Tabooo.id: Regional – Teka-teki pembunuhan MAHM (9), putra politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Cilegon, Maman Suherman, akhirnya terkuak. Polisi memastikan HA (31) sebagai pelaku tunggal. Di balik identitasnya sebagai karyawan perusahaan ternama di Cilegon, HA menjalani kehidupan ganda sebagai pencuri rumah mewah.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten Kombes Pol Dian Setyawan menjelaskan, HA bekerja sebagai operator produksi di PT CA sejak 2019. Fakta itu terungkap setelah penyidik menangkap HA saat mencuri di rumah mantan anggota DPRD Kota Cilegon, Rois, di Lingkungan Pabuaran, Ciwedus, Jumat (2/1/2026).
“Dia karyawan aktif di perusahaan besar. Namun di luar jam kerja, dia mencuri rumah-rumah mewah,” jelas Dian di Mapolres Cilegon, Senin (5/1/2026).
Jerat Hukum Berlapis
Usai penyidikan dan gelar perkara, polisi menetapkan HA sebagai tersangka pembunuhan yang didahului pencurian dengan pemberatan. Penyidik menjerat HA dengan Pasal 458 ayat (1) dan (3) KUHP serta Pasal 80 ayat (3) juncto Pasal 76C Undang-Undang Perlindungan Anak.
“Ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun,” tegas Dian.
Tekanan Ekonomi dan Utang Kripto
Polisi menilai tekanan ekonomi menjadi pemicu utama kejahatan tersebut. HA terjerat utang ratusan juta rupiah setelah gagal berinvestasi kripto. Ia menggelontorkan modal awal Rp400 juta melalui aplikasi perdagangan kripto. Nilai investasinya sempat melonjak hingga miliaran rupiah, namun kemudian anjlok drastis dan menyisakan kerugian besar.
Untuk menutup kerugian, HA meminjam dana dari bank, koperasi, dan pinjaman online. Alih-alih pulih, kondisinya justru makin terpuruk. Di saat yang sama, ia menanggung biaya pengobatan kanker stadium tiga yang dideritanya sejak 2020.
“Tekanan ekonomi inilah yang mendorong pelaku melakukan pencurian dan berujung pembunuhan,” tambahnya.
Target Acak, Tanpa Relasi Politik
Polisi memastikan HA tidak memiliki hubungan personal maupun politik dengan keluarga korban. Ia memilih rumah sasaran secara acak, terutama rumah besar yang tampak kosong. Untuk memastikan kondisi rumah, HA menekan bel dan mengamati respons penghuni.
“Pelaku tidak mengenal orang tua korban. Tidak ada kaitan apa pun,” ujar Dian.
Kronologi Pembunuhan di BBS III
Pada 16 Desember 2025 sekitar pukul 13.17 WIB, HA mendatangi rumah Maman Suherman di Perumahan BBS III, Ciwaduk, Cilegon. Ia menekan bel empat kali, namun tidak mendapat respons. Selanjutnya, HA memanjat pagar samping pos satpam dan masuk melalui jendela yang ia congkel.
HA menuju kamar utama di lantai satu dan mencoba membuka brankas, tetapi gagal. Ia lalu naik ke lantai dua dan masuk ke kamar MAHM yang tidak terkunci. Saat itu, korban sedang bermain ponsel di atas kasur.
Pelaku menanyakan keberadaan ayah korban dan meminta MAHM diam. Ketika korban tidak mengetahui kode brankas, HA berusaha mengikatnya. Namun, MAHM melawan dan sempat menendang pelaku.
Dalam kondisi panik dan emosi, HA menusuk korban dengan pisau yang ia bawa. Setelah itu, ia kembali mencoba membuka brankas, tetapi tetap gagal. Pelaku akhirnya melarikan diri lewat jendela kamar pembantu tanpa membawa barang curian.
Bukti Forensik dan CCTV
Polisi memastikan HA sebagai pelaku tunggal berdasarkan bukti kuat. Rekaman CCTV memperlihatkan pakaian, sepatu, tas, dan sepeda motor pelaku identik dengan aksi pencurian lain. Polisi juga menyita dua bilah pisau dari tas HA saat penangkapan.
Hasil uji Puslabfor Mabes Polri menunjukkan satu pisau mengandung bercak darah yang identik dengan DNA MAHM.
“Pisau itu yang pelaku gunakan untuk menusuk korban,” ujar Kompol Irfan Rofik dari Puslabfor Mabes Polri.
Ironi Kehidupan Ganda
Kasus ini membuka ironi tajam. Seorang karyawan perusahaan besar yang tampak hidup normal justru menjalani sisi gelap sebagai pencuri dan pembunuh. Tekanan utang, ambisi finansial, dan beban penyakit mendorong satu keputusan fatal yang merenggut nyawa seorang anak.
Pada akhirnya, tragedi ini menegaskan satu pelajaran pahit kejahatan tidak selalu lahir dari kemiskinan ekstrem, tetapi sering muncul dari kegagalan mengelola tekanan hidup dan harga yang dibayar hampir selalu jauh lebih mahal daripada masalah itu sendiri. @dimas







