Tabooo.id: Nasional – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengingatkan publik soal masa depan rupiah. Kali ini nadanya lebih tegas. BRIN memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan bergerak di kisaran Rp 16.678–17.098 pada 2026. Angka itu lebih lemah dibandingkan proyeksi sepanjang 2025.
Peneliti Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN, Pihri Buhaerah, menyampaikan proyeksi tersebut dalam forum Economic Outlook 2026. Ia menilai tekanan global belum memberi ruang bernapas bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Geopolitik Global Menekan Rupiah
BRIN melihat konflik geopolitik global sebagai faktor utama pelemahan rupiah. Ketegangan internasional terus memicu gejolak pasar keuangan dan mendorong investor global bermain aman.
Saat investor menghindari risiko, mereka menarik dana dari pasar negara berkembang. Aksi itu langsung menekan nilai tukar. Rupiah pun ikut terseret arus volatilitas.
“Ketika konflik global meningkat, pasar bereaksi cepat. Investor melepas aset berisiko dan rupiah ikut terdampak,” ujar Pihri.
Utang Pemerintah Jadi Sorotan Investor
Selain faktor global, BRIN juga menyoroti rasio utang pemerintah terhadap PDB yang berpotensi mendekati 40 persen pada tahun depan. Pasar keuangan global mencermati angka ini dengan serius.
Saat rasio utang naik, investor cenderung bersikap lebih waspada. Mereka menilai risiko fiskal meningkat dan mulai mengalihkan modal ke aset yang dianggap lebih aman. Kondisi ini membuka peluang capital outflow dan menekan rupiah lebih dalam.
“Jika rasio utang mendekati 40 persen dan konflik global berlanjut, tekanan terhadap nilai tukar sulit dihindari,” tegas Pihri.
Siapa Diuntungkan, Siapa Terdampak?
Rupiah yang melemah tidak berdampak sama bagi semua pihak. Eksportir justru bisa tersenyum karena produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar global. Industri berorientasi ekspor berpeluang meningkatkan pendapatan.
Sebaliknya, importir dan konsumen harus bersiap. Harga barang impor berpotensi naik, mulai dari bahan baku industri hingga produk konsumsi. Jika tekanan ini berlanjut, masyarakat bisa merasakan efeknya di harga kebutuhan sehari-hari.
Proyeksi BI dan Pemerintah Lebih Optimistis
Di sisi lain, Bank Indonesia mematok proyeksi yang lebih optimistis. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan rata-rata kurs rupiah pada 2026 berada di kisaran Rp 16.430 per dolar AS. Angka itu menjadi dasar penyusunan Rencana Anggaran Tahunan BI 2026.
Pemerintah juga mengambil posisi moderat. Melalui UU APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi kurs di level Rp 16.500 per dolar AS, lebih tinggi dibandingkan asumsi 2025 yang berada di Rp 16.000.
Perbedaan proyeksi ini menunjukkan satu pesan penting ketidakpastian masih tinggi, dan tidak ada ruang untuk lengah.
Rupiah Butuh Lebih dari Sekadar Optimisme
Proyeksi BRIN berfungsi seperti sirene peringatan. Rupiah memang belum runtuh, tetapi tekanan jelas mengintai. Stabilitas nilai tukar kini bergantung pada disiplin fiskal, kebijakan moneter yang konsisten, dan kemampuan pemerintah membaca arah global.
Pertanyaannya sederhana tapi menohok saat rupiah kembali diuji, apakah kita sudah siap beradaptasi atau masih berharap pasar akan ramah dengan sendirinya?. @teguh





