Oleh: KPA Hari Andri Winarso Wartonagoro (Sentono Dalem Kraton Surakarta & Komisaris PT Tabooo Network Indonesia)

Tabooo.id: Talk – Acara Bersua Sang Raja di Kraton Surakarta bukan sekadar agenda Idulfitri. Ini adalah pertemuan dua dunia, dunia tradisi yang sudah berusia ratusan tahun, dan dunia modern yang terbiasa dengan kebebasan.
Di satu sisi, kita melihat keterbukaan. Kraton tidak lagi se-eksklusif dulu. Siapa pun bisa datang, bersilaturahmi, bahkan melihat langsung bagaimana nilai-nilai Jawa dijalankan.
Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang sering disalahpahami, bahwa keterbukaan bukan berarti tanpa batas.
Masalahnya, Kita Terbiasa Tanpa Batas
Hari ini, banyak orang datang ke ruang publik dengan mindset yang sama: bebas, santai, tidak terlalu terikat aturan. Cafe? Bebas. Mall? Bebas. Event? Bebas. Lalu mindset itu dibawa ke kraton.
Padahal kraton bukan sekadar tempat. Ia adalah ruang nilai yang adiluhung. Di sana, cara berpakaian bukan soal gaya. Cara berjalan bukan soal santai. Cara berbicara bukan sekadar komunikasi. Semuanya punya makna dan tata krama.
Tradisi Itu Bukan Membatasi, Tapi Menyaring
Lalu muncul kritik, kalau terbuka untuk umum, kenapa masih banyak aturan?”
Pertanyaan ini menarik. Tapi mungkin yang perlu kita ubah bukan aturan, melainkan cara kita melihatnya.
Aturan di kraton bukan untuk menolak orang. Aturan ada untuk memastikan bahwa siapa pun yang masuk, masuk dengan kesadaran. Karena tidak semua orang yang datang, benar-benar siap memahami.
Silaturahmi atau Sekadar Datang?
Silaturahmi dalam budaya Jawa bukan sekadar hadir dan bersalaman. Silaturahmi adalah pertemuan batin. Ada rasa hormat, ada kesadaran posisi, ada keheningan yang berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Ketika seseorang datang ke kraton hanya untuk “lihat-lihat”, ia mungkin hadir secara fisik, tapi belum tentu hadir secara makna.
Haruskah Tradisi Berubah?
Tentu, ada argumen sebaliknya. Sebagian orang percaya bahwa tradisi harus lebih cair. Ada yang Berjaya, tradisi semestinya menyesuaikan zaman dan harus lebih inklusif.
Itu bukan argumen yang salah. Tapi pertanyaannya, kalau semua disederhanakan, apa yang tersisa dari tradisi itu sendiri?
Apakah kita ingin tradisi hidup, atau hanya ingin tradisi terlihat modern?
Relevan Tanpa Kehilangan Jati Diri
Sebagai Sentono Dalem Kraton Surakarta dan sekaligus seorang insan media, saya melihat kraton hari ini sedang berada di titik yang tidak mudah. Di satu sisi, kraton harus membuka diri agar tetap relevan. Di sisi lain, ia tidak boleh kehilangan jati diri. Dan publik juga sesungguhnya punya tanggung jawab yang sama, belajar masuk, bukan sekadar datang.
“Bersua Sang Raja” seharusnya bukan hanya soal bisa bertemu raja. Tapi tentang bagaimana kita belajar bertemu dengan nilai, yang mungkin sudah lama kita tinggalkan. Lalu pertanyaannya, ketika kamu datang ke kraton, kamu ingin melihat tradisi… atau siap menjadi bagian dari cara tradisi itu hidup? @tabooo



