Gunung Anak Krakatau kembali erupsi semalaman dengan lontaran batu pijar dan abu vulkanik. Bayang-bayang tsunami 2018 kembali teringat.
Tabooo.id – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi. Erupsi berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari.
Aktivitas itu berlangsung cukup intens. Gunung api tersebut melontarkan batu pijar dan abu vulkanik secara berkelanjutan.
Erupsi kali ini juga kembali menghadirkan suara gemuruh. Dentumannya terdengar dari wilayah yang cukup jauh dari tubuh gunung.
Namun, peningkatan aktivitas tersebut tidak serta-merta menunjukkan ancaman tsunami. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menilai tubuh Gunung Anak Krakatau masih relatif stabil.
Erupsi berlangsung lebih dari lima jam
Pemantauan PVMBG mencatat erupsi mulai sekitar pukul 23.07 WIB pada Jumat malam. Aktivitas tersebut berlanjut hingga sekitar pukul 04.40 WIB pada Sabtu pagi.
Dengan demikian, erupsi berlangsung selama lebih dari lima jam. Selama periode itu, gunung terus menunjukkan aktivitas letusan.
Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menjelaskan hasil evaluasi terbaru terkait kondisi tubuh gunung.
“Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan skala besar yang dapat memicu tsunami,” ujar Rita, Sabtu (5/9/2026).
Pernyataan tersebut menjadi penting karena masyarakat masih menyimpan ingatan kuat terhadap tsunami Selat Sunda pada 2018.
Batu pijar dan abu terus terlontar
Rita mengatakan erupsi terbaru menghasilkan material vulkanik yang terlihat jelas dari hasil pengamatan.
“Erupsi Krakatau ini menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik,” kata Rita.
Material pijar menunjukkan adanya aktivitas lava dalam proses erupsi. Pada malam hingga dini hari, petugas juga melihat semburan berwarna merah menyala dari arah gunung.
Namun, petugas belum dapat memastikan tinggi kolom erupsi. Kondisi cuaca dan jarak pandang membatasi pengamatan visual.
Rita menjelaskan kondisi tersebut.
“Tinggi kolom erupsi tidak dapat kami amati, namun secara visual terlihat warna merah menyala dari semburan erupsi secara terus-menerus,” ujarnya.
Gambaran itu menunjukkan aktivitas vulkanik masih berlangsung. Pada saat yang sama, keterbatasan visual membuat petugas tidak dapat memberikan ukuran kolom abu secara akurat.
Dentuman terdengar dari kejauhan
Aktivitas Anak Krakatau tidak hanya terlihat melalui semburan material pijar. Suara gemuruh juga terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau di Pasauran, Jawa Barat.
Tekanan letusan dapat menghasilkan gelombang suara yang merambat melalui atmosfer. Dalam kondisi tertentu, suara itu dapat terdengar jauh dari sumber erupsi.
Karena itu, dentuman yang terdengar masyarakat tidak otomatis menunjukkan terjadinya runtuhan tubuh gunung. Petugas tetap membutuhkan data lain untuk menilai kondisi gunung.
Mereka memantau aktivitas kegempaan, perubahan morfologi, material erupsi, serta perkembangan tubuh gunung.
Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah aktivitas gunung mengalami perubahan yang signifikan.
Status Anak Krakatau tetap Level III
PVMBG mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Status tersebut berlaku sejak 2 Juli 2026 setelah pemerintah menaikkan status dari Level II atau Waspada.
Status Siaga menunjukkan bahwa aktivitas gunung membutuhkan perhatian serius. Masyarakat juga harus mematuhi batas aman yang ditetapkan petugas.
Peningkatan aktivitas kali ini tidak otomatis mengubah penilaian terhadap potensi tsunami. PVMBG justru menekankan kondisi struktur tubuh gunung yang masih relatif stabil.
Persoalannya, sejarah Anak Krakatau membuat setiap erupsi mudah memunculkan kekhawatiran baru.
Bayang-bayang tsunami 2018
Gunung Anak Krakatau pernah menjadi sumber tsunami pada 22 Desember 2018. Saat itu, sebagian tubuh gunung runtuh dan masuk ke laut.
Peristiwa tersebut memicu tsunami yang menerjang sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung. Bencana itu menimbulkan korban jiwa dan meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat.
Jauh sebelum itu, Krakatau juga memicu tsunami besar pada 1883. Sejarah tersebut membuat aktivitas Anak Krakatau selalu mendapat perhatian lebih besar.
Rita memahami alasan masyarakat kembali mengkhawatirkan tsunami.
“Jadi kekhawatiran mengenai potensi tsunami ini muncul, karena Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah pernah memicu tsunami akibat runtuhnya sebagian tubuh gunung pada 22 Desember 2018,” ucapnya.
Namun, ia menegaskan kondisi Anak Krakatau sekarang tidak sama dengan situasi yang memicu tsunami pada 2018.
“Namun kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda,” tambahnya.
Perbedaan kondisi tersebut menjadi alasan PVMBG tidak langsung mengaitkan erupsi saat ini dengan ancaman tsunami.
Gunung aktif tetap menyimpan risiko
Meski PVMBG belum melihat indikasi keruntuhan besar, risiko vulkanik tetap ada. Aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.
Karena itu, petugas terus memantau perkembangan Anak Krakatau. Mereka juga mengamati perubahan bentuk tubuh gunung secara intensif.
Rita menegaskan hal tersebut.
“Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung tetap kami pantau secara intensif,” katanya.
Pernyataan itu menunjukkan satu hal penting. Tidak adanya indikasi tsunami saat ini bukan berarti masyarakat boleh mengabaikan aktivitas gunung.
Kewaspadaan tetap diperlukan karena gunung api memiliki dinamika yang dapat berubah dengan cepat.
Antara erupsi dan kepanikan
Anak Krakatau bukan hanya menghadirkan persoalan geologi. Erupsi juga menguji cara masyarakat memahami risiko.
Suara dentuman dapat memicu kepanikan. Video semburan lava juga dapat menyebar cepat melalui media sosial.
Masalah muncul ketika potongan informasi tersebut masyarakat tafsirkan tanpa melihat data pemantauan. Dentuman kemudian dianggap sebagai tanda tsunami, meski belum ada bukti yang mendukung kesimpulan itu.
Di sinilah informasi resmi memiliki peran penting. Masyarakat membutuhkan penjelasan yang cepat, tetapi juga membutuhkan data yang akurat.
Erupsi Anak Krakatau bukan sekadar cerita tentang lava, abu, dan dentuman. Ini juga cerita tentang bagaimana masyarakat menghadapi ketakutan yang lahir dari sejarah.
Saat ini, PVMBG menyatakan tubuh gunung relatif stabil dan belum menunjukkan potensi keruntuhan besar yang dapat memicu tsunami.
Namun, pengawasan tetap berjalan.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Petugas memantau aktivitasnya melalui Pos Pengamatan Gunung Api di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
Di tengah aktivitas yang kembali meningkat, pesan utamanya sederhana waspada terhadap aktivitas gunung, tetapi jangan membangun kepanikan dari informasi yang belum terverifikasi. @dimas








