Ambisi pertumbuhan ekonomi 8 persen menguji kualitas kepemimpinan Indonesia. Bisakah target besar itu bertahan melampaui slogan politik?
Tabooo.id – Target pertumbuhan ekonomi 8 persen menjadi salah satu janji terbesar menuju Indonesia Emas 2045. Angka itu terdengar optimistis. Pemerintah menghadirkannya sebagai simbol lompatan menuju status negara maju.
Namun sejarah ekonomi Indonesia menyimpan catatan yang jauh lebih rumit.
Selama puluhan tahun, Indonesia berkali-kali mencatat pertumbuhan tinggi. Akan tetapi, negara ini belum pernah mempertahankan rata-rata pertumbuhan di atas 6 persen selama satu dekade penuh. Apalagi selama dua dekade seperti yang pernah dicapai Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, China, India, dan Vietnam.
Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah Indonesia bisa tumbuh 8 persen dalam satu atau dua tahun. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia mampu menjaga pertumbuhan tinggi secara berkelanjutan selama puluhan tahun.
Ketika Angka Bertemu Realitas
Sebagian pejabat sering merujuk pertumbuhan ekonomi 8,2 persen pada 1995 atau periode tertentu saat ekonomi tumbuh di atas 6 persen. Data itu memang benar. Namun angka tersebut tidak mencerminkan keberhasilan pembangunan jangka panjang.
Pertumbuhan tinggi pada dekade 1970-an banyak ditopang ledakan harga minyak dunia. Sementara itu, capaian pada pertengahan 1990-an ternyata berdiri di atas fondasi ekonomi yang rapuh. Krisis Asia 1998 kemudian membuktikan bahwa pertumbuhan tinggi belum tentu berarti ekonomi sehat.
Karena itu, keberhasilan ekonomi tidak bisa diukur dari satu tahun yang gemilang. Ukuran yang lebih relevan adalah kemampuan mempertahankan pertumbuhan selama beberapa generasi pemerintahan.
Di titik inilah Indonesia tertinggal dari sejumlah negara Asia.
Rahasia Negara-Negara yang Berhasil
Taiwan membangun fondasi ekonominya melalui riset dan teknologi sejak 1950-an. Jepang bangkit dari kehancuran perang dengan investasi besar pada industri dan pendidikan. Korea Selatan mengubah negara agraris menjadi raksasa manufaktur dalam beberapa dekade.
China kemudian melampaui semuanya.
Selama hampir empat puluh tahun, negeri itu menjaga rata-rata pertumbuhan ekonomi mendekati 9 persen per tahun. India dan Vietnam menyusul dengan jalur berbeda, tetapi tetap menggunakan fondasi yang sama.
Mereka mengutamakan sektor riil, memperkuat industri, dan mengembangkan sumber daya manusia berpengetahuan tinggi.
Langkah awal mereka juga hampir seragam. Pemerintah membangun pusat riset, laboratorium, perguruan tinggi unggulan, serta infrastruktur yang mendukung inovasi. Setelah itu, negara mendorong lahirnya industri yang mampu bersaing di pasar global.
Taiwan fokus pada semikonduktor. Jepang mengembangkan otomotif dan elektronik. Korea Selatan membangun industri baja dan teknologi. China bergerak lebih agresif dengan mengembangkan hampir semua sektor industri strategis.
Tidak ada jalan pintas dalam proses tersebut.
Faktor yang Sering Diabaikan
Banyak teori menjelaskan sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Sebagian menekankan pentingnya teknologi dan pendidikan. Sebagian lain menyoroti kualitas institusi ekonomi dan politik.
Kedua teori itu penting. Namun pengalaman negara-negara Asia menunjukkan adanya faktor lain yang sering luput dari perhatian.
Faktor itu adalah kepemimpinan politik.
Bukan sekadar pemimpin yang populer. Bukan pula pemimpin yang piawai berpidato.
Negara-negara sukses justru melahirkan pemimpin yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Deng Xiaoping di China mengelilingi dirinya dengan teknokrat dan ekonom terbaik. Jepang memberi ruang besar kepada para profesor ekonomi untuk merancang arah pembangunan nasional. Taiwan, Korea Selatan, dan India juga menempuh jalur serupa.
Mereka tidak menempatkan ahli sebagai pelengkap kekuasaan. Mereka menjadikan pengetahuan sebagai mesin utama pembangunan.
Indonesia dan Masalah Konsistensi
Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, Indonesia juga memiliki pasar domestik besar dan posisi geografis yang strategis.
Namun keunggulan itu belum pernah berubah menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang.
Salah satu penyebabnya adalah lemahnya konsistensi kebijakan.
Setiap pergantian pemerintahan sering menghadirkan prioritas baru. Program berubah. Narasi berganti. Bahkan arah pembangunan kerap menyesuaikan kebutuhan politik jangka pendek.
Akibatnya, negara bergerak seperti pelari estafet yang terus mengubah arah lintasan setiap kali tongkat berpindah tangan.
Kondisi tersebut membuat banyak agenda strategis kehilangan momentum sebelum mencapai hasil.
Masalahnya bukan karena Indonesia kekurangan sumber daya. Tantangan terbesar justru muncul ketika negara gagal menjaga kesinambungan visi pembangunan.
Ambisi 8 Persen dan Ujian Kepemimpinan
Target pertumbuhan 8 persen pada akhirnya bukan sekadar soal ekonomi. Target itu merupakan ujian terhadap kualitas kepemimpinan nasional.
Apakah pemerintah mampu membangun strategi besar yang bertahan melampaui siklus politik lima tahunan?
Apakah para pengambil kebijakan bersedia mendengarkan kritik, masukan, dan pengetahuan dari luar lingkar kekuasaan?
Negara-negara Asia yang berhasil menunjukkan pola yang hampir sama. Mereka membangun industri sebelum membangun kebanggaan, mereka memperkuat laboratorium sebelum memperkuat pencitraan, mereka memberi ruang kepada ilmuwan sebelum memberi panggung kepada propaganda.
Pilihan-pilihan itulah yang kemudian menghasilkan pertumbuhan tinggi dalam jangka panjang.
Pertanyaan yang Akan Dijawab Sejarah
Indonesia saat ini berdiri di persimpangan penting.
Di satu sisi, ambisi menjadi negara maju pada 2045 membuka peluang besar. Di sisi lain, sejarah menunjukkan bahwa tidak ada negara yang mencapai kemajuan hanya dengan mengandalkan slogan pembangunan.
Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan lahir dari disiplin, konsistensi, dan keberanian belajar.
Karena itu, perdebatan mengenai target 8 persen seharusnya tidak berhenti pada angka.
Perdebatan sesungguhnya adalah tentang arah bangsa.
Apakah Indonesia sedang membangun masa depan berdasarkan ilmu pengetahuan, industrialisasi, dan strategi jangka panjang?
Ataukah kita kembali mengulang kebiasaan lama menjual optimisme besar yang terdengar meyakinkan hari ini, tetapi gagal bertahan ketika sejarah mulai menghitung hasilnya? @dimas







