Tabooo.id: Vibes – Kalau bicara soal candi di Jawa Tengah, nama Borobudur dan Prambanan selalu jadi jawara. Ramai turis, penuh spanduk promosi, jadi ikon pariwisata kelas dunia. Tapi ada satu candi yang sering luput dari sorotan, padahal punya cerita lebih dalam dari sekadar keindahan arsitektur: Candi Plaosan.
Berdiri gagah di Desa Bugisan, Klaten, Plaosan bukan cuma tumpukan batu. Ia adalah saksi bisu kompromi politik, cinta beda iman, dan simbol toleransi Jawa kuno yang, ironisnya, malah jarang kita bicarakan.
Kisah Cinta Hindu–Buddha
Candi Plaosan didirikan pada abad ke-9 Masehi. Saat itu, Kerajaan Mataram Kuno sedang berada di bawah dua dinasti besar: Sanjaya (Hindu) dan Syailendra (Buddha). Alih-alih saling gempur demi kuasa, kedua dinasti ini justru disatukan oleh pernikahan Rakai Pikatan (raja Hindu) dengan Pramodhawardhani (putri Buddha).
Plaosan dipercaya jadi simbol cinta mereka. Lihat saja arsitekturnya: bangunan utama bercorak Hindu dengan atap penuh stupa Buddha. Dua tradisi besar dipadukan jadi satu monumen megah. Dari sini lahirlah sebutan populer “Candi Cinta.”
Kalau ditarik ke masa kini, pesan Plaosan terasa relevan banget. Bayangkan, 1.200 tahun lalu, pemimpin Jawa udah bisa kompromi lewat cinta lintas iman. Sementara kita sekarang? Masih gampang panas hanya karena beda pilihan politik atau keyakinan.
Arsitektur Romantis tapi Megah
Plaosan punya dua kompleks besar: Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Yang sering jadi sorotan adalah Plaosan Lor, dengan candi utama bertingkat, dikelilingi reruntuhan stupa kecil. Jalan masuknya lurus dan simetris, bikin siapa pun yang melangkah seakan “disambut” oleh keagungan masa lalu.
Relief-relief di dindingnya tak kalah menarik. Ada ukiran pria dan wanita, yang diyakini sebagai representasi Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani. Detail ini semakin memperkuat narasi bahwa Plaosan bukan hanya pusat ritual keagamaan, tapi juga monumen cinta yang abadi.
Karena itu, Plaosan sering jadi lokasi foto prewedding. Ironisnya, generasi sekarang lebih mengenalnya sebagai “spot romantis buat foto,” ketimbang sebagai simbol toleransi. Padahal, nilai historisnya jauh lebih dalam daripada sekadar latar Instagramable.
Toleransi yang Membisu
Beda dengan Borobudur atau Prambanan yang gegap gempita, Plaosan justru terasa sunyi. Promosi wisata minim, kunjungan turis terbatas. Padahal, dari sisi narasi, Plaosan bisa dijadikan ikon toleransi nasional. Di tengah dunia yang gampang kebakar isu agama, candi ini punya pesan keras: hidup berdampingan itu mungkin, dan pernah terjadi.
Sayangnya, kita lebih sibuk meributkan perbedaan ketimbang belajar dari batu-batu tua ini. Plaosan akhirnya terjebak jadi “candi sepi” yang hanya muncul di brosur wisata Klaten, bukan di panggung wacana nasional.
Candi Plaosan bukan cuma objek wisata, bukan juga sekadar spot estetik buat foto prewed. Ia adalah pengingat bahwa harmoni bisa lahir dari perbedaan. Di balik batu-batu senyap itu, ada kisah cinta yang menyatukan dua keyakinan besar dan mewariskan pelajaran toleransi untuk generasi setelahnya.
Masalahnya, apakah kita mau mendengar? Atau kita biarkan Plaosan terus membisu, terkubur popularitas candi-candi besar lainnya?
Hari ini, saat kita gampang terbelah hanya karena perbedaan keyakinan atau pilihan politik, Plaosan seharusnya hadir sebagai alarm. Toleransi bukan jargon. Ia pernah nyata, pernah dibangun, dan masih berdiri di Klaten.
Jadi, bagaimana menurutmu? Haruskah Plaosan kita dorong jadi ikon toleransi nasional, biar nggak terus kalah pamor dari Borobudur dan Prambanan? @tabooo




