Rabu, Juli 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ancaman Perang Dunia III dan Ujian Politik Bebas Aktif RI

by dimas
Januari 20, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangkan dunia seperti grup WhatsApp keluarga besar ramai, penuh salah paham, dan setiap hari ada yang kirim pesan caps lock. Bedanya, kali ini yang ribut bukan soal warisan, tapi soal perang dunia. Tahun 2026 baru jalan, tapi tensinya sudah seperti final season serial geopolitik global.

Amerika Serikat kembali jadi tokoh utama. Presiden Donald Trump, yang tampaknya tidak pernah kehabisan ide kontroversial, melempar ancaman intervensi ke Iran. Alasannya klasik pelanggaran HAM dalam demonstrasi yang sejak awal tahun menewaskan lebih dari 5.000 orang. Dalih kemanusiaan, kemasannya ultimatum.

Amerika, Intervensi, dan Dunia yang Tak Pernah Tenang

Tak berhenti di Iran, Trump sebelumnya juga membuat dunia tercengang dengan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Belum cukup, muncul ambisi lama yang kembali dihangatkan: Greenland. Pulau terbesar di dunia itu seolah berubah status dari wilayah Denmark menjadi “wishlist geopolitik”.

Sementara itu, Rusia dan Ukraina masih terjebak dalam perang tanpa ujung. Di Asia-Pasifik, ketegangan Jepang, Taiwan, dan China terus memanas. Dunia seperti kompor gas yang apinya dibiarkan menyala tanpa pengawas.

SBY dan Alarm Perang Dunia Ketiga

Di tengah kekacauan global itu, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono angkat suara. Lewat akun X, SBY menyampaikan kekhawatirannya dengan nada serius tapi realistis.

Ini Belum Selesai

Kopdes Merah Putih Siap Salurkan Bansos, Efektif atau Berisiko?

Kota Wisata, Tapi Sampah Masih Jadi Musuh Utama

“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi,” tulisnya. Ia masih percaya bencana itu bisa dicegah, tetapi ruang dan waktunya makin menyempit, hari demi hari.

Pernyataan ini bukan panik tanpa dasar. Ia lebih mirip alarm asap di rumah yang sudah lama bau gosong.

Global South: Selalu Jadi Korban Saat Gajah Bertarung

Guru Besar UI, Yon Machmudi, mengingatkan posisi Indonesia yang strategis. Menurutnya, Indonesia harus kembali lantang sebagai kekuatan non-blok dan bagian dari Global South. Negara-negara selatan, katanya, selalu jadi korban paling awal dan paling parah ketika konflik global meledak.

“Gajah bertarung lawan gajah, pelanduk mati di tengah,” ujarnya. Dalam dunia yang dikuasai negara besar, aturan sering kalah oleh kekuatan. Dan yang tertindas hampir selalu negara berkembang.

Bebas Aktif, Bukan Bebas Asal Netral

Pandangan serupa datang dari Ahmad Khoirul Umam, Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy. Ia menegaskan, politik luar negeri bebas-aktif bukan berarti diam atau cari aman.

Indonesia harus tegas mendorong deeskalasi, melindungi warga sipil, dan menegakkan hukum internasional. Namun di saat yang sama, Indonesia juga harus cerdas agar tidak terjebak dalam drama blok-blokan yang mempersempit ruang diplomasi.

Bebas-aktif, kata Umam, adalah seni bertahan di dunia yang makin brutal.

Dasasila Bandung dan Harapan yang Masih Hidup

Indonesia bukan pemain baru. Sejarah mencatat Konferensi Asia-Afrika 1955 dan Dasasila Bandung sebagai bukti bahwa diplomasi bisa melawan arogansi kekuatan besar. Prinsip penghormatan HAM, kedaulatan negara, dan persamaan bangsa masih relevan, meski dunia kini lebih bising dan cepat marah.

Lewat ASEAN, OKI, dan PBB, Indonesia masih punya ruang untuk menjadi bridge-builder dan honest broker. Mungkin tidak cukup untuk menghentikan perang besar, tapi setidaknya bisa memperkecil peluangnya.

Punchline: Dunia Tak Butuh Pahlawan, Tapi Rem Tangan

Perang Dunia III mungkin belum tayang. Tapi trailernya sudah beredar di mana-mana. Dunia tidak kekurangan senjata, ancaman, atau ego pemimpin. Yang kurang justru satu hal sederhana: kemauan menahan diri.

Karena dalam sejarah, perang besar jarang dimulai karena tidak ada pilihan. Ia biasanya meledak karena terlalu banyak pihak yang merasa paling benar. @dimas

Tags: ASEANGeopolitikGlobalGreenlandKonflik DuniaKrisis GlobalNasionalPBBPerdamaianPolitik IndonesiaRusia

Kamu Melewatkan Ini

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

Kudatuli: Ketika Jakarta Bangun dalam Kepungan

by Tabooo
Juli 27, 2026

Peristiwa Kudatuli pada 27 Juli 1996 bukan sekadar konflik internal PDI. Penyerbuan di Jalan Diponegoro membuka kekerasan, perburuan aktivis, dan...

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Politik Simbol atau Elektoral?

by dimas
Juli 27, 2026

Kaesang Pangarep maju sebagai caleg DPR dari Dapil Jawa Tengah V, wilayah yang selama ini menjadi basis Puan Maharani. Apakah...

Budaya Patronase: Jabatan Berganti, Kekuasaan Tetap Tinggal

Budaya Patronase: Jabatan Berganti, Kekuasaan Tetap Tinggal

by dimas
Juli 24, 2026

Pergantian pejabat tak selalu mengakhiri pengaruh. Budaya patronase membuat kekuasaan tetap bertahan melalui loyalitas, relasi personal, dan jaringan yang melampaui...

Next Post
Madiun Mendunia, Tapi Kok Lewat KPK?

OTT KPK di Madiun Naik Level: Maidi Resmi Masuk Penyidikan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id