Selasa, Mei 5, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Ajang Silaturahmi atau Flexing? Ini Sisi Lain Tradisi Bukber

by eko
Februari 22, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Kita selalu menyebut bukber sebagai momen silaturahmi. Labelnya hangat, niatnya mulia. Namun praktiknya sering terasa seperti evaluasi hidup berjamaah.

Begitu undangan masuk ke grup, responsnya bukan cuma, “Asyik, ketemu teman lama!” Kadang yang muncul justru kecemasan kecil: nanti ditanya kerja apa, sudah nikah atau belum, gaji berapa, kapan beli rumah. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi atmosfernya bisa berubah drastis.

Alih-alih datang dengan santai, sebagian orang justru menyusun strategi. Outfit dipilih agar terlihat pantas. Jawaban dirapikan supaya terdengar meyakinkan. Bahkan, topik aman sudah disiapkan untuk menghindari pertanyaan sensitif.

Padahal, niat awalnya cuma ingin ketawa bareng.

Dari Nostalgia ke Kompetisi Halus

Awal pertemuan biasanya menyenangkan. Tawa pecah saat mengingat guru galak atau drama cinta masa sekolah. Cerita lama mengalir tanpa beban. Lalu, perlahan, arah obrolan berubah.

Ini Belum Selesai

Fleksibilitas atau Eksploitasi Baru: Benarkah Pekerja Digital Sudah Merdeka?

Dokter Semakin Banyak, Tapi Mengapa Kesejahteraan Semakin Tipis?

Seseorang membagikan kabar promosi. Teman lain menunjukkan foto prewedding. Ada pula yang menceritakan bisnisnya yang berkembang pesat. Cerita-cerita itu valid dan membanggakan.

Namun setelah itu, suasana sering bergeser ke mode perbandingan. Tanpa sadar, orang mulai mengukur diri sendiri. Timeline hidup dibandingkan. Standar keberhasilan dipasang diam-diam.

Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Budaya media sosial membiasakan kita menampilkan versi terbaik dari hidup. Akibatnya, saat bertemu langsung, refleks itu tetap terbawa. Orang ingin terlihat stabil. Ingin terdengar sukses. Ingin dianggap “jadi.”

Masalahnya bukan pada pencapaiannya, melainkan pada tekanan tak tertulis yang mengikutinya. Ketika percakapan berubah menjadi ajang pembuktian, hubungan yang tadinya cair bisa terasa kaku.

Bangga Itu Wajar, Kompetitif Itu Melelahkan

Di sisi lain, tentu tidak adil jika kita melabeli semua cerita sukses sebagai pamer. Teman yang bekerja keras lalu mendapat promosi pantas merasa bangga. Mereka berhak berbagi kabar baik.

Selain itu, kisah keberhasilan bisa memotivasi. Mendengar perjuangan orang lain kadang justru memberi energi baru. Bahkan, bukber dapat menjadi ruang inspirasi jika percakapan berjalan setara.

Akan tetapi, inspirasi berubah menjadi tekanan ketika muncul standar seragam. Umur tertentu harus menikah. Usia tertentu wajib punya rumah. Karier harus menanjak cepat. Pola pikir seperti ini membuat banyak orang merasa tertinggal, meskipun mereka sebenarnya sedang berjalan di jalur yang berbeda.

Pertanyaan sederhana seperti “Kapan nikah?” atau “Masih di kantor lama?” sering terdengar ringan. Namun bagi sebagian orang, kalimat itu memicu overthinking panjang setelah acara selesai.

Karena itu, konteks dan cara menyampaikan jauh lebih penting daripada isi ceritanya.

Mengubah Arah Percakapan

Jika suasana terasa kompetitif, kita sebenarnya bisa menggeser arahnya. Mulailah dengan pertanyaan yang lebih manusiawi. Tanyakan kabar secara tulus. Dengarkan tanpa niat membandingkan.

Daripada fokus pada “Sudah sampai mana?”, kita bisa mengganti dengan “Lagi menikmati fase apa sekarang?” Perubahan kecil dalam diksi bisa mengubah suasana besar dalam perasaan.

Di saat yang sama, setiap orang juga perlu berdamai dengan ritme hidup masing-masing. Tidak semua orang ingin menikah cepat. Tidak semua orang mengejar jabatan tinggi. Bahkan, tidak semua orang mendefinisikan sukses dengan angka gaji.

Hidup bukan lomba dengan satu garis akhir yang sama untuk semua peserta.

Jika kamu sedang merintis, kamu tetap berharga. Kalau kamu masih mencari arah, kehadiranmu tetap berarti. Sebaliknya, bila kamu sedang di puncak pencapaian, rayakanlah tanpa merendahkan yang lain.

Jadi, Bukber Itu Tentang Apa?

Pada akhirnya, bukber bisa menjadi ruang hangat atau arena adu prestasi. Pilihan itu tidak sepenuhnya ditentukan oleh tempat makan atau daftar menu, melainkan oleh sikap orang-orang di dalamnya.

Ketika empati lebih dominan daripada ego, silaturahmi terasa tulus. Namun jika validasi sosial lebih dicari daripada koneksi emosional, suasana cepat berubah menjadi kompetisi.

Maka pertanyaannya kembali ke diri masing-masing: saat duduk di meja bukber, kamu ingin hadir sebagai teman atau sebagai peserta lomba tak resmi?

Lalu, kamu di kubu mana? @eko

Tags: SilaturahmiTalk

Kamu Melewatkan Ini

Harga Tembakau Madura Naik, Tapi Kuasa Masih di Tangan Pasar

Harga Tembakau Madura Naik, Tapi Kuasa Masih di Tangan Pasar

by teguh
April 20, 2026

Tabooo.id: Deep - Malam itu, Monumen Arek Lancor di Pamekasan tidak sekadar menampung acara silaturahmi. Tempat itu menampung kegelisahan lama...

Tembang Macapat Menjaga Harapan Petani Tembakau Madura

Tembang Macapat Menjaga Harapan Petani Tembakau Madura

by teguh
April 20, 2026

Malam di Monumen Arek Lancor, Pamekasan, terasa berbeda. Saat Tembang Macapat dan semangat kebersamaan mengalun, para kepala desa, pengusaha, dan...

Haji Her Satukan Kades dan Pengusaha Tembakau

Haji Her Satukan Kades dan Pengusaha Tembakau

by teguh
April 19, 2026

Tabooo.id: Nasional - Di tengah naik-turun nasib sektor pertanian, suara tegas datang dari Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Pengusaha rokok Khairul...

Next Post
Dua Tewas, 198 Pekerja Angkat Kaki: Tambang Emas Nabire Kembali Memanas

Dua Tewas, 198 Pekerja Angkat Kaki: Tambang Emas Nabire Kembali Memanas

Pilihan Tabooo

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Mei 3, 2026

Realita Hari Ini

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Mei 5, 2026

Jurnalis di Papua Terus Diteror, Kebebasan Pers Masih Sekadar Janji?

Mei 5, 2026

Virus Langka Pecah di Laut: 3 Tewas, Dunia Mulai Khawatir

Mei 5, 2026

Saat Dunia Guncang, Barito Pacific Justru Tancap Gas 200% Lebih

Mei 5, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id