Tabooo.id: Life – Pendopo SLB Negeri Sragen siang itu tidak hanya menampung kursi dan kain. Ruang itu juga memelihara sesuatu yang lebih sulit dijahit: harapan. Di bawah cahaya matahari Desember yang jatuh lembut dari sela-sela tiang pendopo, beberapa siswi melangkah pelan menuju panggung kecil. Mereka mengenakan hijab bermotif parang namun bukan parang yang lazim kita jumpai di museum atau etalase toko batik. Parang itu membawa gading. Gading yang bercerita. Gading yang berbicara tentang kesempatan.
Pada hari itu, batik tidak sekadar hadir sebagai kain. Ia berubah menjadi bahasa.
Motif yang para siswi kenakan bernama Batik Parang Gading Sragen, sebuah karya mahasiswa Program Studi Desain Mode Batik FSRD ISI Surakarta dalam Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Proyek Kemanusiaan. Melalui program ini, kampus, sekolah luar biasa, sejarah lokal, dan industri kreatif bertemu dalam satu garis pola yang saling menguatkan.

Di balik motif tersebut, mahasiswa menyisipkan fosil gading gajah purba dari Sangiran sebagai penanda sejarah Sragen. Sementara itu, mereka juga memasukkan vokal A, I, U, E, O bahasa isyarat yang selama ini jarang mendapat ruang di ruang publik. Seluruh unsur itu menyatu dalam desain yang sederhana, berulang, dan mudah diikuti. Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatannya. Di sanalah keberanian itu tumbuh.
Belajar dari yang Sering Tak Dilihat
Indonesia kerap membanggakan diri sebagai negeri batik. Namun, di balik kebanggaan itu, kita sering melewatkan satu kelompok: penyandang disabilitas. Akses pendidikan seni bagi mereka masih terbatas. Proses belajar kerap berhenti di kerajinan dasar dan jarang menyentuh tahapan kreatif yang utuh mulai dari ide, desain, hingga produk bernilai jual.
SLB Negeri Sragen menjadi salah satu ruang tempat kesenjangan itu tampak jelas. Para siswa memiliki potensi, tetapi sekolah belum memiliki cukup bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Motif batik konvensional terasa terlalu rumit. Garis-garisnya kompleks. Filosofinya panjang. Akibatnya, tidak semua siswa dapat mengaksesnya dengan mudah.
Pada titik inilah mahasiswa MBKM hadir. Mereka tidak datang sebagai “penolong”, melainkan sebagai rekan belajar. Alih-alih membawa motif jadi, mereka membawa proses. Mereka mengamati kelas, berdialog dengan guru dan siswa, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Dari proses itulah mereka menyederhanakan motif tanpa menghilangkan maknanya.
Dari kesadaran itu, Parang Gading Sragen lahir. Motif ini menegaskan satu hal: kesetaraan bukan soal menyamakan hasil, melainkan menyesuaikan jalan.
Motif sebagai Metode
Alih-alih memaksakan kerumitan, mahasiswa memecah motif menjadi bagian-bagian kecil. Mereka menyederhanakan garis geometris dan melapangkan ritme parang. Gading tidak mereka tampilkan sebagai pusat perhatian, tetapi mereka leburkan ke dalam pola. Sementara itu, vokal A, I, U, E, O hadir sebagai simbol komunikasi pengingat bahwa suara tidak selalu berupa bunyi.
Selanjutnya, guru dan mahasiswa menggunakan motif ini sebagai bahan ajar menggambar batik bagi siswa jurusan batik SLB Negeri Sragen. Anak-anak belajar mengeblat motif, menarik garis, dan memahami pengulangan pola. Mereka tidak hanya meniru bentuk, tetapi juga mulai mengenali struktur.
“Motif ini memudahkan anak-anak dalam menggambar, Karena itu, mereka menjadi lebih percaya diri saat mengikuti pelajaran.” ujar Suhanto, guru jurusan batik SLB Negeri Sragen.
Kepercayaan diri, pada akhirnya, sering kali menjadi hal pertama yang hilang sebelum kesempatan benar-benar datang.
Dari Kelas ke Industri
Menariknya, proyek ini tidak berhenti di ruang kelas. Mahasiswa kemudian menerapkan motif Parang Gading Sragen ke produk hijab kekinian. Mereka menggunakan teknik canting dengan malam batik dan memadukannya dengan pewarnaan naptol. Dengan cara ini, batik tetap mempertahankan ruh tradisinya, sekaligus tampil relevan dengan selera masa kini.
Di titik ini, proyek tersebut menyampaikan pesan yang lebih luas. Karya siswa SLB dan mahasiswa tidak harus berakhir di dinding sekolah. Sebaliknya, karya itu bisa masuk pasar, dipakai masyarakat, dan memiliki nilai ekonomi.
“Motif ini bukan sekadar kenang-kenangan, Di dalamnya tersimpan cerita dan sejarah.” ujar Danang Priyanto, dosen pembimbing lapangan.
Cerita tentang Sragen. Tentang Sangiran. Dan tentang anak-anak yang selama ini jarang mendapat panggung.
Paradoks Inklusi
Di atas kertas, inklusivitas terdengar indah. Namun, di lapangan, praktiknya sering berhadapan dengan paradoks. Kita berbicara tentang kesempatan yang sama, tetapi melupakan bahwa titik awal setiap orang berbeda. Kita menggaungkan industri kreatif yang inklusif, tetapi jarang melibatkan mereka yang dianggap “belum siap”.
Melalui proyek MBKM ini, mahasiswa justru membuktikan hal sebaliknya. Kesiapan bisa dibentuk. Keterbatasan bukan penghalang kreativitas, melainkan undangan untuk berpikir ulang.
Batik Parang Gading Sragen tidak lahir dari ambisi besar. Ia tumbuh dari empati kecil yang dijalankan secara konsisten.
Panggung yang Mengubah Cara Pandang
Puncak perjalanan ini terjadi saat sekolah menggelar pameran karya. Dalam acara tersebut, siswi SLB Negeri Sragen tampil sebagai model fashion hijab. Mereka berjalan pelan di atas panggung, sebagian dengan senyum ragu, sebagian dengan tatapan mantap. Tepuk tangan pun memenuhi pendopo.
Pada momen itu, peran pun berbalik. Mereka yang biasanya menjadi objek pendidikan kini berdiri sebagai subjek apresiasi. Mereka tidak lagi sekadar “dibantu”, melainkan dirayakan.
Mungkin, di situlah esensi paling jujur dari pendidikan inklusif hadir: ketika semua orang berdiri sejajar, meski menempuh jalan yang berbeda.
Lebih dari Sekadar Motif
Parang Gading Sragen mengajarkan satu pelajaran penting: desain bukan hanya soal bentuk, tetapi juga sikap. Ia bisa menjadi alat eksklusi, atau sebaliknya, menjadi jembatan kesetaraan.
Di tangan mahasiswa MBKM dan siswa SLB Negeri Sragen, batik kembali ke akar paling dasarnya sebagai cerita tentang manusia. Tentang siapa yang kita libatkan, dan siapa yang selama ini kita biarkan di luar bingkai.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah karya mereka layak dilihat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa lagi yang akan kita undang masuk ke dalam cerita?
Sebab, mungkin, masa depan batik dan pendidikan tidak ditentukan oleh siapa yang paling sempurna, melainkan oleh siapa yang paling berani membuka ruang. @Reksa Prasetya




