Asap karhutla Indonesia menyeberang ke negara tetangga. Mengapa Indonesia masih menolak bantuan Malaysia dan memilih menangani krisis sendiri?
Tabooo.id – Asap karhutla tidak punya paspor.
Ia tidak berhenti di garis batas negara. Angin membawanya melintasi wilayah Indonesia, Malaysia, Singapura, hingga Filipina.
Di Malaysia, kualitas udara di sejumlah wilayah memburuk. Serian, Sarawak, bahkan menghadapi kondisi darurat setelah indeks polusi udara mencapai level berbahaya.
Sejumlah sekolah ikut menutup kegiatan belajar. Aktivitas warga terganggu. Udara yang seharusnya menjadi ruang bersama berubah menjadi ancaman.
Singapura turut menyampaikan kekhawatiran. Filipina juga menerima dampak ketika angin membawa asap menuju wilayah mereka.
Pada titik ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang salah.
Pertanyaan yang lebih penting justru muncul ketika asap sudah menjadi masalah regional, apakah Indonesia masih bisa menyebutnya sebagai urusan domestik semata?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Indonesia tetap memegang tanggung jawab utama atas penanganan karhutla di wilayahnya. Namun, tanggung jawab nasional tidak otomatis berarti Indonesia harus bekerja sendirian.
Ketika Tetangga Menawarkan Bantuan
Malaysia menawarkan bantuan yang cukup konkret.
Salah satunya berupa operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan untuk membantu menangani dampak karhutla.
Indonesia merespons tawaran tersebut secara positif. Pemerintah membuka ruang bagi Malaysia untuk masuk ke wilayah udara Indonesia dalam konteks operasi itu.
Singapura juga menawarkan dukungan teknis dan operasional.
Di sinilah perdebatan mulai menarik.
Sebagian orang mungkin melihat bantuan negara lain sebagai tanda bahwa Indonesia tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri.
Ada pula kekhawatiran bahwa bantuan dari negara tetangga dapat membuka pintu bagi campur tangan terhadap urusan dalam negeri.
Namun, apakah menerima bantuan memang berarti kehilangan kedaulatan?
Belum tentu.
Kita perlu membedakan dua hal yang sering tercampur mampu menangani sendiri dan harus menangani sendiri.
Keduanya jelas tidak sama.
Bantuan Bukan Berarti Intervensi
ASEAN sebenarnya sudah memiliki kerangka untuk menghadapi persoalan asap lintas batas.
ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution atau AATHP lahir pada 2002. Perjanjian tersebut mendorong negara-negara kawasan untuk mencegah, memantau, dan mengurangi pencemaran asap lintas batas.
Kerangka itu juga membuka ruang kerja sama regional.
Namun, negara terdampak tetap memegang kendali. Negara lain dapat memberikan bantuan setelah mendapat permintaan atau persetujuan.
Artinya, Indonesia tidak menyerahkan kendali kepada Malaysia hanya karena menerima bantuan.
Pemerintah tetap menentukan apakah bantuan diperlukan, bentuk bantuan yang diterima, serta aturan operasionalnya.
Kedaulatan bukan berarti menutup pintu.
Kedaulatan berarti negara memiliki kewenangan untuk menentukan siapa yang boleh masuk, bantuan apa yang diterima, dan aturan apa yang berlaku.
Gengsi Sering Menyamar sebagai Prinsip
Masalahnya, politik sering membuat persoalan sederhana menjadi rumit.
Menerima bantuan kadang dianggap sebagai pengakuan atas ketidakmampuan.
Padahal, negara yang kuat tidak selalu negara yang bekerja sendirian.
Negara yang kuat juga mampu membaca situasi, menghitung kebutuhan, lalu memilih bantuan yang paling berguna.
Karhutla memberi contoh yang sangat jelas.
Api tidak peduli siapa pemilik wilayah.
Asap juga tidak peduli apakah sebuah negara sedang menjaga gengsinya.
Ketika angin membawa asap ke negara lain, persoalan domestik berubah menjadi persoalan bersama.
Warga Malaysia tidak akan merasa lebih lega hanya karena Indonesia berhasil mempertahankan prinsip tidak membutuhkan bantuan.
Masyarakat Singapura juga tidak akan mendapat udara lebih bersih hanya karena diplomasi berjalan dengan jarak.
Begitu pula masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah terdampak.
Mereka membutuhkan udara yang lebih sehat, bukan perdebatan tentang siapa yang paling berdaulat.
Asap Menguji Cara Kita Memahami Kedaulatan
Ini bukan sekadar soal karhutla. Ini soal bagaimana sebuah negara memahami kedaulatan di tengah persoalan yang tidak mengenal batas.
Indonesia memang harus bertanggung jawab.
Aparat harus bekerja. Pesawat harus bergerak. Operasi pemadaman harus berjalan. Modifikasi cuaca dapat membantu proses penanganan.
Pemerintah juga perlu terus menyelidiki perusahaan yang terkait dengan kebakaran.
Semua langkah tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab nasional.
Namun, tanggung jawab nasional tidak harus berlawanan dengan kerja sama regional.
Keduanya justru bisa berjalan bersamaan.
Indonesia tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab. Negara tetangga dapat membantu ketika Indonesia membutuhkan dukungan dan memberikan persetujuan.
Formula ini jauh lebih masuk akal daripada memaksakan pilihan antara kedaulatan dan solidaritas.
Kita tidak harus memilih salah satunya.
Non-Interference Bukan Berarti Saling Membiarkan
ASEAN memiliki prinsip non-interference.
Prinsip ini penting untuk menjaga hubungan antarnegara yang berdaulat.
Namun, prinsip tersebut tidak seharusnya berubah menjadi alasan untuk saling membiarkan ketika dampak sebuah persoalan sudah melintasi perbatasan.
Bayangkan sebuah rumah terbakar.
Api berasal dari satu rumah. Namun, asapnya masuk ke rumah tetangga.
Apakah tetangga harus diam karena tidak boleh ikut campur?
Tentu tidak.
Tetangga bisa menawarkan air. Mereka dapat membawa alat pemadam. Mereka juga bisa membantu menyelamatkan orang.
Pemilik rumah tetap menentukan cara penanganannya.
Gambaran itu memang sederhana. Namun, logikanya relevan untuk persoalan asap lintas batas.
Membantu bukan berarti mengambil alih.
Begitu pula menerima bantuan bukan berarti menyerahkan kedaulatan.
Ini Dampaknya Buat Kamu
Perdebatan diplomasi sering terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, dampaknya sangat dekat.
Asap dapat menurunkan kualitas udara. Anak-anak bisa kehilangan waktu belajar ketika sekolah tutup. Penerbangan dapat terganggu. Aktivitas ekonomi ikut melambat.
Masyarakat juga harus menghadapi risiko kesehatan dan biaya tambahan akibat kondisi udara yang buruk.
Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup kita ukur dari jumlah api yang padam.
Kita juga perlu melihat seberapa cepat pemerintah mencegah asap menyebar dan melindungi masyarakat.
Jika bantuan negara lain dapat mempercepat proses tersebut tanpa mengurangi kendali Indonesia, mengapa harus ditolak?
Di sinilah akal sehat seharusnya mengalahkan gengsi.
Kedaulatan yang Bertanggung Jawab
Pada abad ke-21, kedaulatan bukan sekadar kemampuan berkata, “Ini wilayah kami.” Negara juga harus mampu mengelola dampak yang muncul dari wilayahnya sendiri.
Ketika sebuah persoalan melewati batas negara, penyelesaiannya membutuhkan koordinasi lintas batas.
Indonesia tetap memiliki tanggung jawab utama.
Malaysia memiliki kepentingan karena wilayahnya ikut terdampak.
Singapura dan Filipina juga memiliki alasan untuk memberi perhatian.
Tidak ada pihak yang harus kehilangan martabat dalam kerja sama semacam itu.
Justru negara-negara tersebut dapat menunjukkan bahwa kedaulatan dan solidaritas tidak selalu bertentangan.
Indonesia tidak perlu merasa lebih rendah karena menerima bantuan.
Malaysia juga tidak perlu tampil seperti pihak yang menggurui.
Kedua negara dapat berdiri sebagai negara berdaulat yang menghadapi masalah dengan dampak bersama.
Jadi, Pilih Gengsi atau Solusi?
Pada akhirnya, persoalan karhutla bukan lomba siapa yang paling kuat bertahan sendirian.
Yang paling penting adalah siapa yang paling cepat melindungi manusia dan lingkungan.
Jika Indonesia mampu menangani sebagian besar persoalan sendiri, itu patut diapresiasi.
Jika pada saat tertentu bantuan negara tetangga dapat mempercepat penanganan, bantuan itu juga layak dipertimbangkan.
Tidak ada kehormatan dalam membiarkan masalah membesar hanya demi terlihat mampu.
Melihat persoalan ini lebih sederhana negara tetap berdaulat, tetapi tidak harus hidup sendirian.
Asap memang menyeberangi batas negara.
Diplomasi seharusnya membuat batas itu menjadi jembatan, bukan tembok.
Sebab ketika sebuah rumah terbakar, tetangga yang baik tidak sibuk bertanya siapa yang paling berhak memegang selang.
Mereka membantu memadamkan api.
Lalu, kamu di kubu mana mempertahankan gengsi atau membuka pintu untuk solusi? @dimas








