Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih kamu merasa hidup di Indonesia itu kayak ikut reality show tanpa pernah daftar? Baru dua hari kita sibuk memantau banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar eh, timeline tiba-tiba kasih plot twist: muncul tabel bantuan bencana dengan angka yang bikin alis naik sampai plafon. Totalnya Rp73,5 miliar. Angkanya lengkap. Rinciannya rapi. Tapi begitu publik ngulik harga berasnya, semua langsung merinding: “Ini kita yang salah baca? Atau Excel-nya yang salah didik?”
Dan di situlah drama mulai bergulir.
“Menangis, tapi nggak tahu kenapa” – Versi Ivanka Slank
Unggahan itu langsung bikin dunia maya gaduh. Ivanka Slank jadi salah satu yang paling lantang. Ia menulis:
“Menangis, tapi nggak tau kenapa… Semoga ini hoaks.”
Kita semua berharap hal yang sama. Karena kalau ini bukan hoaks, artinya kita sedang bicara soal beras bantuan seharga Rp60 ribu per liter.
Iya, per liter.
Coba bayangin: harga segitu bikin 15 kilogram beras tembus hampir sejuta. Ivanka bukan pedagang, bukan auditor, bukan ahli pengadaan. Tapi logika sederhana ditambah kalkulator HP udah cukup buat siapa pun sadar ada angka yang meleset dari jalur.
Publik pun langsung ikut turun tangan.
Ada yang membandingkan harganya dengan minimarket.
Ada yang menyeret nama tengkulak kampung.
Ada yang nyeletuk sinis, “6,8 juta per dus bantuan ‘lainnya’? PS5 isinya?”
Kalau kamu pernah lihat netizen Indonesia berubah jadi auditor dadakan, hari itu adalah puncaknya.
Ketika Pengadaan Darurat Jadi Sumber Kecurigaan
Kecurigaan publik nggak muncul dari angka semata, tapi dari pengalaman panjang menghadapi pola berulang. Kita semua tahu rumus klasiknya, ada bencana ada pengadaan ada pengadaan, ada darurat, ada darurat, ada celah dan kalau ada celah yah, kamu tahu siapa yang suka numpang lewat.
Bantuan bencana harusnya cepat, tepat, dan transparan.
Sayangnya, dua yang pertama sering jalan, yang terakhir kadang ikut hanyut bareng banjir.
Makanya publik bertanya:
– Kenapa harga beras bisa naik kasta jadi barang mewah?
– Kenapa satuannya tertulis liter, bukan kilogram?
– Siapa yang menyusun data itu?
– Dan kenapa selalu muncul saat warga sedang paling rapuh?
Ini bukan cuma tentang angka.
Ini tentang empati yang tercoreng.
Bayangkan kamu kehilangan rumah, tidur di posko, makan seadanya lalu mendengar kabar bahwa bantuan yang harusnya menguatkan malah bikin publik naik darah. Luka yang satu belum kering, datang luka lain bernama ketidakpercayaan.
Perspektif Lain: Bisa Salah Data, Bisa Salah Tulis, Bisa Salah Upload
Tapi demi adilnya debat kafe kita, mari dengar sisi lainnya.
Setelah semalaman riuh, Kementerian Pertanian akhirnya buka suara dan mengaku ada salah penulisan satuan. Harusnya bantuan dihitung per paket 5 kilogram, bukan per liter.
Mereka juga menjelaskan bahwa bantuan berasal dari mitra, bukan anggaran pemerintah. Bahkan jumlah bantuannya disebut sudah naik menjadi 4.200 ton.
Dan di sinilah pengulangan yang benar bekerja:
Bisa jadi memang benar.
Bisa jadi dokumen awal cuma draft.
Bisa jadi file-nya salah unggah.
Bisa jadi datanya keluar sebelum finalisasi.
Kita tahu betapa mudahnya file bocor, data typo, atau screenshot melesat sebelum waktunya.
Kementerian berhak klarifikasi tapi publik juga punya hak untuk curiga.
Kenapa?
Karena pola seperti ini sudah sering lewat timeline kita.
Markup, manipulasi satuan, permainan anggaran rekam jejaknya panjang.
Jadi wajar kalau publik refleks membunyikan sirine begitu melihat angka janggal.
Sikap Tabooo: Nyinyir Iya, Tapi Tetap Logis
Sebagai media yang hobi bicara blak-blakan tapi tetap pakai hati, Tabooo cuma mau bilang satu hal:
Klarifikasi boleh, tapi kepercayaan nggak pulih hanya dari satu unggahan Instagram.
Publik bukan cari drama.
Publik cuma minta transparansi.
Ketika hidup sedang sulit, bantuan harusnya jadi pegangan, bukan teka-teki silang.
Empati dan keterbukaan itu satu paket jangan dipisah saat banjir datang.
Penutup: Jadi, Kamu di Kubu Mana?
Setelah membaca semua ini, kamu ada di mana?
Kubu A:
“Ya sudahlah, salah tulis itu masih manusiawi.”
Kubu B:
“Hmm… kayaknya gue pernah nonton episode kayak gini sebelumnya.”
Kubu C:
“Yang penting bantuannya cepat nyampe. Urusan belakang layar? Silakan mereka beresin.”
Apa pun kubumu, satu hal yang harus tetap kita jaga:
di negara yang sering kebanjiran masalah, kita harus tetap kering di satu hal akal sehat.
Sekarang giliran kamu jawab: kamu di kubu mana? (red)




