Warga Kemlayan kembali menggelar tirakatan 17 Agustus setelah dua tahun vakum. Biola Arif Fathoni mengiringi paduan suara anak-anak.
Tabooo.id – Warga Kemlayan, Solo, kembali menghidupkan malam tirakatan setelah dua tahun vakum. Warga RT 01 dan RT 03 RW 01 Darpoyudan berkumpul di Gang Empu Baradah pada Minggu (16/8/2026) malam.
Mereka menggelar tirakatan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Namun, acara kali ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan.
Panitia ingin mengembalikan satu hal yang mulai jarang terjadi di tengah kesibukan warga: duduk bersama dan saling menyapa.
Ketua Panitia 17 Agustus Kampung Kemlayan, Malik Prayogi Sulmi, mengatakan warga membutuhkan ruang untuk kembali mempererat hubungan.
“Ini momennya untuk merekatkan silaturahmi antarwarga yang biasanya memiliki kesibukan masing-masing,” jelas Malik.
Menurut Malik, warga menyambut baik acara tersebut. Momentum libur membuat lebih banyak warga punya waktu untuk berkumpul.
“Alhamdulillah, malam tirakatan ini menjadi ajang silaturahmi dan gotong royong warga. Yang biasanya jarang keluar rumah karena sibuk, malam ini juga datang dan berkumpul,” ungkapnya.
Dua Tahun Vakum, Warga Kembali Duduk Bersama
Selama dua tahun, warga tidak menggelar tirakatan dengan konsep seperti tahun ini. Panitia kemudian mengajak masyarakat kembali membangun tradisi tersebut.
Menariknya, panitia tidak mengejar kemeriahan lewat panggung besar. Mereka justru menempatkan warga sebagai pusat acara.
Konsep sederhana itu membuat suasana terasa lebih dekat. Anak-anak, orang tua, panitia, dan warga berkumpul dalam satu ruang.
Bagi Malik, pertemuan seperti ini punya arti penting. Kesibukan sehari-hari sering membuat warga hanya berpapasan tanpa sempat berbincang.
Malam tirakatan akhirnya menjadi alasan untuk berhenti sejenak dari rutinitas.
Biola Arif Fathoni Iringi Indonesia Raya
Panitia juga menghadirkan sesuatu yang berbeda tahun ini. Malik mengundang Arif Fathoni, violinis tunanetra asal Solo yang dikenal sebagai Indonesia Blind Violin.
Arif memainkan biola untuk mengiringi paduan suara anak-anak Kemlayan. Mereka kemudian menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama warga.
“Kami mengundang Arif Fathoni, atau lebih dikenal dengan Indonesia Blind Violin. Beliau pemain biola tunanetra dan kami kolaborasikan dengan anak-anak Kemlayan untuk mengiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya,” tutur Malik.
Kolaborasi itu memberi warna baru pada malam tirakatan. Anak-anak mendapat ruang untuk tampil. Arif menunjukkan kemampuannya melalui musik.
Sementara itu, warga menikmati momen kebangsaan dengan cara yang lebih dekat dan personal.
“Dari Kita, Untuk Kita”
Malik menjelaskan, warga ikut menopang kegiatan melalui bantuan dan swadaya. Panitia kemudian menggunakan dukungan tersebut untuk kepentingan bersama.
“Kegiatan ini dari warga. Ada yang memberi bantuan dan kita kembalikan bantuan tersebut kepada warga. Kita memakai slogan dari kita untuk kita,” terangnya.
Semangat itu menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan tidak selalu membutuhkan acara besar. Warga bisa menciptakan perayaan dari kekuatan lingkungan sendiri.
Mereka mengumpulkan dukungan, mereka berbagi peran dan mereka kemudian menikmati hasilnya bersama.
Ini bukan sekadar tirakatan 17 Agustus. Ini tentang warga yang kembali menemukan alasan untuk berkumpul.
Gotong Royong Jangan Berhenti di Tirakatan
Malik berharap kebersamaan tersebut terus berjalan setelah perayaan kemerdekaan selesai.
Ia ingin kerukunan dan gotong royong menjadi kebiasaan warga Kemlayan, bukan hanya muncul setiap Agustus.
Harapan itu terdengar sederhana. Namun, kehidupan kampung memang tumbuh dari hal-hal sederhana.
Dari sapaan tetangga, dari anak-anak yang bermain bersama dan dari warga yang mau membantu ketika tetangganya membutuhkan.
Kemerdekaan akhirnya tidak hanya hadir lewat bendera dan upacara. Di tingkat kampung, kemerdekaan juga tumbuh ketika warga masih mau duduk bersama.
Sebab, kampung bukan sekadar tempat tinggal. Kampung adalah ruang tempat orang belajar kembali menjadi tetangga.@eko








