Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Berdoa Bersama, Yang Sulit Menjaga Persaudaraan Setelah Semua Pulang.

by teguh
Agustus 1, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Seratus ribu orang akan berkumpul di Monumen Nasional Untuk berdoa bersama. Mereka akan menundukkan kepala, melangitkan doa, lalu mengamini harapan yang sama. Indonesia tetap damai, rukun, dan bersatu. Tapi Setelah selesai berdoa apakah bisa menjaga persaudaraan dari apa yang mereka doakan.

Tabooo.id – Namun pertanyaan paling penting justru muncul ketika panggung dibongkar dan seluruh peserta Berdoa bersama kembali ke rumah. Apakah doa itu ikut hidup dalam cara kita memperlakukan sesama? Atau ia hanya berhenti sebagai seremoni yang indah untuk dikenang. Indonesia tidak pernah kekurangan doa. Yang sering habis justru keberanian menjaga persaudaraan dan nilai-nilai yang didoakan.

Ketika Doa Menjadi Bahasa Bersama Bangsa

Kementerian Agama akan menggelar Doa dan Zikir Kebangsaan sebagai salah satu rangkaian Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8/2026).

Panitia memperkirakan sekitar 100.000 peserta akan menghadiri kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, santri, mahasiswa, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, hingga aparatur sipil negara lintas kementerian dan lembaga.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin menegaskan bahwa doa bersama menjadi ungkapan syukur sekaligus ikhtiar menjaga perjalanan bangsa.

“81 tahun membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang terus bergerak dan tetap berdiri kuat. Doa dan zikir kebangsaan ini sebagai rasa syukur kita, sekaligus memohon perlindungan untuk terus melangkah bersama mengisi kemerdekaan ini,” ujar Kamaruddin Amin dalam keterangan pers, 28/07/2026.

Menurutnya, setiap langkah menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur harus selalu disertai doa.

Ini Belum Selesai

AMPB Tinggalkan DPR, Mengapa Warga Pati Memilih Mengalah?

Apa Itu Masyarakat Prismatik dan Mengapa Masih Relevan?

Panitia juga menghadirkan doa lintas agama, paduan suara, serta pembacaan selawat yang dipimpin Habib Syekh. Seluruh rangkaian itu ingin menunjukkan bahwa keberagaman tetap menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa.

Ketua Panitia sekaligus Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad menilai kegiatan tersebut merepresentasikan wajah Indonesia yang sesungguhnya.

“Momentum ini menghadirkan wajah Indonesia yang sesungguhnya. Berbeda keyakinan dan tradisi, tetapi dipersatukan oleh kecintaan yang sama kepada bangsa dan negara,” ujar Abu Rokhmad, 28/07/2026.

Namun ia mengingatkan bahwa doa tidak boleh berhenti sebagai ritual.

“Doa harus menumbuhkan harapan, dan harapan harus diwujudkan melalui tindakan. Dari menjaga persaudaraan, membantu sesama, hingga menjalankan tanggung jawab masing-masing dengan sebaik-baiknya.”

Kalimat terakhir itu justru menjadi pesan paling penting dari seluruh acara. Karena sesungguhnya, ujian persatuan baru dimulai setelah doa selesai dipanjatkan.

Indonesia Tidak Pernah Kekurangan Doa

Bangsa ini termasuk salah satu masyarakat paling religius di dunia. Doa mengawali sidang DPR dan rapat pemerintahan hampir selalu dibuka dengan doa.

Ketika bencana datang, masyarakat kembali menengadahkan tangan memohon pertolongan Tuhan. Pelantikan pejabat negara pun hampir selalu diawali dengan doa bersama.

Masalahnya bukan terletak pada jumlah doa dan berdoa apa yang dipanjatkan. Masalahnya muncul ketika para pengambil kebijakan justru mengabaikan nilai yang sama saat mereka membuat keputusan publik.

Ironisnya, bangsa yang paling sering berbicara tentang persaudaraan masih berulang kali menghadapi intoleransi, diskriminasi, polarisasi politik, hingga konflik sosial yang terus berganti wajah.

Doa mampu mempertemukan ribuan orang dalam satu lapangan. Namun tindakan kitalah yang menentukan apakah persaudaraan mampu bertahan setelah keramaian berakhir.

Persatuan Tidak Bisa Hidup dari Seremoni

Sosiolog Universitas Indonesia Prof. Dr. Imam B. Prasodjo dalam berbagai diskusi mengenai modal sosial sepanjang 2024–2025 menegaskan bahwa kepercayaan sosial atau social trust merupakan fondasi utama kehidupan bersama. Menurutnya, simbol kebangsaan memang penting, tetapi masyarakat hanya dapat membangun kohesi jika negara menghadirkan keadilan dan memperlakukan seluruh warga secara setara.

Pandangan serupa berulang kali disampaikan almarhum Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam berbagai tulisan dan ceramahnya mengenai Islam, demokrasi, dan kebangsaan sebelum wafat pada 2022. Ia menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar slogan atau seremoni, melainkan budaya yang harus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya, doa memang membuka pintu persaudaraan. Tetapi tindakan manusialah yang menjaganya tetap terbuka.

Yang Tidak Ikut Pulang Bersama Doa

Bangsa ini sedang menghadapi sebuah paradoks dimana banyak acara mengangkat tema persatuan. Namun masyarakat justru semakin mudah terbelah oleh identitas politik maupun agama.

Deklarasi kerukunan terus bermunculan. Di sisi lain, polarisasi masih memenuhi ruang media sosial dengan ujaran kebencian dan saling curiga.

Kita semakin sering mengucapkan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi sebagian orang masih mudah membelah sesama menjadi “kami” dan “mereka”.

Mengapa semua itu terjadi? Karena persatuan bukan hanya persoalan spiritual tapi persatuan juga bergantung pada kualitas hukum.

Ia bergantung pada pemerataan ekonomiIa membutuhkan pendidikan yang menanamkan empati.

Ia memerlukan kebijakan yang melindungi seluruh warga tanpa membedakan identitas. Doa memang mampu mempertemukan semua agama dalam satu panggung.

Namun hanya kebijakan yang adil yang mampu membuat semua warga merasa memiliki panggung yang sama dalam kehidupan berbangsa.

Persatuan Tidak Bisa Dibangun Sekali Setahun

Perayaan kemerdekaan selalu menghadirkan semangat kebersamaan.

Namun sejarah memperlihatkan bahwa konflik horizontal justru sering muncul bukan ketika bangsa sedang memperingati hari besar, melainkan ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, kontestasi politik, atau penyebaran informasi yang memecah belah.

Artinya, ancaman terhadap persatuan tidak lahir karena masyarakat berhenti berdoa. Ancaman itu muncul ketika ruang publik kehilangan rasa saling percaya.

Di era digital, polarisasi bahkan berkembang jauh lebih cepat daripada proses rekonsiliasi. Satu unggahan provokatif dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan jam.

Sebaliknya, membangun kembali kepercayaan sering membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Perspektif Kebijakan Publik

Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Indonesia Prof. Dr. Eko Prasojo dalam berbagai forum reformasi birokrasi sepanjang 2024–2025 menekankan bahwa keberhasilan negara tidak cukup diukur melalui simbol kebangsaan. Pemerintah harus menghadirkan pelayanan publik yang adil, transparan, dan mampu membangun kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa doa merupakan fondasi moral. Namun birokrasi yang adil menjadi bukti apakah nilai moral itu benar-benar diterapkan.

Perspektif Hukum

Pakar hukum tata negara Prof. Mahfud MD dalam sejumlah kuliah umum sepanjang 2024–2025 berulang kali menegaskan bahwa hukum harus menjadi perekat bangsa. Penegakan hukum yang konsisten akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus mencegah masyarakat menyelesaikan konflik melalui cara-cara yang merusak persaudaraan.

Dengan kata lain, menjaga kerukunan bukan hanya tugas tokoh agama.

Hakim memegang peran penting, Polisi memiliki tanggung jawab yang sama, Guru membentuk karakter generasi muda, Birokrat menentukan kualitas pelayanan negara.

Media memengaruhi cara masyarakat memahami perbedaan. Seluruh warga negara ikut menentukan wajah Indonesia melalui tindakan sehari-hari.

Yang Tidak Ikut Pulang Bersama Doa

Bagi masyarakat biasa, persatuan bukan konsep abstrak. Persatuan terasa saat tetangga yang berbeda agama tetap saling menjaga rumah ketika salah satunya mudik.

Anak-anak dapat bersekolah tanpa takut karena identitasnya. Media sosial berubah menjadi ruang dialog, bukan arena saling menghina.

Negara menyalurkan bantuan kepada siapa pun tanpa membedakan pilihan politik.

Aparat penegak hukum memperlakukan seluruh warga secara setara tanpa melihat agama maupun latar belakangnya.

Di titik itulah doa benar-benar menemukan maknanya jadi bukan di atas panggung. Melainkan di jalanan, di sekolah, di kantor pelayanan publik, di ruang keluarga, dan di setiap perjumpaan antar manusia kita harus menjaga persaudraan.

Ini bukan sekadar doa lintas agama. tapi ini adalah cermin tentang seberapa jauh bangsa ini mampu menerjemahkan nilai spiritual menjadi tindakan sosial.

Setelah Doa Selesai, Siapa yang Menjaga Indonesia?

Sejarah tidak pernah mencatat sebuah bangsa menjadi besar hanya karena rajin berdoa.

Sejarah selalu mengingat bangsa yang berhasil mengubah doa menjadi keberanian, keberanian menjadi keadilan, dan keadilan menjadi budaya hidup bersama.

Indonesia tidak perlu mengajarkan rakyatnya untuk berdoa. Bangsa ini mengajarkan persaudaraan dan itu dilakukan sudah sejak lama.

Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap doa melahirkan keberanian untuk menghormati perbedaan, menjaga keadilan, dan merawat persaudaraan setelah semua orang pulang. @teguh

Tags: Bhinneka Tunggal IkaDoa KebangsaanHUT 81 RIIndonesiaIndonesia BersatuKerukunanPersaudaraanRefleksi KemerdekaanToleransi

Kamu Melewatkan Ini

Indonesia Mau Upacara Bendera, Tapi Benderanya Belum Ada

Indonesia Mau Upacara Bendera, Tapi Benderanya Belum Ada

by teguh
Agustus 18, 2026

Setiap tahun Indonesia mau upacara bendera dan Pasukan bersiap, Protokol bekerja. Pemerintah menata kebutuhan untuk 17 Agustus. Kemudian muncul satu...

Setelah Pesta Agustus Usai, Siapa yang Benar-Benar Merdeka?

Setelah Pesta Agustus Usai, Siapa yang Benar-Benar Merdeka?

by dimas
Agustus 11, 2026

Setelah pesta Agustus usai, makna kemerdekaan kembali diuji apakah rakyat benar-benar berdaya, atau kemerdekaan hanya berhenti pada seremoni? Tabooo.id -...

Transaksi QRIS Bikin Transparan, Tapi Justru Bikin Takut, Ironis Kan?

Transaksi QRIS Bikin Transparan, Tapi Justru Bikin Takut, Ironis Kan?

by teguh
Agustus 3, 2026

Pemerintah terus mengajak masyarakat bertransaksi digital. Transaksi QRIS hadir sebagai simbol ekonomi modern yang cepat, praktis, dan transparan. Hampir setiap...

Next Post
Pagar-Pagar Dibangun Tinggi, Apa yang Sedang Diantisipasi?

Pagar-Pagar Dibangun Tinggi, Apa yang Sedang Diantisipasi?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id