Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Candi Plaosan: “Candi Cinta” yang Nyaris Terlupakan

by Tabooo
Mei 8, 2026
in Culture, Travel, Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Kalau bicara soal candi di Jawa Tengah, nama Borobudur dan Prambanan selalu jadi jawara. Ramai turis, penuh spanduk promosi, jadi ikon pariwisata kelas dunia. Tapi ada satu candi yang sering luput dari sorotan, padahal punya cerita lebih dalam dari sekadar keindahan arsitektur: Candi Plaosan.

Berdiri gagah di Desa Bugisan, Klaten, Plaosan bukan cuma tumpukan batu. Ia adalah saksi bisu kompromi politik, cinta beda iman, dan simbol toleransi Jawa kuno yang, ironisnya, malah jarang kita bicarakan.

Kisah Cinta Hindu–Buddha

Candi Plaosan didirikan pada abad ke-9 Masehi. Saat itu, Kerajaan Mataram Kuno sedang berada di bawah dua dinasti besar: Sanjaya (Hindu) dan Syailendra (Buddha). Alih-alih saling gempur demi kuasa, kedua dinasti ini justru disatukan oleh pernikahan Rakai Pikatan (raja Hindu) dengan Pramodhawardhani (putri Buddha).

Plaosan dipercaya jadi simbol cinta mereka. Lihat saja arsitekturnya: bangunan utama bercorak Hindu dengan atap penuh stupa Buddha. Dua tradisi besar dipadukan jadi satu monumen megah. Dari sini lahirlah sebutan populer “Candi Cinta.”

Kalau ditarik ke masa kini, pesan Plaosan terasa relevan banget. Bayangkan, 1.200 tahun lalu, pemimpin Jawa udah bisa kompromi lewat cinta lintas iman. Sementara kita sekarang? Masih gampang panas hanya karena beda pilihan politik atau keyakinan.

Ini Belum Selesai

Londo Ireng: Ketika Sejarah Menjadi Senjata Politik

Rumah Dinas Bakorwil: Sejarah Madiun yang Terlupakan

Arsitektur Romantis tapi Megah

Plaosan punya dua kompleks besar: Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Yang sering jadi sorotan adalah Plaosan Lor, dengan candi utama bertingkat, dikelilingi reruntuhan stupa kecil. Jalan masuknya lurus dan simetris, bikin siapa pun yang melangkah seakan “disambut” oleh keagungan masa lalu.

Relief-relief di dindingnya tak kalah menarik. Ada ukiran pria dan wanita, yang diyakini sebagai representasi Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani. Detail ini semakin memperkuat narasi bahwa Plaosan bukan hanya pusat ritual keagamaan, tapi juga monumen cinta yang abadi.

Karena itu, Plaosan sering jadi lokasi foto prewedding. Ironisnya, generasi sekarang lebih mengenalnya sebagai “spot romantis buat foto,” ketimbang sebagai simbol toleransi. Padahal, nilai historisnya jauh lebih dalam daripada sekadar latar Instagramable.

Toleransi yang Membisu

Beda dengan Borobudur atau Prambanan yang gegap gempita, Plaosan justru terasa sunyi. Promosi wisata minim, kunjungan turis terbatas. Padahal, dari sisi narasi, Plaosan bisa dijadikan ikon toleransi nasional. Di tengah dunia yang gampang kebakar isu agama, candi ini punya pesan keras: hidup berdampingan itu mungkin, dan pernah terjadi.

Sayangnya, kita lebih sibuk meributkan perbedaan ketimbang belajar dari batu-batu tua ini. Plaosan akhirnya terjebak jadi “candi sepi” yang hanya muncul di brosur wisata Klaten, bukan di panggung wacana nasional.

Candi Plaosan bukan cuma objek wisata, bukan juga sekadar spot estetik buat foto prewed. Ia adalah pengingat bahwa harmoni bisa lahir dari perbedaan. Di balik batu-batu senyap itu, ada kisah cinta yang menyatukan dua keyakinan besar dan mewariskan pelajaran toleransi untuk generasi setelahnya.

Masalahnya, apakah kita mau mendengar? Atau kita biarkan Plaosan terus membisu, terkubur popularitas candi-candi besar lainnya?

Hari ini, saat kita gampang terbelah hanya karena perbedaan keyakinan atau pilihan politik, Plaosan seharusnya hadir sebagai alarm. Toleransi bukan jargon. Ia pernah nyata, pernah dibangun, dan masih berdiri di Klaten.

Jadi, bagaimana menurutmu? Haruskah Plaosan kita dorong jadi ikon toleransi nasional, biar nggak terus kalah pamor dari Borobudur dan Prambanan? @tabooo

Tags: Jawa TengahKlatenLifestyleSejarah

Kamu Melewatkan Ini

AI Mempercepat Jawaban, Tetapi Bukan Pemahaman

AI Mempercepat Jawaban, Tetapi Bukan Pemahaman

by dimas
Juli 28, 2026

AI mempercepat jawaban, tetapi belum tentu menghadirkan pemahaman. Ketika makna diproduksi secara instan, manusia berisiko kehilangan kesabaran, kedalaman berpikir, dan...

Garmin Cirqa: Ketika Tubuh Menjadi Dashboard

Garmin Cirqa: Ketika Tubuh Menjadi Dashboard

by teguh
Juli 23, 2026

Suatu waktu, manusia mengenali tubuhnya tanpa bantuan teknologi. Rasa lapar mengingatkan waktu makan. Mata yang berat memberi sinyal untuk beristirahat....

Garmin Cirqa: Saat Smart Band Tak Lagi Butuh Layar

Garmin Cirqa: Saat Smart Band Tak Lagi Butuh Layar

by teguh
Juli 23, 2026

Di saat industri wearable berlomba menghadirkan layar yang lebih besar dan notifikasi yang lebih ramai, Garmin justru memilih jalan sebaliknya....

Next Post
Kenapa Harus Selalu Sulung yang Ngalah?

Kenapa Harus Selalu Sulung yang Ngalah?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id