Tabooo.id: Nasional – Konflik di Timur Tengah mulai terasa langsung di sektor penerbangan Indonesia. Per 1 April 2026, harga avtur melonjak tajam dan menekan biaya operasional maskapai.
Harga avtur domestik naik dari Rp 13.656,51 per liter pada Maret 2026 menjadi Rp 23.551,08 per liter pada April 2026. Kenaikan ini mencapai 72,45 persen. Harga avtur internasional juga ikut meroket. Angkanya naik 80,32 persen, dari 0,742 dolar AS menjadi 1,338 dolar AS per liter.
Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja, menyebut kenaikan ini sudah terprediksi.
“Seperti sudah kami perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Jika dibandingkan dengan 2019, lonjakan ini jauh lebih tajam. Saat itu, harga avtur domestik masih Rp 7.970 per liter. Artinya, kenaikan kini sudah mendekati 295 persen.
Maskapai Tertekan, Tarif Diminta Disesuaikan
Lonjakan harga avtur langsung menekan maskapai. Bahan bakar menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional. Angka ini membuat ruang gerak maskapai makin sempit.
INACA mendesak pemerintah untuk segera menyesuaikan tarif batas atas penerbangan domestik. Asosiasi juga meminta kenaikan fuel surcharge.
“Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian kenaikan biaya tambahan bahan bakar avtur dan tarif batas atas penerbangan domestik,” tambahnya.
Sebelumnya, INACA mengusulkan kenaikan tarif sebesar 15 persen. Namun, lonjakan terbaru membuat usulan itu perlu dikaji ulang.
Denon menegaskan penyesuaian tarif menjadi langkah mendesak.
“Penyesuaian perlu segera diberlakukan agar maskapai penerbangan dapat tetap beroperasi dengan tetap menjaga keselamatan penerbangan (safety insurance), serta menjaga finansial maskapai agar tetap bisa beroperasi (business sustainability) dan menyediakan konektivitas transportasi udara nasional,” tegasnya.
Garuda Pilih Efisiensi untuk Bertahan
PT Garuda Indonesia Tbk merespons tekanan ini dengan langkah efisiensi. Perusahaan fokus mengendalikan biaya dan mengoptimalkan penggunaan bahan bakar.
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, menjelaskan strategi tersebut.
“Langkah-langkah tersebut mencakup optimalisasi pengelolaan bahan bakar serta efisiensi biaya operasional, sebagai upaya menjaga keseimbangan terhadap potensi tekanan kinerja akibat kenaikan harga avtur,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Manajemen juga menjaga struktur biaya dan likuiditas. Mereka terus mengevaluasi berbagai opsi mitigasi. Thomas menegaskan bahwa bahan bakar tetap menjadi komponen biaya terbesar.
“Hal ini sejalan dengan karakteristik biaya bahan bakar sebagai salah satu komponen biaya terbesar dalam struktur biaya operasional penerbangan,” tambahnya.
Garuda memastikan operasional tetap berjalan. Perusahaan juga memperkuat koordinasi dengan para pemangku kepentingan.
“Kami memandang bahwa penguatan ekosistem industri melalui kerja sama dan sinergi yang lebih erat dengan para pemangku kepentingan di sektor aviasi nasional menjadi faktor kunci dalam menjaga resiliensi industri penerbangan di tengah tekanan global saat ini,” pungkasnya.
Penumpang Jadi Pihak Paling Terdampak
Kenaikan biaya operasional hampir pasti berujung pada kenaikan harga tiket. Penumpang menjadi pihak yang paling terdampak dari situasi ini.
Masyarakat yang bergantung pada transportasi udara kini harus bersiap menghadapi biaya perjalanan yang lebih mahal. Tekanan ini terasa berat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Jika pemerintah menyetujui penyesuaian tarif, harga tiket akan kembali naik. Beban itu pada akhirnya jatuh ke masyarakat.
Dari konflik di Timur Tengah, dampaknya menjalar hingga ke Indonesia. Rantai efeknya sederhana tapi menyakitkan harga minyak naik, avtur ikut melonjak, lalu tiket pesawat ikut terkerek dan dompet penumpang kembali jadi korban. @dimas



