• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Kamis, Maret 26, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Vibes

Candi Plaosan: “Candi Cinta” yang Nyaris Terlupakan

Oktober 2, 2025
in Lifestyle, Travel, Vibes
A A
Candi Plaosan: “Candi Cinta” yang Nyaris Terlupakan

Candi Plaosan (Tabooo)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Kalau bicara soal candi di Jawa Tengah, nama Borobudur dan Prambanan selalu jadi jawara. Ramai turis, penuh spanduk promosi, jadi ikon pariwisata kelas dunia. Tapi ada satu candi yang sering luput dari sorotan, padahal punya cerita lebih dalam dari sekadar keindahan arsitektur: Candi Plaosan.

Berdiri gagah di Desa Bugisan, Klaten, Plaosan bukan cuma tumpukan batu. Ia adalah saksi bisu kompromi politik, cinta beda iman, dan simbol toleransi Jawa kuno yang, ironisnya, malah jarang kita bicarakan.

Kisah Cinta Hindu–Buddha

Candi Plaosan didirikan pada abad ke-9 Masehi. Saat itu, Kerajaan Mataram Kuno sedang berada di bawah dua dinasti besar: Sanjaya (Hindu) dan Syailendra (Buddha). Alih-alih saling gempur demi kuasa, kedua dinasti ini justru disatukan oleh pernikahan Rakai Pikatan (raja Hindu) dengan Pramodhawardhani (putri Buddha).

Plaosan dipercaya jadi simbol cinta mereka. Lihat saja arsitekturnya: bangunan utama bercorak Hindu dengan atap penuh stupa Buddha. Dua tradisi besar dipadukan jadi satu monumen megah. Dari sini lahirlah sebutan populer “Candi Cinta.”

Kalau ditarik ke masa kini, pesan Plaosan terasa relevan banget. Bayangkan, 1.200 tahun lalu, pemimpin Jawa udah bisa kompromi lewat cinta lintas iman. Sementara kita sekarang? Masih gampang panas hanya karena beda pilihan politik atau keyakinan.

Arsitektur Romantis tapi Megah

Plaosan punya dua kompleks besar: Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Yang sering jadi sorotan adalah Plaosan Lor, dengan candi utama bertingkat, dikelilingi reruntuhan stupa kecil. Jalan masuknya lurus dan simetris, bikin siapa pun yang melangkah seakan “disambut” oleh keagungan masa lalu.

Relief-relief di dindingnya tak kalah menarik. Ada ukiran pria dan wanita, yang diyakini sebagai representasi Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani. Detail ini semakin memperkuat narasi bahwa Plaosan bukan hanya pusat ritual keagamaan, tapi juga monumen cinta yang abadi.

Karena itu, Plaosan sering jadi lokasi foto prewedding. Ironisnya, generasi sekarang lebih mengenalnya sebagai “spot romantis buat foto,” ketimbang sebagai simbol toleransi. Padahal, nilai historisnya jauh lebih dalam daripada sekadar latar Instagramable.

Toleransi yang Membisu

Beda dengan Borobudur atau Prambanan yang gegap gempita, Plaosan justru terasa sunyi. Promosi wisata minim, kunjungan turis terbatas. Padahal, dari sisi narasi, Plaosan bisa dijadikan ikon toleransi nasional. Di tengah dunia yang gampang kebakar isu agama, candi ini punya pesan keras: hidup berdampingan itu mungkin, dan pernah terjadi.

Sayangnya, kita lebih sibuk meributkan perbedaan ketimbang belajar dari batu-batu tua ini. Plaosan akhirnya terjebak jadi “candi sepi” yang hanya muncul di brosur wisata Klaten, bukan di panggung wacana nasional.

Candi Plaosan bukan cuma objek wisata, bukan juga sekadar spot estetik buat foto prewed. Ia adalah pengingat bahwa harmoni bisa lahir dari perbedaan. Di balik batu-batu senyap itu, ada kisah cinta yang menyatukan dua keyakinan besar dan mewariskan pelajaran toleransi untuk generasi setelahnya.

RelatedPosts

ASUS Bawa AI ke Level Baru: Zenbook S14 OLED Bisa “Mikir Sendiri” Tanpa Internet

AI Sekelas “Doktor” Masuk Saku: Gaya Hidup Baru atau Alarm Diam-Diam?

Masalahnya, apakah kita mau mendengar? Atau kita biarkan Plaosan terus membisu, terkubur popularitas candi-candi besar lainnya?

Hari ini, saat kita gampang terbelah hanya karena perbedaan keyakinan atau pilihan politik, Plaosan seharusnya hadir sebagai alarm. Toleransi bukan jargon. Ia pernah nyata, pernah dibangun, dan masih berdiri di Klaten.

Jadi, bagaimana menurutmu? Haruskah Plaosan kita dorong jadi ikon toleransi nasional, biar nggak terus kalah pamor dari Borobudur dan Prambanan? @tabooo

Tags: Candi PlaosanJawa TengahKlatenLifestyleSejarahTravelVibes
Next Post
Kenapa Harus Selalu Sulung yang Ngalah?

Kenapa Harus Selalu Sulung yang Ngalah?

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Pakoe Boewono XIV: Raja Gen Z yang Menyelamatkan Ingatan Kraton

    Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengamen Jalanan: Korban Sistem atau Pilihan yang Dipelihara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Balik Kelancaran Mudik Lebaran, Nyawa Petugas Jadi Taruhan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Joget Rp6 Juta Sehari: Program Sosial atau Ladang Cuan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.