Tabooo.id: Nasional – Chery akhirnya bicara lugas Indonesia bukan cuma pasar jualan, tapi basis produksi. Pabrikan otomotif asal China itu memastikan akan membangun pusat manufaktur mandiri di Tanah Air sebagai bagian dari strategi jangka panjang mereka.
Direktur Pemasaran Chery Sales Indonesia (CSI), Budi Darmawan, menegaskan peletakan batu pertama pabrik akan dilakukan tahun ini. Meski ia belum membuka lokasi pabrik, target waktunya jelas.
“Tahun ini kami lakukan groundbreaking untuk pabrik mandiri. Yang pasti tahun ini,” kata Budi, Rabu (28/01/2026).
Dari Sekadar Merakit ke Menguasai Produksi
Selama ini, Chery masih mengandalkan pabrik rekanan Handal Indonesia Motor (HIM) untuk merakit seluruh model yang mereka jual di Indonesia. Namun, lewat pabrik mandiri, Chery mengubah arah permainan.
Lewat fasilitas baru ini, Chery akan memproduksi seluruh lini kendaraan yang mereka pasarkan di Indonesia. Mereka mencakup mobil bermesin konvensional hingga model elektrifikasi. Selain memenuhi pasar domestik, Chery juga menyiapkan pabrik ini sebagai basis ekspor.
Langkah ini memberi Chery kendali penuh atas kualitas, kapasitas, dan kecepatan produksi tiga faktor krusial di tengah persaingan merek China yang makin agresif.
Target Produksi Ambisius, Tapi Bertahap
Chery membidik kapasitas produksi hingga 100 ribu unit per tahun. Angka ini mereka sebut realistis jika melihat perkembangan pasar otomotif nasional.
Namun, Chery memilih langkah hati-hati. Mereka tidak akan langsung memacu produksi maksimal sejak awal operasional.
“Kami melihat rencana ke depan, terutama volume pasar, lalu menyesuaikan produksi,” ujar Budi.
Dengan pendekatan ini, Chery mencoba menghindari jebakan overproduksi yang sering menghantui pabrikan baru.
Indonesia Dapat Apa dari Investasi Ini?
Bagi Indonesia, pabrik ini membawa efek berlapis. Industri otomotif nasional berpotensi menyerap tenaga kerja baru, mendorong transfer teknologi, dan memperkuat rantai pasok lokal terutama untuk kendaraan listrik.
Pemerintah juga mendapat validasi. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang sebelumnya menyebut Chery akan menggelontorkan investasi Rp5,2 triliun hingga 2030. Angka itu memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi strategis di Asia Tenggara.
Tapi Tidak Semua Akan Tersenyum
Di sisi lain, langkah Chery ini memberi tekanan serius pada pabrikan lama yang belum agresif berinvestasi atau masih ragu masuk ke elektrifikasi. Persaingan harga dan teknologi bakal makin ketat.
Pabrik rekanan seperti HIM juga menghadapi potensi penurunan volume produksi. Meski kolaborasi masih mungkin berlanjut, Chery kini memegang kendali penuh atas masa depannya sendiri.
Lebih dari Pabrik, Ini Soal Posisi Tawar
Keputusan Chery membangun pabrik mandiri menunjukkan satu hal Indonesia naik kelas di mata produsen global, khususnya China.
Namun pertanyaannya tetap sama apakah Indonesia akan benar-benar memetik manfaat jangka panjang, atau sekadar jadi lokasi produksi murah?
Karena membangun pabrik itu mudah. Membangun nilai tambah nasional itu ujian sebenarnya. @teguh




