Minggu, Juni 7, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Cerita Zulfa dan Berat yang Tak Terlihat

by dimas
November 17, 2025
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi di Garut itu masih berkabut ketika langkah kecil Zulfa menyusuri jalan tanah menuju sekolah. Di pundaknya, tergantung kain lusuh yang menahan tubuh mungil adiknya Zyandra, satu tahun, wajahnya tenang dalam lelap. Di tangan kirinya, sebungkus kerupuk tergenggam erat, sementara di tangan kanan, selembar buku pelajaran yang mulai mengelupas di ujungnya.

“Zulfa, jualan lagi?” tanya salah satu temannya di gerbang madrasah.
Zulfa hanya tersenyum. “Iya, buat beli obat Adek,” jawabnya pelan.

Suara bel masuk menggema, menelan semua hiruk-pikuk. Di ruang kelas, Zulfa duduk di bangku paling belakang agar bisa menimang adiknya bila menangis, agar tidak mengganggu teman-teman lain. Dunia kecilnya tak hanya diisi rumus matematika, tapi juga rasa tanggung jawab yang terlalu besar untuk usia 13 tahun.

Anak-Anak yang Hidup Terlalu Cepat

Video tentang Zulfa pertama kali diunggah oleh akun TikTok @BangHelmiBahe. Dalam hitungan hari, tayangan itu ditonton lebih dari 13 juta kali. Komentar publik datang berhamburan antara haru, iba, dan amarah terhadap “negara yang abai.”

Namun, kisah Zulfa bukan satu-satunya. Data BPS tahun 2023 menunjukkan, lebih dari 10 juta anak di Indonesia masih hidup dalam garis kemiskinan. Sebagian dari mereka harus ikut bekerja, bahkan sebelum memahami arti kata “masa depan.”

Ini Belum Selesai

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

Moral Self-Licensing: Kebaikan yang Berubah Jadi Alasan

Di sisi lain, laporan UNICEF menyebutkan bahwa 1 dari 10 anak Indonesia hidup dalam kondisi yang membuat mereka “tidak dapat menikmati hak pendidikan secara penuh” karena faktor ekonomi, penyakit, atau tanggung jawab keluarga. Zulfa ada di persimpangan semua itu: seorang anak yang tumbuh dengan peran orang dewasa, di dunia yang menuntut kedewasaan bahkan sebelum mereka siap.

Antara Kasih dan Kekosongan

Ada paradoks dalam kisah Zulfa dan dalam banyak kisah anak miskin lainnya. Ia belajar tentang kasih sayang dari penderitaan, tentang tanggung jawab dari kekurangan. Ia menimang adiknya di sela pelajaran, menjajakan kerupuk di jam istirahat, sambil memikul mimpi yang seharusnya tak seberat itu.

Masyarakat menatap video Zulfa dengan air mata, tapi lalu melanjutkan hidupnya. Di layar, kisah seperti ini sering dianggap “inspiratif.” Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, ini bukan kisah inspirasi ini kisah ketimpangan.

Sementara sebagian anak belajar coding di tablet dan kursus bahasa asing, sebagian lain seperti Zulfa belajar cara menjaga adik dengan penyakit langka sambil menghitung sisa uang untuk membeli obat.

Sikap Redaksi Tabooo: Empati yang Tak Cukup

Kita cepat sekali terharu, tapi lambat untuk bergerak. Empati di kolom komentar sering kali berhenti di tanda hati merah dan doa digital. Padahal, Zulfa tidak butuh viralitas dia butuh sistem yang melindunginya.

Di sekolah, Zulfa dikenal sopan, berprestasi, dan jarang mengeluh. Tapi di balik ketenangan itu ada sesuatu yang lebih besar: kegagalan negara dalam memastikan masa kecil yang layak.

Kita sering menyebut anak-anak seperti Zulfa sebagai “tangguh”, tapi mungkin seharusnya kita bertanya: kenapa mereka harus setangguh itu?

Tentang Masa Depan yang Belum Sempat Bermain

Suatu siang, setelah bel pulang berbunyi, Zulfa duduk di pinggiran sekolah. Zyandra terlelap di pangkuannya, sementara di sekelilingnya teman-teman bermain kejar-kejaran.

Ada kontras yang begitu kuat di sana antara tawa masa kecil dan diam yang terlalu dewasa.

Zulfa mungkin belum tahu bahwa videonya membuat jutaan orang menangis. Tapi mungkin, jika kelak ia menontonnya sendiri, ia akan berkata lirih, “Aku hanya ingin sekolah dan menjaga Adek.”

Kita, yang menonton dari layar, seharusnya bertanya:
sampai kapan anak-anak harus menggendong dunia yang seharusnya melindungi mereka?

Tags: Kisah Nyata

Kamu Melewatkan Ini

Bukan Cuma Tarik Uang: Saat Hujan, Tukang Parkir Ini Bekerja Lebih

Bukan Cuma Tarik Uang: Saat Hujan, Tukang Parkir Ini Bekerja Lebih

by eko
April 24, 2026

Kita sering menganggap tukang parkir hanya berdiri, meniup peluit, lalu meminta uang. Tapi bagaimana jika, di saat kita berteduh dari...

Kisah Icha Ungkap Realita Emansipasi Saat Ini

Kisah Icha Ungkap Realita Emansipasi Saat Ini

by Waras
April 21, 2026

Perempuan hari ini katanya sudah bebas. Bisa kerja, mandiri, bahkan menentukan hidupnya sendiri. Tapi di balik semua itu, kenapa banyak...

Dari Tukang Kebun ke Dosen: Jalan Panjang Mbah Saring

Dari Tukang Kebun ke Dosen: Jalan Panjang Mbah Saring

by dimas
Desember 15, 2025

Tabooo.id: Life - Pagi di perpustakaan Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya selalu diawali ritme yang sama. Langkah kaki mahasiswa...

Next Post
Bukan Sekadar Glowing: Ketika Klinik Kecantikan Bicara tentang Stem Cell dan Harapan Hidup

Bukan Sekadar Glowing: Klinik Kecantikan Bicara Tentang Stem Cell dan Harapan Hidup

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id