu, hatinya belum siap melangkah.
Duka itu tidak pernah benar-benar pergi. Sri hanya belajar menyimpannya di ruang yang lebih sunyi. Pada 2022, ia kembali ke arena—voli duduk lebih dulu, lalu anggar. Kenangan berlatih bersama suami kerap datang mendadak dan menekan dada. Kendati demikian, Sri memilih terus berjalan, bukan mundur.
“Tidak ada kata terlambat,” katanya pelan. Ia teringat candaan sang suami yang dulu menyebutnya telat menjadi atlet. Kini, ia menjawab candaan itu dengan bukti tekad tidak pernah mengenal usia.
Ibu, Atlet, dan Anak yang Tumbuh di Antaranya
Di luar arena, Sri Lestari adalah ibu dari seorang anak laki-laki. Sejak usia 2,5 tahun, anak itu telah terbiasa ditinggal ibunya untuk pemusatan latihan nasional. Saat itu, peran sang suami sangat menentukan mengurus rumah, menjaga anak, dan memberi ruang agar Sri mengejar prestasi.
Kini, anaknya duduk di kelas XII SMAN 1 Simo. Ia menyukai olahraga dan mencoba berbagai cabang, meniru semangat ibunya dengan caranya sendiri. Bagi Sri, prestasi tidak semata soal podium. Prestasi juga berarti teladan tentang menunjukkan bahwa kerja keras tidak selalu berbuah kemewahan, tetapi selalu melahirkan martabat.
Selain es teh jumbo, Sri menyesuaikan dagangannya dengan kebutuhan pasar. Saat musim durian tiba, ia ikut menjual durian. Hidupnya bergerak mengikuti permintaan, tetapi prinsipnya tetap sama ia menolak menyerah.
Boyolali dan Nama-Nama yang Berangkat Bersama
Sri tidak berangkat sendirian. Dari Boyolali, lima atlet NPCI mewakili Indonesia di ASEAN Para Games 2025 Thailand. Mereka adalah Karisma Evi Tiarani dan David Subiyantoro di para atletik, Sri Lestari dan Dwi Lestari di anggar kursi roda, serta Suci Kirana Dewi di cabang boccia. Sebelum berangkat, mereka berpamitan kepada Bupati Boyolali, Agus Irawan, pada 6 Januari 2026.
Pesannya sederhana namun berat: jaga nama daerah, jaga nama Indonesia.
Di mata orang-orang terdekat, Sri dikenal sebagai sosok gigih. Istiqomah, orang tua atlet Karisma Evi Tiarani, menyebut dunia olahraga disabilitas sering tumbuh dari ajakan sederhana dari pasangan, keluarga, dan komunitas kecil yang saling percaya.
Ketika Prestasi Tidak Lahir dari Fasilitas
Kisah Sri Lestari mencerminkan paradoks olahraga disabilitas di Indonesia. Prestasi kerap lahir dari keterbatasan, dari latihan seadanya, dan dari dukungan yang tidak selalu sistematis. Negara hadir, tetapi sering terlambat. Medali datang, tetapi kesejahteraan belum tentu mengikuti.
Meski begitu, Sri tidak menunggu sistem sempurna untuk bergerak. Ia memilih berangkat dengan apa yang ia miliki. Kursi roda menjelma sayap. Gerobak es teh berubah menjadi landasan.
Yang Tersisa Setelah Tepuk Tangan
Di Thailand, lampu arena perlahan padam. Di Boyolali, gelas-gelas plastik kembali tersusun. Hidup Sri Lestari berjalan seperti biasa namun tidak sepenuhnya sama. Empat medali itu bukan garis akhir. Medali itu menjadi penanda bahwa mimpi bisa tumbuh di tempat yang paling tak terduga.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan berapa medali yang ia raih, melainkan berapa banyak orang yang berani bermimpi setelah membaca kisahnya. Sebab, Sri Lestari mengajarkan satu hal sederhana kemenangan jarang lahir dari kemewahan, tetapi hampir selalu lahir dari keberanian untuk bertahan.
Dan di antara bunyi es yang pecah serta sorak penonton yang jauh, keberanian itu terus hidup. @dimas





