Tabooo.id: Life – Langit Flores sore itu berwarna jingga lembut ketika Rifky Adyat Maulana duduk sendirian di beranda rumahnya. Di tangannya, ponsel bergetar pelan. Ia menatap layar cukup lama sebelum berani membaca hasil pengumuman seleksi Bintara Polri yang ia tunggu bertahun-tahun.
Namanya tidak ada di sana.
Angin dari arah laut berembus pelan, seolah mencoba menenangkan sesuatu yang runtuh di dalam dadanya. Sejak kecil, Ikky begitu ia biasa dipanggil membayangkan dirinya berdiri tegap dengan seragam cokelat, lambang garuda di dada, dan sepatu hitam mengilap yang memantulkan matahari Nusa Tenggara Timur. Ia ingin mengabdi, sederhana saja menjaga ketertiban, melindungi yang lemah.
Namun sore itu, mimpinya berhenti di satu titik tidak lolos.
Luka yang Tak Terlihat
Ikky tidak menempuh jalan singkat untuk sampai ke ruang seleksi itu. Ia menyiapkan diri bertahun-tahun. Ia menjaga fisik, melatih disiplin, dan menguatkan mental. Ia membayangkan panggilan tugas seperti orang lain membayangkan panggilan cinta.
Ketika pengumuman menyatakan ia gagal, ia tidak hanya kehilangan kesempatan. Ia kehilangan arah yang selama ini ia yakini.
“Jujur, waktu itu rasanya kosong, Saya sudah siapkan semuanya. Tapi ternyata bukan jalan saya.” ujarnya.
Banyak anak muda Indonesia menaruh harapan pada profesi aparatur negara tentara, polisi, pegawai negeri karena stabilitas dan prestise yang melekat padanya. Data pendaftaran setiap tahun menunjukkan ribuan pelamar bersaing untuk kursi yang terbatas. Rasio persaingan yang ketat membuat kegagalan menjadi pengalaman kolektif, tetapi rasa kecewanya selalu terasa personal.
Ikky merasakan itu sepenuhnya.
Memungut Ulang Diri Sendiri
Beberapa minggu setelah kegagalan itu, Ikky mulai menata ulang pikirannya. Ia menolak berlama-lama dalam penyesalan. Ia mengingat satu hal yang sering ia abaikan: nilai akademiknya di SMA selalu cemerlang.
Selama ini, ia memandang prestasi akademik hanya sebagai pelengkap. Fokus utamanya tetap pada tes kepolisian. Namun kegagalan memaksanya melihat kemungkinan lain.
Ia lalu memanfaatkan rekam jejak akademiknya untuk mendaftar Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Pilihannya jatuh pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Baginya, hukum tetap menjadi jalan pengabdian. Jika ia tidak bisa menegakkan aturan di lapangan, ia ingin memperjuangkannya dari ruang sidang.
Keputusan itu bukan pelarian. Ia justru melihatnya sebagai transformasi.
“Di titik itu saya sadar, mungkin Tuhan mematahkan hati saya di tes kepolisian bukan untuk menghancurkan masa depan, tapi untuk mengarahkan saya ke Fakultas Hukum UGM,” tambahnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi lahir dari pergulatan batin yang tidak ringan.
Detik yang Mengubah Arah
Hari pengumuman SNBP datang dengan ketegangan yang berbeda. Tidak ada baris-berbaris, tidak ada tes fisik. Hanya layar laptop dan koneksi internet yang kadang tidak bersahabat.
Ketika kata “Selamat” muncul di layar, Ikky terpaku. Ia membaca ulang namanya, memastikan itu bukan ilusi.
“Kesedihan saya hilang seketika, Saya merasa seperti diberi arah baru.” pungkasnya.
Ia tidak perlu tes tertulis tambahan. Sistem seleksi berbasis prestasi membawanya langsung ke salah satu fakultas hukum terbaik di Indonesia. Dari Flores, ia bersiap menuju Yogyakarta, membawa koper berisi pakaian dan hati yang perlahan pulih.
Antara Seragam dan Jas Almamater
Perjalanan Ikky menyimpan paradoks yang sering dialami generasi muda: kita tumbuh dengan satu definisi sukses, lalu hidup memaksa kita mendefinisikannya ulang.
Di banyak daerah, menjadi polisi atau tentara sering dianggap puncak kebanggaan keluarga. Seragam bukan sekadar pakaian, tetapi simbol stabilitas dan kehormatan. Ketika mimpi itu kandas, rasa gagal terasa lebih berat karena menyangkut ekspektasi sosial.
Namun Ikky memilih tidak membiarkan identitasnya runtuh bersama satu hasil seleksi. Ia memindahkan mimpinya, bukan menguburnya.
Kini, dengan jas almamater UGM di pundak, ia berjalan di koridor kampus yang jauh dari aroma barak dan lapangan latihan. Ia mempelajari pasal demi pasal, membaca teori keadilan, dan berdiskusi tentang konstitusi. Meja hijau pengadilan perlahan menggantikan bayangan lapangan apel dalam benaknya.
Ia tetap ingin mengabdi. Hanya bentuknya yang berubah.
Kegagalan yang Mengoreksi Arah
Kisah Ikky memperlihatkan sesuatu yang sering luput kita akui: kegagalan tidak selalu berarti ketidakmampuan. Kadang, ia hanya berfungsi sebagai koreksi arah.
Banyak anak muda terjebak dalam satu cita-cita tunggal, seolah hidup tidak menyediakan alternatif. Padahal, potensi manusia jarang berdiri di satu pintu saja. Ketika satu pintu tertutup, kita sering menghabiskan waktu mengetuknya lagi, tanpa menyadari ada jendela yang terbuka di samping.
Ikky beruntung karena ia berani melihat jendela itu.
Tabooo memandang kisah ini bukan sebagai dongeng motivasi klise, melainkan potret realistis tentang daya lenting anak muda. Tidak semua orang bangkit secepat Ikky. Tidak semua orang langsung menemukan jalur baru. Tetapi keberaniannya untuk memindahkan mimpi patut dicatat.
Ia tidak menyangkal kekecewaan. Ia mengakuinya, lalu melangkah.
Pengabdian yang Berubah Wajah
Seragam polisi mungkin tidak pernah datang ke lemari pakaiannya. Namun cita-cita tentang keadilan tetap hidup, hanya berganti medium.
Kelak, ia membayangkan berdiri di ruang sidang, memperjuangkan hak orang-orang yang terpinggirkan. Ia ingin memahami hukum bukan sekadar sebagai teks, tetapi sebagai alat perubahan.
Dari Flores ke Yogyakarta, dari lapangan seleksi ke ruang kuliah, perjalanan Ikky mengajarkan satu hal sederhana hidup tidak selalu memberikan apa yang kita minta, tetapi sering memberi apa yang kita butuhkan.
Sore itu, di beranda rumahnya, ia mungkin merasa segalanya berakhir. Kini, setiap kali mengenakan jas almamater, ia tahu sesuatu baru saja dimulai.
Mungkin memang benar, kegagalan bukan akhir perjuangan. Ia hanya cara hidup menata ulang rute kita.
Dan pertanyaannya untuk kita semua ketika satu mimpi runtuh, apakah kita berani membangun yang baru atau kita memilih tinggal di puing-puingnya? @dimas




