Selasa, 21/04/2026, kabar baik datang dari SMA Negeri 2 Pamekasan. Sebanyak 76 siswa lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Namun, di balik sorak gembira itu, banyak keluarga langsung menghitung biaya daftar ulang, uang kos, dan kebutuhan hidup anak mereka. Masuk kampus memang membanggakan. Tetapi bagi keluarga sederhana, langkah berikutnya sering terasa jauh lebih berat.
Tabooo.id: Life – Kepala sekolah, Moh Arifin, memastikan siswa kurang mampu tetap melanjutkan pendidikan. Karena itu, pihak sekolah bergerak cepat dan menghubungi para alumni.
“Kami sudah berkoordinasi dengan alumni. Semua siswa miskin biaya kuliahnya akan dibantu alumni,” ujar Arifin, Selasa (21/04/2026).
Ia menegaskan sekolah tidak akan membiarkan siswa berhenti kuliah karena masalah biaya.
“Jangan sampai ada siswa putus pendidikannya akibat tidak punya biaya. Kami akan bantu secara kelembagaan.”
Langkah ini menunjukkan satu hal penting saat masalah datang, solidaritas bisa bergerak lebih cepat daripada birokrasi.
76 Siswa Lolos, Tapi Tidak Semua Berangkat dengan Tenang
Sekolah kini mendata kondisi ekonomi seluruh siswa yang lolos SNBP. Sejauh ini, sekolah menemukan tiga siswa dari keluarga kurang mampu, meski orang tua mereka masih berjuang menanggung biaya.
Sementara itu, pada 2025 lalu, sekolah mencatat 28 siswa lolos SNBP. Saat itu, alumni memberi bantuan sekitar Rp10 juta per tahun kepada siswa yang membutuhkan.
Artinya, gerakan ini bukan aksi sesaat. Sebaliknya, alumni terus menjaga tradisi gotong royong dari tahun ke tahun.
Biaya Kuliah Sering Menjadi Tembok Kedua
Masuk perguruan tinggi hanyalah pintu pertama. Setelah itu, banyak keluarga harus menghadapi tembok kedua biaya hidup.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran pendidikan masih menjadi beban penting bagi banyak rumah tangga Indonesia. Karena itu, banyak siswa mampu lolos seleksi, tetapi tidak semua mampu bertahan.
Pakar pendidikan Prof. Dr. Arief Rachman pernah menegaskan:
“Masalah pendidikan kita bukan hanya kesempatan masuk, tetapi kemampuan menyelesaikan.”
Kalimat itu terasa nyata di Pamekasan. Sebab, lolos seleksi hanyalah awal, bukan garis akhir.
Mimpi Anak Muda Tidak Boleh Kalah oleh Tagihan
Banyak siswa dari keluarga sederhana membawa harapan besar ke kampus. Mereka ingin mengangkat ekonomi keluarga, membanggakan orang tua, dan memutus rantai kemiskinan.
Namun, ketika biaya datang, semangat sering goyah. Karena itu, dukungan kecil bisa memberi tenaga besar.
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menyampaikan bahwa pendidikan membuka jalan kemerdekaan manusia dari keterbatasan.
Di Pamekasan, para alumni tidak sekadar memberi uang. Mereka menjaga jalan itu tetap terbuka.
Ini Bukan Sekadar Bantuan, Ini Tanggung Jawab Sosial
Ketika alumni bergerak, mereka sedang mengirim pesan kuat anak pintar dari keluarga miskin tidak boleh berjalan sendirian.
Selain itu, mereka juga membuktikan bahwa kepedulian sosial masih hidup. Di tengah banyak janji besar, tindakan nyata justru sering lahir dari komunitas kecil.
Pamekasan memberi contoh sederhana. Kadang perubahan tidak lahir dari pidato panjang, melainkan dari orang-orang yang ingat asal usulnya.
Closing
Hari ini 76 siswa lolos kampus. Besok mereka membawa harapan keluarga masing-masing. Lalu pertanyaannya sederhana berapa banyak mimpi lain di luar sana yang masih tertahan hanya karena biaya?. @teguh






