Tabooo.id: Global – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengirim sinyal keras ke dunia. Pada Selasa (6/1/2026), ia mengumumkan bahwa Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak mentah kepada Washington. Bagi Trump, ini bukan sekadar transaksi energi. Ini pernyataan politik, ekonomi, sekaligus pesan ke lawan dan kawan.
Kesepakatan itu langsung menyedot perhatian publik internasional. Pasalnya, minyak Venezuela selama ini terikat sanksi ketat AS. Namun Trump memilih jalur berbeda menjual minyak itu sesuai harga pasar, lalu mengatur hasil penjualannya langsung di bawah kendali pemerintahannya.
Minyak, Uang, dan Klaim Demi Rakyat
Mengutip Wall Street Journal, Trump menyebut dana hasil penjualan minyak akan digunakan “untuk kepentingan rakyat kedua negara.” Dengan asumsi harga minyak sekitar 56 dolar AS per barel, nilai transaksi ini bisa mencapai 2,8 miliar dolar AS, atau setara Rp 47 triliun.
Trump tidak merinci mekanisme distribusi dana tersebut. Namun ia menegaskan satu hal Menteri Energi AS, Chris Wright, sudah menerima perintah langsung untuk mengeksekusi rencana ini. Pemerintah AS akan mengangkut minyak menggunakan kapal penyimpanan dan membawanya langsung ke pelabuhan-pelabuhan Amerika.
Di balik klaim populis itu, kepentingan energi AS terlihat jelas. Amerika mengonsumsi sekitar 20 juta barel minyak per hari. Artinya, pasokan dari Venezuela hanya cukup untuk 2,5 hari konsumsi nasional. Tidak besar, tapi cukup simbolis di tengah tekanan harga energi global.
Venezuela Kaya Minyak, Tapi Tercekik Produksi
Ironi Venezuela kembali mencuat. Negara ini memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, namun hanya mampu memproduksi sekitar satu juta barel per hari. Angka itu kontras dengan produksi Amerika yang mencapai 13,9 juta barel per hari pada Oktober 2025.
Sanksi ekonomi, blokade, dan krisis internal membuat minyak Venezuela lebih sering menjadi alat tawar politik ketimbang sumber kesejahteraan rakyatnya. Trump kini mencoba memanfaatkan celah itu, dengan membawa isu energi ke jantung diplomasi kerasnya.
Gedung Putih Rangkul Raksasa Migas
Tak berhenti di sana, Gedung Putih juga menjadwalkan pertemuan tertutup pada Jumat (9/1/2026). Trump akan mengundang para eksekutif perusahaan minyak raksasa seperti Exxon, Chevron, dan ConocoPhillips ke Ruang Oval.
Pertemuan ini menegaskan bahwa isu Venezuela bukan hanya urusan negara ke negara, tapi juga menyangkut kepentingan korporasi energi besar. Yang paling terdampak? Negara-negara berkembang dan masyarakat kecil yang harga energinya ikut naik-turun mengikuti manuver elite global.
Caracas Membalas, Nada Makin Tegang
Dari Caracas, respons keras datang. Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez menolak tekanan Trump yang sebelumnya memperingatkan bahwa dirinya bisa bernasib lebih buruk dari Nicolas Maduro jika tidak “melakukan hal yang benar.”
Dalam pidatonya di hadapan pejabat sektor pertanian dan industri, Rodriguez memilih bahasa religius dan politis.
“Nasib saya tidak ditentukan oleh mereka yang mengancam saya, tetapi oleh Tuhan,” ujarnya.
Pernyataan itu menandai bahwa konflik AS-Venezuela belum akan mereda. Justru sebaliknya, tensinya naik satu tingkat.
Tuduhan Kejahatan Perang dan Korban Sipil
Situasi makin rumit setelah Jaksa Agung Venezuela Tarek William Saab mengklaim puluhan petugas dan warga sipil tewas dalam serangan AS di Caracas. Saab menyebut kejadian itu sebagai dugaan kejahatan perang dan menyatakan pihak kejaksaan akan melakukan penyelidikan.
Namun hingga kini, otoritas Venezuela belum merinci identitas korban secara jelas. Ketidakjelasan ini membuka ruang saling tuding, sementara warga sipil kembali berada di posisi paling rentan.
Minyak Mengalir, Konflik Tak Pernah Benar-Benar Habis
Kesepakatan minyak ini mungkin memberi keuntungan jangka pendek bagi Amerika. Namun bagi Venezuela, cerita lama kembali terulang sumber daya besar, tapi nasib rakyat tetap menggantung.
Di tengah klaim demi kesejahteraan, satu pertanyaan mengendap ketika minyak mengalir ke pelabuhan Amerika, apakah keadilan juga ikut sampai ke rakyat Venezuela? Atau sekali lagi, energi hanya menjadi bahan bakar politik global yang dingin dan kejam? @dimas




