Tabooo.id: Life – Sore itu, aroma kopi bercampur suara tawa para biker memenuhi Kopi Aspirasi di Jalan AP Pettarani, Makassar. Di antara ratusan jaket kulit dan helm yang tergeletak di sudut ruangan, seorang pria berusia 43 tahun duduk tenang. Wajahnya legam diterpa matahari, matanya menyimpan jarak ribuan kilometer. Namanya Anshar. Namun, semua orang memanggilnya Om Daeng.
Ia tidak datang membawa piala. Ia tidak pula memamerkan rekor. Yang ia bawa hanyalah cerita tentang sepeda motor, jalanan panjang, dan niat yang tidak pernah padam. Dari Indonesia menuju Mekkah. Bukan dengan pesawat. Bukan dengan bus. Melainkan dengan Yamaha Xmax yang sudah menemaninya sejak 2018.
Di hadapan ratusan biker, Om Daeng tidak banyak bergaya. Ia hanya membuka kisahnya dengan kalimat sederhana “Saya cuma pengendara biasa yang ingin sampai ke Tanah Suci dengan cara sendiri.”
Awal Perjalanan: Ketika Touring Berubah Menjadi Ibadah
Perjalanan itu bermula pada Mei 2025 dari Lumajang, Jawa Timur. Pada titik itu, touring belum terdengar sakral. Namun perlahan, setiap kilometer yang dilalui Om Daeng mengubah definisi perjalanan. Motor bukan lagi alat hobi. Jalan bukan lagi arena petualangan. Semuanya menjelma menjadi bagian dari ibadah panjang.
Ia melaju melewati Malaysia, Thailand, dan Laos. Negara-negara Asia Tenggara menyambutnya dengan cuaca lembap dan jalanan yang relatif bersahabat. Akan tetapi, tantangan sejati baru menunggu di utara. China, Kazakhstan, dan Tajikistan menghadirkan bentang alam ekstrem yang memaksa tubuh dan mentalnya bernegosiasi setiap hari.
Di sinilah touring berhenti menjadi romantis. Mesin harus dijaga, tubuh harus dipaksa bangun, dan pikiran harus tetap jernih meski bahasa tak lagi dipahami.
Melintasi Batas, Menguji Kesabaran
Saat memasuki Afghanistan dan Iran, perjalanan berubah menjadi ujian kesabaran tingkat tinggi. Bukan hanya soal keamanan, tetapi juga birokrasi yang berlapis-lapis. Setiap perbatasan menuntut dokumen, waktu, dan energi. Kesalahan kecil bisa berujung penolakan.
Om Daeng tidak melawan sistem. Ia memilih memahami. Selama hampir dua tahun sebelum berangkat, ia menyiapkan riset jalur, regulasi lintas negara, hingga aturan perbatasan yang berubah-ubah. Baginya, touring lintas benua bukan soal keberanian nekat, melainkan disiplin membaca realitas.
“Yang paling penting itu riset,” ujarnya. Kalimat itu terdengar teknis, tetapi sesungguhnya menyimpan filosofi hidup perjalanan jauh tidak bisa ditaklukkan dengan ego.
Mesin yang Sama, Manusia yang Berubah
Selama menempuh sekitar 27.000 kilometer melintasi 12 negara, Om Daeng hanya mengandalkan satu motor. Yamaha Xmax yang sama. Tidak ada ganti kendaraan. Tidak ada tim mekanik. Yang ada hanya konsistensi dan perawatan disiplin.
Namun, yang paling banyak berubah bukan mesinnya. Yang berubah justru manusianya.
Di setiap kota asing, Om Daeng belajar menahan emosi. Di setiap malam sunyi, ia belajar berdamai dengan kesepian. Ia makan seadanya, tidur sekadarnya, dan bangun dengan doa yang sama: semoga hari ini selamat.
Touring itu perlahan mengikis romantisme, lalu menyisakan esensi perjalanan adalah tentang bertahan.
Mekkah: Titik Tujuan yang Bukan Akhir
Pada November 2025, Om Daeng akhirnya tiba di Mekkah. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada konvoi. Yang ada hanyalah air mata yang jatuh diam-diam. Di hadapan Ka’bah, jarak 27.000 kilometer terasa runtuh dalam satu sujud.
Ia tidak datang sebagai pahlawan. Ia datang sebagai hamba. Semua debu jalan, rasa lelah, dan kecemasan perbatasan seolah menemukan tempat pulang.
Di momen itu, motor hanyalah saksi bisu. Yang berbicara justru niat yang sejak awal tidak goyah.
Refleksi Tabooo: Ketika Jalan Panjang Mengajarkan Rendah Hati
Kisah Om Daeng mengingatkan kita pada satu hal yang sering terlupa: perjalanan terjauh bukan soal destinasi, melainkan transformasi. Di dunia yang serba instan, ia memilih jalan lambat. Di saat banyak orang mengejar kecepatan, ia merawat ketekunan.
Touring ekstrem ini bukan tentang adrenalin semata. Ia adalah potret bagaimana iman bisa menyatu dengan mesin, bagaimana doa bisa berdampingan dengan peta, dan bagaimana kesabaran sering kali lebih penting daripada keberanian.
Om Daeng tidak menaklukkan dunia. Ia menaklukkan dirinya sendiri.
Penutup: Jalan Panjang yang Masih Terbuka
Sore itu, di Makassar, cerita Om Daeng berakhir tanpa tepuk tangan berlebihan. Para biker pulang dengan kepala penuh pikiran. Sebab, kisah ini bukan tentang meniru rute, melainkan meniru keberanian untuk setia pada niat.
Mungkin tidak semua orang harus ke Mekkah dengan motor. Namun, setiap orang punya “perjalanan panjang” masing-masing. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita cukup sabar menjalaninya, sejauh apa pun jalannya?
Karena pada akhirnya, yang sampai bukanlah yang paling cepat, tetapi yang tidak berhenti. @dimas




