Tabooo:id: Life – Lampu kamar meredup, sementara jam dinding menunjuk pukul 01.37. Di tepi ranjang, seorang laki-laki duduk membungkuk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar pelan. Tangisnya nyaris tak bersuara, seolah malam menjadi satu-satunya saksi yang ia percaya.
“Gue capek,” bisiknya lirih.
Namun beberapa jam lagi, ia akan bangun sebelum alarm berbunyi. Ia akan menyetrika kemeja, menyeduh kopi, lalu melangkah keluar rumah dengan wajah yang sudah ia siapkan. Dunia mengenalnya sebagai sosok kuat. Sejak kecil, lingkungan menanamkan satu keyakinan tegas: laki-laki tidak boleh menangis.
Air Mata yang Kita Redam Sejak Dini
Sering kali, kita melontarkan kalimat seperti “jangan cengeng, kamu kan cowok” tanpa berpikir panjang. Padahal, ucapan itu perlahan membentuk cara anak laki-laki memahami emosinya. Sedikit demi sedikit, mereka belajar menahan sedih, menekan takut, dan menyembunyikan kecewa.
Akibatnya, banyak anak tumbuh dengan keyakinan bahwa air mata mencederai harga diri. Selain itu, masyarakat juga terus memuji ketangguhan tanpa memberi ruang aman untuk kerentanan. Orang tua mendorong anak lelaki agar kuat. Guru memuji siswa yang tahan banting. Teman sebaya menertawakan yang terlalu sensitif. Lingkaran ini berputar tanpa jeda.
Sementara itu, berbagai laporan kesehatan mental global menunjukkan bahwa laki-laki memiliki angka bunuh diri lebih tinggi dibanding perempuan. Meski demikian, mereka cenderung lebih jarang mencari bantuan profesional. Bukan karena mereka tidak merasakan tekanan, melainkan karena stigma membuat mereka takut dianggap lemah.
Di sisi lain, masyarakat memotret maskulinitas sebagai simbol pelindung, pemimpin, dan pencari nafkah. Sosok laki-laki berdiri sebagai tiang rumah yang tidak boleh retak. Akan tetapi, tiang yang terus-menerus menahan beban tanpa perawatan tetap bisa rapuh. Sayangnya, kita jarang membicarakan keretakan itu.
Paradoks Maskulinitas Modern
Masalah ini tidak berhenti pada air mata. Lebih jauh, ia menyentuh soal izin untuk menjadi manusia sepenuhnya.
Bayangkan seorang anak laki-laki yang terjatuh dari sepeda. Lututnya berdarah, matanya berkaca-kaca. Alih-alih memeluknya, orang dewasa di sekitarnya berkata, “Tahan, laki-laki harus kuat.” Sejak saat itu, ia belajar menyimpan rasa sakitnya sendiri.
Ketika remaja, ia patah hati. Akan tetapi, ia memilih bercanda agar terlihat santai. Memasuki usia dewasa, tekanan kerja datang bertubi-tubi. Namun ia tetap diam, karena takut dianggap gagal. Lama-kelamaan, ia terbiasa memendam.
Ironisnya, generasi kita gemar membicarakan self-love dan healing. Kampanye kesehatan mental berseliweran di media sosial. Namun demikian, saat seorang laki-laki menunjukkan kerentanan, sebagian orang masih mencibir. Terlalu lembut dianggap aneh. Terlalu emosional disebut drama.
Di titik inilah paradoks terasa nyata. Kita menuntut laki-laki agar tidak kasar, tetapi kita membatasi akses mereka terhadap emosi selain marah. Kita berharap mereka komunikatif, tetapi kita mengejek tangis mereka. Akhirnya, emosi yang tertekan sering mencari jalan keluar dalam bentuk ledakan.
Maskulinitas yang kaku pun berubah menjadi tekanan yang tak terlihat. Dari luar tampak kokoh, tetapi di dalam terasa sesak.
Mengganti Cara Kita Memaknai “Kuat”
Karena itu, sudah waktunya kita menggeser definisi kekuatan. Kuat bukan berarti menanggung semuanya sendirian. Sebaliknya, seseorang menunjukkan keberanian ketika ia mengakui rasa sakitnya dan mencari cara sehat untuk mengelolanya.
Menangis bukan tanda kegagalan. Tubuh manusia merespons stres dengan mekanisme yang sama, tanpa memandang gender. Jadi, air mata tidak pernah mengurangi nilai seseorang. Yang membuatnya tampak “salah” hanyalah konstruksi sosial yang kita wariskan.
Selain itu, kejujuran emosional justru memperkaya relasi. Seorang ayah yang berani meminta maaf memberi teladan tentang tanggung jawab. Seorang pasangan yang terbuka tentang kecemasannya membangun hubungan yang lebih sehat. Seorang teman yang mengakui kesedihannya menciptakan ruang empati.
Dengan kata lain, maskulinitas tidak perlu kita pahami sebagai benteng baja. Ia bisa lentur, adaptif, dan manusiawi. Setiap individu membawa kompleksitasnya sendiri. Maka, memaksakan satu standar sempit hanya akan melukai lebih banyak orang.
Memberi Ruang untuk Rapuh
Perubahan besar sering kali berawal dari momen sederhana. Seorang ayah memeluk anak laki-lakinya yang menangis dan berkata, “Tidak apa-apa sedih. Ayah juga pernah merasakannya.” Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Namun dampaknya bisa luar biasa.
Melalui validasi semacam itu, anak belajar bahwa emosi bukan ancaman. Ia memahami bahwa menangis tidak membuatnya kehilangan identitas. Sebaliknya, ia justru belajar mengenali dirinya.
Banyak pria dewasa hari ini tumbuh tanpa peta emosi yang jelas. Mereka mahir bekerja dan bertanggung jawab, tetapi sering kebingungan saat harus mengurai cemas. Oleh sebab itu, ketika seorang laki-laki akhirnya menangis, ia sebenarnya sedang mengambil langkah penting: ia berhenti menyangkal dirinya sendiri.
Kembali ke kamar pukul 01.37. Laki-laki itu menarik napas panjang. Perlahan, ia menghapus air matanya. Bukan karena malu, melainkan karena ia sudah selesai berdamai dengan perasaannya malam itu.
Besok, hidup tetap berjalan. Tantangan tidak serta-merta hilang. Namun setidaknya, ia kini memahami satu hal: kekuatan tidak selalu hadir dalam bentuk rahang yang terkatup rapat. Terkadang, kekuatan muncul justru saat seseorang berani berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja.”
Mungkin, dari keberanian kecil seperti itu, kita bisa mulai membangun definisi baru tentang laki-laki definisi yang tidak meniadakan air mata, melainkan menerimanya sebagai bagian sah dari kemanusiaan.@eko

![[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?](https://tabooo.id/wp-content/uploads/2026/04/Polling-Perempuan-Sudah-Merdeka-atau-Cuma-Terlihat-Merdeka-350x250.jpg)



