Tabooo.id: Vibes – Kawasan adat Suku Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, akan menutup diri selama tiga bulan. Penutupan ini dimulai Selasa, 20 Januari 2026, bertepatan dengan 1 Kawalu Tembeuy dalam penanggalan adat Baduy, dan akan berakhir pada Maret. Masyarakat adat menutup kawasan tersebut untuk melaksanakan ritual sakral Kawalu.
Kepala Desa Adat Kanekes, Oom, menegaskan Kawalu sebagai ritual tahunan yang bersifat tertutup. Masyarakat Baduy menjalankan upacara ini sebagai bagian dari rangkaian adat pascapanen. “Kawalu itu ritual adat yang sifatnya sakral dan tertutup. Ini bagian dari rangkaian upacara adat setelah panen,” ujar Oom, Kamis (8/1/2026).
Baduy Dalam Ditutup Total
Selama Kawalu berlangsung, masyarakat Baduy menutup penuh kawasan Baduy Dalam. Mereka melarang wisatawan dan masyarakat luar masuk ke wilayah tersebut. Hanya individu tertentu dengan kepentingan khusus yang dapat mengajukan izin, itu pun dalam jumlah sangat terbatas. “Kalau pun ada yang masuk, itu harus urusan khusus, perorangan, maksimal 10 orang dan wajib didampingi langsung,” kata Oom.
Masyarakat adat menetapkan aturan ini secara ketat. Mereka ingin memastikan seluruh rangkaian ritual berlangsung tanpa gangguan dari aktivitas luar.
Tiga Bulan Menjaga Sunyi
Penutupan kawasan Baduy bukan keputusan mendadak. Dalam perhitungan adat, Kawalu memang berlangsung selama tiga bulan penuh. Selama periode itu, masyarakat Baduy memusatkan perhatian pada ritual dan laku adat. Mereka menempatkan ketenangan dan kemurnian prosesi di atas kepentingan kunjungan wisata.
Bagi masyarakat Baduy, kehadiran tamu dalam jumlah besar berpotensi mengganggu keseimbangan ritual. Karena itu, mereka memilih menutup diri hingga seluruh rangkaian Kawalu selesai.
Dampak ke Wisata dan Ekonomi Lokal
Penutupan Baduy Dalam langsung berdampak pada sektor pariwisata. Wisatawan yang biasa berkunjung harus menunda rencana perjalanan. Para pemandu lokal, pemilik penginapan kecil, hingga pedagang cenderamata kehilangan potensi pemasukan sementara. Dalam jangka pendek, kelompok inilah yang paling merasakan dampak ekonomi.
Namun, bagi masyarakat Baduy Dalam, penutupan ini justru memberi ruang aman. Mereka dapat menjalankan tradisi leluhur tanpa tekanan kamera, konten media sosial, atau tuntutan wisata.
Baduy Luar Tetap Terbuka
Meski menutup Baduy Dalam, masyarakat adat tetap membuka akses ke wilayah Baduy Luar. Oom memastikan wisata budaya dan studi lapangan masih bisa berlangsung di sejumlah kampung. Kampung yang tetap menerima kunjungan antara lain Kaduketug 1, Cipondok, Kaduketug 2 dan 3, Lebak Jeruk, Balimbing, Marengo, Cikua, Gajeboh, Kadujangkung, Kadugede, Karahkal, Cempaka, Cijanar, Ciranji, dan Lebak Huni.
Dengan kebijakan ini, aktivitas wisata tidak sepenuhnya berhenti. Namun, pengunjung harus memahami batas dan menghormati aturan adat yang berlaku.
Sebaliknya, kawasan Baduy Dalam seperti Kampung Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo akan steril dari kunjungan umum. Masyarakat adat menutup ruang negosiasi dan tidak memberi pengecualian bagi rasa penasaran wisatawan.
Tradisi di Atas Segalanya
Penutupan ini jelas menguntungkan masyarakat Baduy Dalam. Mereka dapat menjaga ritual, melindungi nilai adat, dan mempertahankan kedaulatan budaya. Pemerintah daerah pun ikut diuntungkan karena menunjukkan pengakuan terhadap hak dan aturan masyarakat adat.
Di sisi lain, wisatawan dan pelaku usaha pariwisata harus menyesuaikan diri. Mereka perlu mengubah rencana dan menurunkan ekspektasi. Kawalu kembali mengingatkan bahwa tidak semua ruang budaya tersedia setiap waktu.
Penutupan Baduy selama Kawalu menyampaikan pesan sederhana namun tegas: ada saat ketika tradisi harus berada di barisan terdepan. Di tengah dunia yang serba terbuka dan mudah diakses, Baduy memilih sunyi. Dan mungkin, di situlah nilai yang paling keras berbicara. (red)





