Tabooo.id: Vibes – Beberapa hari terakhir linimasa kembali dipenuhi rekaman banjir dari Aceh dan Tapanuli. Rumah-rumah ambruk, jalan menghilang, dan gelondongan kayu melaju deras seperti makhluk besar yang meloloskan diri dari hutan. Kita menyaksikannya melalui layar ponsel sambil menurunkan volume atau menggulir ke kabar lain. Meski begitu, ada rasa yang terasa akrab. Bukan hanya karena bencananya, melainkan pola yang terus mengulang.
Banjir ini terdengar seperti lagu lama yang diputar ulang dengan suara lebih nyaring. Tahun berganti, namun alurnya tetap sama. Sejarah sebenarnya sudah memberi banyak sinyal, seolah ingin mengatakan bahwa air tidak pernah bergerak tanpa membawa pesan.
Jejak Air dalam Sejarah Panjang
Membuka arsip lama seperti membuka pintu ke kisah yang terus diperbarui. Tahun 1953, laporan Belanda mencatat 82 korban jiwa setelah desa di lereng Seulawah Agam tenggelam. Hujan turun selama dua hari dan cukup untuk meruntuhkan Kotaraja. Tanggul jebol, listrik padam, dan jaringan pos berhenti beroperasi. Rel kereta pun ikut tenggelam. Kerugian yang hanya belasan ribu rupiah saat itu setara dengan hilangnya sebuah kota kecil.
Sebelumnya pemerintah sudah mengingatkan soal penebangan hutan di sekitar Kotaraja, namun peringatan itu tenggelam oleh rutinitas sehari-hari. Pos Indonesia kemudian merilis prangko bertema banjir sebagai penanda luka yang ingin mereka abadikan.
Menggeser waktu lebih jauh, riwayat banjir semakin panjang. Pada 1917, Tapanuli dihantam banjir besar yang disebut paling parah pada masa itu. Pembalakan liar meningkat dan memperburuk keadaan. Dua tahun sebelumnya Tanah Batu tenggelam. Aceh juga kembali porak-poranda pada 1917 setelah jembatan, sawah, dan kebun lada musnah terbawa arus. Tahun berikutnya wilayah lain ikut mengalami hal serupa.
Semua catatan itu terdengar seperti bumi yang terus berkata aku sudah memberi tanda sejak dulu.
Realitas Hari Ini yang Tidak Benar-benar Baru
Kini arus informasi bergerak cepat. Berita viral datang silih berganti, komentar publik muncul sebelum fakta dipahami. Namun ritme banjir tetap mengikuti pola masa lalu. Air naik, hutan menyusut, masyarakat cemas, dan pemerintah bergegas menutupi kerusakan yang tidak mungkin selesai dalam semalam.
Perbedaannya hanya terletak pada skala. Dulu banjir menelan puluhan nyawa, sekarang jumlahnya bisa ratusan. Dulu gelondongan kayu hanyut terlihat aneh, kini menjadi bukti nyata bahwa kerusakan di hulu semakin parah.
Kita menyebut perubahan iklim sebagai penjelasan. Kita pun menyinggung cuaca ekstrem dan deforestasi. Semua benar, namun ada faktor lain yang jarang diakui ingatan kolektif yang semakin pudar. Kita tahu pohon ditebang. Kita sadar sungai kehilangan bantaran. Namun kita memandangnya seperti menatap jam dinding sekadar melihat tanpa benar-benar merenungi.
Pada titik ini, bencana tidak lagi hanya tentang alam. Sebagian besar berkaitan dengan perilaku yang terus berulang.
Refleksi: Mengapa Kita Diingatkan Berkali-kali
Banjir di Aceh dan Tapanuli menyodorkan cermin besar. Air hanya memantulkan kebiasaan kita. Polanya terlihat jelas. Air naik, kepanikan muncul, lalu ingatan perlahan menghilang. Kita berjalan seperti kota tanpa arsip, seperti rumah yang kehilangan album kenangan. Padahal sejarah berulang kali mengetuk dan meminta perhatian.
Setiap batang kayu yang hanyut menyimpan cerita. Di dalamnya terdapat jejak hutan yang hilang, kebijakan yang terlambat, serta pengawasan yang longgar. Semua berjalan bersama budaya menunda yang bertahan dari generasi ke generasi.
Kita membangun kota tanpa mengingat bahwa sungai memiliki memori. Kita menebang pepohonan tanpa mempertimbangkan batas kesabaran tanah. Kita mendirikan rumah di tepi sungai lalu terkejut ketika sungai kembali merebut ruang yang dulu menjadi miliknya.
Ada ungkapan lama yang semakin terasa benar: air tidak pernah terburu-buru, namun selalu tiba pada waktunya.
Banjir yang datang kembali bukan bukti bahwa air berubah. Justru kita yang tidak bergerak dari kebiasaan lama.
Air yang Menagih Janji yang Kita Lupakan
Banjir di Aceh dan Tapanuli bukan episode baru. Itu cerita lama yang muncul lagi dengan gambar lebih tajam dan dampak lebih luas. Setiap korban, jembatan yang runtuh, dan kayu yang hanyut mengulang pertanyaan yang sama.
Sampai kapan kita membiarkan sejarah berbicara tanpa benar-benar mendengarkan?
Pada akhirnya banjir tidak hanya tentang air. Ini tentang ingatan yang tidak dirawat. Tentang hutan yang kehilangan suara. Tentang sungai yang menagih janji yang pernah kita buat namun tidak pernah kita tepati.
Seperti kisah yang belum selesai, semua ini akan terus berulang selama kita tetap memilih untuk lupa. @dimas




