Tabooo.id: Edge – Bayangin beli gas 3 kg bukan cuma bawa tabung kosong.
Kini, prosesnya bisa berubah harus scan sidik jari, bahkan retina mata.
Sekilas terlihat modern.
Namun, pertanyaannya sederhana kita sudah siap belum?
Solusi di atas kertas
Usulan datang dari Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah. Ia mendorong penggunaan sistem biometrik untuk pembelian LPG subsidi agar lebih tepat sasaran.
Dengan mekanisme ini, hanya orang yang terdaftar yang bisa membeli.
Artinya, celah “pinjam identitas” bisa ditekan.
Di sisi lain, praktisi migas Hadi Ismoyo menilai langkah ini layak diuji coba.
“Menurut saya, cukup efektif untuk diuji coba dalam koordinat tertentu. Makin cepat makin bagus,” ujarnya.
Secara teknologi, Indonesia dinilai mampu.
Namun demikian, kesiapan teknis bukan satu-satunya masalah.
Saat negara masuk ke tubuh
Lebih dari sekadar kebijakan energi, ini menyentuh wilayah yang lebih personal.
Identitas tubuh sidik jari dan retina mulai jadi “akses” kebutuhan dasar.
Di titik ini, muncul dilema baru.
Apakah sistemnya benar-benar siap, atau hanya terlihat siap di atas kertas?
Realita lapangan nggak sesimpel itu
Menurut ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, biometrik hanya berfungsi sebagai verifikasi identitas.
Sayangnya, fungsi itu tidak otomatis memperbaiki distribusi.
Akibatnya, jika rantai distribusi masih bermasalah, kebocoran tetap bisa terjadi.
Selain itu, tantangan infrastruktur juga tidak kecil.
Di banyak daerah, listrik belum stabil dan internet sering terputus.
Ketika satu alat bermasalah, antrean bisa langsung mengular.
Bahkan, jika server melambat, proses pembelian bisa tersendat total.
Dari solusi ke potensi masalah
Di satu sisi, tujuan kebijakan ini jelas: menutup celah subsidi.
Namun di sisi lain, risiko baru ikut muncul.
“Jika tidak ada prosedur cadangan yang cepat, ini bisa memicu friksi sosial,” kata Syafruddin.
Misalnya, saat sidik jari gagal terbaca, apakah warga tetap bisa membeli?
Lalu, ketika sistem error, apakah transaksi harus berhenti?
Belum lagi soal antrean panjang.
Siapa yang menanggung waktu dan biaya tambahan?
Yang kena, kamu juga
Dampaknya tidak berhenti di kebijakan.
Justru, efeknya langsung terasa di level paling dekat kehidupan sehari-hari.
Tanpa kesiapan matang, pembelian gas bisa jadi lebih lama.
Selain itu, biaya waktu ikut meningkat.
Pada akhirnya, akses yang seharusnya mudah justru terasa makin jauh.
Ironisnya, sistem yang dirancang membantu malah berpotensi menyulitkan.
Masalahnya bukan teknologi
Sebenarnya, ide ini tidak keliru.
Bahkan, dalam konteks tertentu, langkah ini memang diperlukan.
Namun, akar masalahnya bukan di teknologi.
Melainkan di fondasi sistem yang belum sepenuhnya rapi.
Selama distribusi masih bocor dan data belum solid, teknologi hanya jadi pelengkap mahal.
Alih-alih menyelesaikan masalah, ia bisa menutupinya sementara.
Dan, pola seperti ini bukan hal baru.
Ujungnya siapa yang repot?
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan soal bisa atau tidak.
Melainkan soal siap atau belum.
Jika sistem belum matang, dampaknya akan terasa lebih dulu di masyarakat kecil.
Mereka yang hanya ingin membeli satu tabung gas tanpa hambatan.
Jadi, ketika teknologi diterapkan terlalu cepat, satu hal perlu diingat yang paling dulu merasakan bukan sistem tapi manusia. @dimas







