Tabooo.id: Talk – Memanggil orang yang lebih tua dengan nama sering langsung menuai cap tidak sopan. Banyak orang buru-buru menyebutnya kurang ajar, tidak tahu adat, atau terlalu kebarat-baratan. Seolah ada aturan tak tertulis yang melarang kita menyebut nama orang yang usianya di atas kita. Padahal, kita hanya menyebut identitasnya bukan menghina, bukan merendahkan.
Lantas, benarkah ini murni soal sopan santun? Atau jangan-jangan kita hanya mempertahankan kebiasaan lama tanpa pernah benar-benar mengujinya?
Budaya Hierarki dan Bahasa Penghormatan
Pertama-tama, kita perlu mengakui satu hal: budaya Indonesia menjunjung hierarki. Kita menghormati usia, menghargai jabatan, dan menjaga posisi sosial. Sejak kecil, orang tua dan guru menanamkan pesan yang sama kalau berbicara dengan yang lebih tua, kita harus tahu diri.
Karena itu, kita menggunakan panggilan seperti Bapak, Ibu, Mas, Mbak, atau Kak. Melalui sapaan tersebut, kita menunjukkan rasa hormat sekaligus mengakui jarak sosial. Saat kita menyebut Pak Andi, kita tidak sekadar memanggil menegaskan struktur relasi.
Sebaliknya, ketika kita hanya menyebut Andi, jarak itu menyempit. Hubungan terasa lebih setara. Di titik inilah sebagian orang mulai merasa tidak nyaman. Mereka khawatir kesetaraan akan menggerus penghormatan.
Namun, apakah jarak selalu identik dengan hormat?
Nama sebagai Identitas dan Ruang Kesetaraan
Di sisi lain, nama merupakan identitas personal. Setiap orang memperkenalkan diri dengan namanya, bukan dengan gelarnya. Maka ketika seseorang berkata, Nama saya Rina, ia sebenarnya membuka ruang untuk dipanggil Rina.
Selain itu, dalam banyak lingkungan profesional modern, orang mendorong komunikasi yang lebih egaliter. Di perusahaan multinasional, karyawan memanggil atasan dengan nama depan. Di industri kreatif, founder meminta timnya untuk menghapus gelar agar komunikasi terasa cair.
Menariknya, rasa hormat tidak serta-merta hilang. Justru, banyak tim merasa lebih nyaman berdiskusi dan lebih berani menyampaikan ide. Artinya, sikap profesional dan etika kerja tetap berjalan meskipun panggilan berubah.
Dengan kata lain, pilihan kata memang penting, tetapi sikap jauh lebih menentukan.
Namun, Konteks Tetap Menentukan
Meski begitu, kita tidak bisa mengabaikan fungsi sosial dari panggilan formal. Di ruang publik, sapaan seperti Mas atau Mbak membantu menjaga kesantunan, terutama ketika kita belum mengenal nama seseorang. Dalam konteks pelayanan, panggilan tersebut membuat interaksi terasa lebih hangat dan menghargai.
Selain itu, banyak orang yang merasa dihargai ketika orang lain menggunakan gelar tertentu. Mereka melihat panggilan formal sebagai bentuk pengakuan atas pengalaman hidup dan perjalanan panjang yang sudah mereka lalui.
Karena itu, jika kita tiba-tiba menghapus semua gelar tanpa memahami konteks, kita berisiko menyinggung perasaan orang lain. Bukan karena mereka anti-kesetaraan, melainkan karena mereka memaknai gelar sebagai simbol penghormatan.
Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks. Kita tidak sedang memilih antara benar dan salah, melainkan antara kebiasaan lama dan cara baru yang sama-sama punya dasar logis.
Soal Intent, Bukan Sekadar Istilah
Akhirnya, kita sampai pada inti persoalan: rasa hormat tidak lahir dari satu kata saja. Nada bicara, pilihan sikap, dan cara memperlakukan orang lain jauh lebih menentukan.
Seseorang bisa memanggil Pak sambil meremehkan, dan itu tetap tidak sopan. Sebaliknya, seseorang bisa menyebut nama dengan nada tulus dan penuh respek, lalu tetap menjaga etika dalam setiap interaksi.
Oleh sebab itu, alih-alih menghakimi generasi lain, kita sebaiknya mulai membiasakan diri untuk membaca situasi. Jika seseorang memperkenalkan diri tanpa gelar dan mengundang kita memanggil namanya, kita tidak perlu merasa bersalah. Namun jika seseorang jelas lebih nyaman dengan panggilan formal, kita pun perlu menghargainya.
Budaya memang membentuk kita. Akan tetapi, budaya juga berkembang mengikuti zaman. Kita bisa menjaga nilai hormat tanpa harus membekukan bentuknya.
Jadi, memanggil orang yang lebih tua dengan nama bukan otomatis tindakan tidak sopan. Sebaliknya, memaksakan gelar tanpa memahami preferensi pribadi juga bukan langkah bijak.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah kita menghargai orangnya, atau hanya mempertahankan simbolnya?
Lalu, kamu di kubu mana? @eko





