Tabooo.id: Life – Peluit itu memecah sore di pinggir Lapangan Klumpit, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. Anak-anak berlarian mengejar bola, debu tipis terangkat setiap kali sepatu mereka menghentak tanah. Di sisi lapangan, Bagas Chabib Kurniawan berdiri dengan tangan di pinggang. Matanya tajam mengikuti arah permainan, suaranya sesekali meninggi bukan untuk marah, melainkan mengarahkan.
“Bangun serangannya pelan-pelan,” ujarnya.
Di lapangan sederhana itu, Bagas menemukan ruang paling jujur dalam hidupnya. Sepak bola memberinya napas. Namun hidup tidak berhenti pada garis putih lapangan. Ketika peluit terakhir ditiup dan anak-anak pulang, Bagas tahu ia masih harus menjalani dua peran lain yang menunggu: sebagai guru di ruang kelas, dan sebagai pengemudi ojek online di jalanan kota.
Pagi di Ruang Kelas, Sore di Lapangan
Setiap pagi, Bagas berdiri di depan murid-murid SDN Kauman Lor 01, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Ia mengajar Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan mata pelajaran yang sering dianggap remeh, tetapi justru paling dekat dengan kehidupan anak-anak.
Status Bagas masih Wiyata Bakti, sebutan lain bagi guru honorer. Sudah dua tahun terakhir ia menjalani posisi itu. Padahal, perjalanan mengajarnya jauh lebih panjang. Ia mulai menjadi guru sejak 2011, berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain SDN Pabelan 01, SD Lebah Putih, hingga SD Islam Al-Azhar 22 Salatiga. Semua ia jalani tanpa kepastian status.
“Harapan kami ya bisa diangkat jadi PPPK,” ujarnya, Rabu sore (14/1/2026), sambil menyeka keringat setelah latihan.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan beban bertahun-tahun menunggu.
Gaji yang Tak Pernah Benar-Benar Cukup
Di balik dedikasi mengajar dan melatih, realitas ekonomi Bagas selalu mengetuk keras. Sebagai guru honorer, ia hanya menerima gaji sekitar Rp300.000 per bulan. Angka itu bahkan tidak cukup untuk menutup kebutuhan dasar, apalagi bagi seorang ayah dengan dua anak.
“Dengan gaji segitu, jelas tidak cukup,” tegasnya.
Namun Bagas tidak larut dalam keluhan. Ia memilih bergerak. Ia mencari celah agar dapur tetap mengepul, tanpa meninggalkan profesi yang ia cintai.
Lapangan sebagai Rumah Kedua
Sejak 2015, Bagas mengabdikan dirinya sebagai pelatih sepak bola usia dini. Ia pernah melatih di SSB Pandawa dan SSB SKB, sebelum akhirnya menetap di SSB POP Junior Salatiga. Selain itu, ia juga melatih ekstrakurikuler sepak bola di SMP Negeri 1.
Sore hari selalu menjadi milik lapangan. Anak-anak yang ia latih datang dengan sepatu lusuh, mimpi besar, dan semangat yang belum tercemar angka. Di mata Bagas, mereka bukan sekadar pemain. Mereka adalah harapan tentang masa depan yang mungkin lebih baik, tentang kesempatan yang tak selalu ia miliki.
Di lapangan, Bagas bukan hanya pelatih. Ia menjadi kakak, teman, bahkan figur ayah bagi sebagian anak yang tumbuh tanpa banyak arahan.
Namun ketika matahari turun dan langit Salatiga mulai menggelap, Bagas kembali berganti peran.
Jaket Hijau dan Jalanan Kota
Sejak 2019, Bagas mengenakan jaket hijau ojek online. Ia menyusuri jalanan kota, mangkal di Pasar Sapi atau sekitar Tegalsari. Ia menunggu pesanan dengan sabar kadang lama, kadang nihil.
“Kalau hujan atau badan capek, ya pulang,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Persaingan pengemudi kini semakin ketat. Penghasilan tidak lagi bisa diandalkan seperti tahun-tahun awal. Namun Bagas tetap bertahan. Jalanan menjadi ruang ketiganya setelah kelas dan lapangan.
Ia tahu, setiap kilometer yang ia tempuh adalah perpanjangan dari tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
Waktu yang Selalu Terbagi
Dengan tiga pekerjaan sekaligus, waktu bersama keluarga menjadi barang langka. Bagas hanya bisa menikmati rumah dalam hitungan jam. Selebihnya, hidupnya berpindah dari satu ruang ke ruang lain kelas, lapangan, jalanan.
“Yang penting ada doa keluarga supaya saya sehat,” jelasnya.
Bagas tidak membingkai hidupnya sebagai penderitaan. Ia memilih melihatnya sebagai proses. Mengajar di kelas, melatih di lapangan, dan menarik ojek di jalanan semuanya ia jalani dengan perasaan yang sama ikhlas.
“Yang penting halal,” pungkasnya.
Potret Sunyi di Balik Dedikasi
Kisah Bagas bukan cerita tunggal. Ia mewakili ribuan guru honorer di Indonesia yang menopang sistem pendidikan dengan penghasilan yang nyaris tak layak. Negara sering memuji dedikasi mereka, tetapi lupa memastikan kesejahteraan.
Di sisi lain, sepak bola usia dini dan pendidikan jasmani terus bergantung pada figur seperti Bagas orang-orang yang bekerja dengan cinta, bukan angka.
Paradoks itu terus berulang mereka yang membentuk masa depan, justru hidup dalam ketidakpastian.
Dari Lapangan ke Jalanan, Lagi
Langit Salatiga benar-benar gelap. Bagas membereskan bola dan rompi latihan. Anak-anak pulang satu per satu, membawa mimpi mereka masing-masing.
Bagas menarik napas, lalu melangkah pergi. Dari lapangan ke jalanan, lagi. Di rumah, keluarganya menunggu. Di kepalanya, harapan tetap hidup tentang status yang lebih pasti, tentang hidup yang sedikit lebih longgar.
Sementara itu, ia terus berjalan. Sebab bagi Bagas, bertahan hidup bukan pilihan. Ia adalah kewajiban yang harus dijalani dengan kepala tegak. @dimas




