Kaltim menghirup asap karhutla. Kasus ISPA mencapai 9.499 hingga pekan ke-34 2026, sementara kualitas udara memburuk di sejumlah wilayah.
Tabooo.id – Asap tidak sekadar mengubah warna langit.
Di Kalimantan Timur, asap juga mulai meninggalkan jejak di tubuh warga. Jejak itu terlihat dari laporan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Dinas Kesehatan Kalimantan Timur mencatat sekitar 9.499 kasus ISPA hingga pekan ke-34 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dr. Jaya Mualimin mengatakan kasus ISPA memang meningkat. Namun, kenaikan itu belum signifikan jika dibandingkan dengan kondisi pada Januari, Februari, dan Maret.
Pada Januari 2026, jumlah kasus berada di kisaran 9.300.
Angka tersebut sempat turun ketika memasuki pertengahan tahun. Kondisi berubah ketika kemarau kembali menguat dan titik panas kebakaran hutan serta lahan ikut meningkat.
Di titik inilah persoalan mulai terlihat lebih jelas.
Karhutla tidak hanya membakar lahan. Asapnya ikut membawa risiko kesehatan ke permukiman warga.
Kemarau Datang, Asap Kembali Mengikuti
Kemarau membuat lahan lebih mudah terbakar.
Ketika api muncul di banyak lokasi, asap ikut menyebar mengikuti kondisi angin. Minimnya hujan kemudian membuat udara lebih sulit kembali bersih.
Kondisi itu tidak hanya berasal dari kebakaran di Kaltim.
Situasi tersebut menunjukkan satu hal penting.
Asap tidak mengenal batas administratif.
Api boleh muncul di satu wilayah, tetapi dampaknya dapat dirasakan masyarakat di wilayah lain.
Bagi warga, persoalannya sederhana.
Mereka tetap harus bernapas di tengah udara yang kualitasnya menurun.
Pekerja tetap harus keluar rumah. Pedagang tetap membuka usaha. Anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk belajar dan bermain.
Karena itu, persoalan ISPA tidak cukup dibaca sebagai urusan fasilitas kesehatan.
Ada persoalan lingkungan yang ikut berada di belakangnya.
Kutai Barat Mulai Menjadi Alarm
Kutai Barat menjadi salah satu wilayah yang paling mendapat perhatian.
Berau juga masuk dalam daftar daerah yang perlu diwaspadai. Setelah itu, perhatian mengarah ke Kutai Kartanegara.
Dinas Kesehatan Kaltim bersama tim krisis Kementerian Kesehatan, PKK Samarinda, dan sejumlah pihak terkait melakukan pemantauan di Kutai Barat.
Langkah tersebut muncul setelah kasus ISPA di wilayah itu menunjukkan peningkatan.
Kualitas udara menjadi bagian penting dari pemantauan.
Jaya menyebut angka pemantauan kualitas udara di Kutai Barat sempat mencapai 318, kemudian turun menjadi 280.
Meski turun, kondisi udara masih masuk kategori sangat tidak sehat menurut keterangan yang disampaikan.
Angka itu memang penting.
Namun, angka tersebut bukan satu-satunya persoalan.
Pertanyaan yang lebih besar justru muncul di baliknya:
Berapa lama warga harus menghirup udara dengan kualitas seperti itu?
Angka Besar Tidak Selalu Berarti Wilayah Paling Parah
Rekap kasus ISPA hingga Agustus menunjukkan persoalan yang tersebar di berbagai daerah.
Balikpapan mencatat 66.468 kasus. Samarinda berada di angka 48.230 kasus.
Kutai Kartanegara mencatat 29.453 kasus. Paser mencapai 22.284 kasus, sedangkan Kutai Timur berada di angka 22.032 kasus.
Berau mencatat 20.549 kasus.
Penajam Paser Utara mencapai 10.386 kasus. Bontang mencatat 7.670 kasus, sedangkan Mahakam Ulu berada di angka 1.482 kasus.
Jaya mengingatkan bahwa jumlah penduduk ikut memengaruhi tingginya angka kasus setiap daerah.
Karena itu, daerah dengan populasi besar memang memiliki peluang mencatat kasus lebih banyak.
Namun, persoalan tersebut tetap membutuhkan perhatian ketika kualitas udara memburuk.
Sebab, semakin banyak penduduk yang terpapar udara buruk, semakin besar pula jumlah orang yang menghadapi risiko kesehatan.
Di sinilah angka statistik perlu dibaca dengan hati-hati.
Jumlah kasus memberi tahu kita seberapa besar masalahnya. Kondisi lingkungan membantu menjelaskan mengapa masalah itu muncul.
ISPA Bukan Satu-Satunya Ancaman
Kabut asap sering membuat perhatian publik tertuju pada gangguan pernapasan.
Padahal, masalah kesehatan dapat berkembang lebih luas.
Debu dapat memicu alergi dan rasa gatal. Kondisi lingkungan yang buruk juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan lain.
Wilayah dengan keterbatasan air bersih menghadapi persoalan tambahan.
Diare menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai. Risiko leptospirosis juga dapat meningkat melalui lingkungan atau air yang terkontaminasi bakteri Leptospira.
Kehadiran tikus ikut menjadi perhatian dalam situasi tersebut.
Karena itu, perlindungan warga tidak cukup hanya dengan menghadapi asap.
Kebersihan tangan juga penting.
Masyarakat perlu mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan. Kebersihan makanan dan air harus mendapat perhatian, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan air bersih.
Jaya menjelaskan bahwa sebagian besar kasus ISPA dapat pulih sekitar satu minggu karena banyak kasus berasal dari infeksi virus.
Namun, warga tetap perlu waspada ketika muncul demam atau gejala yang semakin berat.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke Puskesmas.
Ketika Warga Harus Belajar Bertahan dari Udara Buruk
Ada ironi dalam persoalan ini.
Masyarakat diminta melindungi diri dari udara buruk. Mereka diminta memantau kualitas udara. Mereka juga perlu mengurangi paparan ketika kondisi semakin tidak sehat.
Semua langkah tersebut memang penting.
Namun, langkah perlindungan pribadi tidak menyelesaikan sumber masalah.
Masyarakat dapat memakai masker, memantau kualitas udara melalui ISPU Net, dan membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
Tetapi warga tidak dapat sendirian mencegah kebakaran hutan dan lahan.
Di titik ini, tanggung jawab pemerintah menjadi penting.
Hotspot dapat dipantau. Kondisi cuaca dapat diprediksi. Kualitas udara dapat diukur.
Data tersebut seharusnya membantu pemerintah bergerak sebelum asap memenuhi permukiman.
Peringatan dini seharusnya menjadi alat pencegahan, bukan sekadar laporan setelah masalah membesar.
Masalahnya Bukan Hanya Api
Karhutla sering terlihat sebagai persoalan ketika api sudah membesar.
Padahal, persoalannya dimulai jauh sebelum itu.
Karhutla tidak tiba-tiba menjadi krisis. Semuanya bermula saat kemarau mengeringkan lahan, titik panas meningkat, lalu asap bergerak dan mulai mengganggu kehidupan warga.
Setiap tahap sebenarnya memberi ruang untuk melakukan pencegahan.
Jika respons baru menguat setelah kualitas udara memburuk, maka masyarakat sudah lebih dulu menerima dampaknya.
Jika penanganan baru menjadi perhatian setelah kasus kesehatan meningkat, maka negara bekerja setelah masalah mencapai tubuh warga.
Inilah bagian yang sering luput dalam pembicaraan mengenai karhutla.
Kita terlalu sering menghitung luas lahan yang terbakar, tetapi kurang menghitung harga yang harus dibayar warga.
Harga itu muncul dalam berbagai bentuk.
Orang tua harus membawa anak berobat. Pekerja menghadapi udara buruk saat menjalankan aktivitas. Sekolah harus menyesuaikan kegiatan ketika kondisi lingkungan memburuk.
Fasilitas kesehatan pun harus bersiap menghadapi tambahan kebutuhan pelayanan.
Semua dampak tersebut memiliki biaya sosial.
Namun, biaya sosial jarang terlihat sebesar angka luas lahan terbakar.
Asap Bisa Hilang, Masalahnya Belum Tentu
Hujan pada akhirnya dapat membersihkan udara.
Asap kemudian menipis. Langit kembali terlihat. Aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa.
Tetapi apakah persoalannya benar-benar selesai?
Jawabannya belum tentu.
Jika sumber kebakaran tetap muncul setiap musim kemarau, persoalan yang sama hanya menunggu waktu untuk kembali.
Inilah yang membuat karhutla perlu dibaca sebagai pola, bukan sekadar peristiwa.
Kemarau datang. Titik panas meningkat. Kebakaran muncul. Asap menyebar. Kualitas udara memburuk. Keluhan kesehatan ikut meningkat.
Perhatian publik kemudian membesar.
Ketika hujan turun, perhatian perlahan mereda.
Siklus itu dapat kembali ketika kemarau berikutnya datang.
Ini Bukan Sekadar Cerita tentang 9.499 Kasus
Angka 9.499 kasus ISPA memang penting.
Namun, angka tersebut hanya menunjukkan satu bagian dari persoalan yang lebih besar.
Pertanyaan utamanya bukan hanya berapa banyak warga yang mengalami ISPA.
Pertanyaan yang lebih tajam adalah mengapa masyarakat terus menghadapi ancaman yang sama ketika musim kemarau datang?
Karhutla bukan sekadar persoalan api.
Ia menyentuh persoalan lingkungan, kesehatan masyarakat, pengawasan, tata kelola lahan, kesiapsiagaan, dan kecepatan pemerintah merespons ancaman.
Ketika pencegahan lemah, masyarakat akhirnya menjadi garis pertahanan terakhir.
Pada akhirnya, warga menjadi garis pertahanan terakhir: memakai masker, memantau kualitas udara, dan mencari pertolongan medis ketika gangguan kesehatan mulai muncul.
Sementara itu, sumber asap dapat kembali muncul pada musim berikutnya.
Di situlah persoalan Kaltim menjadi lebih besar daripada sekadar statistik ISPA.
Yang terbakar memang hutan dan lahan. Tetapi yang ikut menanggung akibatnya adalah tubuh manusia.
Dan selama karhutla terus berulang tanpa perubahan mendasar pada pencegahan, masyarakat Kaltim akan terus menghadapi pertanyaan yang sama setiap musim kemarau:
Kapan udara bersih kembali menjadi sesuatu yang normal, bukan sesuatu yang harus ditunggu? @dimas








