Asap karhutla meluas, Kemenkes mencatat 283.270 kasus ISPA di Indonesia. Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan mencatat kasus tertinggi.
Tabooo.id: Kalimanta – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Di balik udara yang tercemar, ratusan ribu warga menghadapi ancaman gangguan pernapasan. Kementerian Kesehatan mencatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat asap karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, menyampaikan data tersebut dalam pertemuan di Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jakarta, Rabu (14/10/2026). Kasus tersebut tersebar di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota.
“Secara kumulatif ini ada 283.270 dengan kasus, terbanyaknya di usia di atas 5 tahun yaitu 219.559 di 7 provinsi, 63 kabupaten/kota,” kata Then.
Angka itu menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di kawasan hutan yang terbakar. Ketika asap menyebar, persoalan lingkungan berubah menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan Catat Kasus Tertinggi
Kalimantan Selatan mencatat kasus ISPA terbanyak, yakni 74.636 kasus. Sumatera Selatan menyusul dengan 74.458 kasus.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan masih mencatat 3.897 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla. Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan masih menjadi perhatian di tengah upaya penanganan kebakaran dan dampak asap.
Asap karhutla membawa partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun. Menurut Then, paparan zat tersebut dapat memicu batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan.
Dampaknya juga tidak terbatas pada ISPA. Paparan asap dapat memperburuk asma, memicu gangguan pada penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.
Lebih jauh, paparan polusi udara juga berpotensi memengaruhi sistem kardiovaskular. Risikonya mencakup peningkatan tekanan darah serta gangguan jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan.
Anak, Lansia, dan Pekerja Luar Ruangan Menghadapi Risiko
Kementerian Kesehatan meminta masyarakat memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, penderita PPOK, serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.
Kelompok tersebut membutuhkan perlindungan lebih karena paparan asap dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka. Karena itu, masyarakat perlu menyesuaikan aktivitas ketika kualitas udara memburuk.
Kemenkes juga memperkuat pemantauan kasus ISPA, pneumonia, asma, serta iritasi mata dan kulit. Pemerintah turut memantau ketersediaan obat, bahan medis habis pakai, dan kapasitas pelayanan puskesmas maupun rumah sakit.
Selain itu, pemantauan mencakup kualitas udara dalam ruangan berdasarkan data yang dihimpun dinas kesehatan dan puskesmas. Langkah tersebut membantu petugas melihat perubahan kondisi di wilayah terdampak.
Then mengatakan, Kemenkes telah menerbitkan surat kewaspadaan bagi dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan agar mempersiapkan kebutuhan penanganan.
Pemerintah juga merekomendasikan pembelajaran jarak jauh bagi wilayah terdampak karhutla kepada kementerian terkait, termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama.
Saat Asap Menjadi Masalah Kesehatan Sehari-hari
Kemenkes mengimbau masyarakat memantau kualitas udara melalui aplikasi SatuSehat yang terintegrasi dengan sistem pemantauan kualitas udara. Jika kualitas udara memburuk, warga sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga disarankan memakai masker ketika harus keluar rumah, mencukupi kebutuhan cairan, dan mengurangi masuknya asap ke dalam rumah. Warga perlu memperhatikan perubahan kondisi kesehatan anggota keluarga, terutama mereka yang rentan.
“Apabila terjadi gangguan atau peningkatan kasus yang memburuk ya segera ke faskes terdekat untuk diperiksa,” kata Then.
Ancaman yang Tidak Berhenti pada Angka
283.270 kasus bukan sekadar statistik kesehatan. Angka tersebut menggambarkan besarnya beban yang harus dihadapi warga dan fasilitas kesehatan di tengah dampak karhutla.
Namun, angka kasus saja belum menjelaskan keseluruhan situasi. Data mengenai tingkat keparahan penyakit, jumlah pasien yang membutuhkan perawatan intensif, serta perkembangan kualitas udara tetap diperlukan untuk membaca dampaknya secara utuh.
Di sinilah persoalan karhutla perlu dilihat lebih luas. Penanganan tidak cukup berhenti pada pengobatan warga yang mengalami gangguan pernapasan. Pencegahan paparan asap dan pengendalian kebakaran juga menjadi bagian penting dari perlindungan kesehatan publik.
Sebab, warga tidak seharusnya terus-menerus menyesuaikan hidup dengan udara yang membahayakan. Ketika asap menyebar hingga ke permukiman, dampak kebakaran bukan lagi urusan kawasan hutan semata.
Pertanyaannya, seberapa jauh perlindungan kesehatan masyarakat bisa berjalan jika sumber pencemaran udara terus mengancam? @dimas








