Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tunjangan Naik, Nurani Tetap Kosong: Pelajaran dari OTT Hakim Depok

by dimas
Februari 9, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – “Air habis. Lubang tetap ada.” Kalimat itu muncul di benak setiap orang yang membaca kabar OTT hakim Depok. Sebuah lubang moral yang tak pernah ditambal, meski negara menuangkan tunjangan lebih besar dari sebelumnya. Di ruang rapat yang sepi, seorang hakim menatap layar rekeningnya, angka baru menari-nari. Sementara di luar, rakyat menunggu keadilan. Tidak semua lubang bisa ditutup uang, dan tidak semua angka menenangkan nurani.

Niat Baik di Balik Angka

Presiden Prabowo Subianto menaikkan tunjangan hakim dengan niat jelas agar para penjaga keadilan hidup layak dan berdiri tegak tanpa menengadah pada amplop. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2025 menaikkan tunjangan dari Rp 46,7 juta hingga Rp 110,5 juta per bulan.

Dengan logika sederhana, uang yang cukup seharusnya mencegah godaan. Memberikan gaji memadai bagi hakim adalah investasi moral. Negara berharap integritas tumbuh ketika kebutuhan dasar terpenuhi. Namun, kenyataan menunjukkan wajah lain. Tunjangan yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi lampu hijau bagi kerakusan. Air jernih itu jatuh ke bejana berlubang. Alih-alih menahan nafsu, uang memperluas imajinasi untuk mengambil lebih jauh.

Uang Mengubah Makna Amanah

Ketua PN Depok I Wayan Eka Mariarta dan Wakil Ketua PN Depok Bambang Setyawan menjadi simbol ironi ini. Mereka dan beberapa orang lain ditangkap KPK terkait pengurusan eksekusi lahan. Pada praktiknya, tunjangan baru yang seharusnya menutup celah godaan berubah menjadi bantalan untuk keberanian yang salah arah.

Selain itu, sebagian orang melihat rekening menebal sebagai kesempatan untuk naik kelas. Bukan lagi soal amanah, melainkan soal hak yang diperluas menjadi kebebasan. Kenaikan tunjangan tidak menahan kerakusan, ia justru memberi keberanian untuk melampaui batas. Kerakusan tidak berhenti ketika kebutuhan terpenuhi, melainkan ketika rasa malu masih hidup. Sayangnya, rasa malu itu telah lama pensiun dari hati mereka yang tertangkap. Mereka tidak mengambil karena lapar; mereka mengambil karena selera lebih cepat daripada moral mereka tumbuh.

Ini Belum Selesai

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Wajah Lain dari Gaji Mahal

Selain mereka yang tertangkap, banyak hakim lain tetap bergulat dengan godaan yang sama. Setiap hari, mereka menandatangani putusan dan menatap angka di rekening. Tunjangan tinggi memberi kenyamanan, tetapi kenyamanan itu dapat berubah menjadi kecanduan.

Uang tidak mengajarkan moral, ia hanya aksesoris mewah untuk panggung yang sama. Jam tangan mahal tidak membuat orang yang terbiasa terlambat tiba tepat waktu. Kebiasaan lama tetap mengakar, meski dompet penuh. Di sisi lain, masyarakat hanya melihat konferensi pers KPK, borgol, dan berita OTT. Mereka jarang menyadari perjuangan batin para hakim yang berjuang menahan godaan. Sistem menunggu mereka gagal, bukan karena uang, tapi karena keteladanan tidak sampai.

Apa yang Disembunyikan Sistem

Tabooo.id menelisik lebih jauh. Sistem sering berpura-pura bersih, tapi ia hanya memperindah panggung. Lampu panggung menyala terang, namun aktor tetap mengulang kebiasaan lama. Kita membahas gaji, tunjangan, dan angka-angka, tetapi lupa memanggil nurani.

Selain itu, kenaikan tunjangan hanyalah pelumas bagi kerakusan yang ada. Memberi lebih banyak uang kepada orang tanpa pembenahan etika sama dengan memberi bahan bakar kepada api yang sudah menyala. Dengan kata lain, negara memperbaiki gizi dompet, tetapi membiarkan anemia nurani tetap hidup. Tidak ada mekanisme yang menekankan: integritas bukan produk gaji, tetapi hasil dari rasa malu, keteladanan, dan disiplin moral.

Kita percaya bahwa integritas tumbuh dari slip gaji, bukan dari latihan menahan godaan. Setiap kenaikan tunjangan akan berakhir sama janji mulia di awal, OTT di akhir. Itulah ironi yang tersimpan dalam angka dan laporan tahunan.

Saat Kerakusan Menjadi Sistem

Hari ini, tunjangan naik. Besok, ekspektasi ikut naik. Lusa, batas wajar kabur. Sekadar menerima berubah menjadi lumrah. Lumrah berubah menjadi hak. Hak berubah menjadi keberanian. Akhirnya, keberanian itu berhenti hanya ketika borgol menutup tangan, bukan karena kesadaran muncul.

Kita kaget setiap kali OTT terjadi. Namun, kerakusan sudah berjalan lama sebelum kamera KPK menyorot. Orang yang tertangkap tidak lapar mereka rakus karena kesempatan lebih besar dari moral mereka sendiri. Air jernih yang dituang ke bejana berlubang tidak menahan kebocoran. Lalu kita tetap bertanya mengapa tubuh keadilan lemah meski tunjangannya tinggi? Jawabannya sederhana: uang tidak bisa menggantikan watak.

Refleksi: Nilai Moral vs Nilai Nominal

Cerita Depok bukan hanya soal hakim, bukan hanya soal PP Nomor 42 Tahun 2025, bukan hanya soal angka di rekening. Cerita ini soal manusia, pilihan, dan moral yang tidak sampai. Sistem memberi aksesoris, tetapi lupa menanam fondasi.

Kita mempercantik panggung, namun naskahnya tetap buruk. Gaji dinaikkan, tetapi rasa malu tidak tumbuh. Angka bertambah, tapi nurani tetap kosong. Ketika panggung runtuh, kita menyalahkan lampu, bukan aktor yang terbiasa menari tanpa kendali.

Penutup yang Menggugah

Niat baik presiden memberi tunjangan lebih besar tidak salah. Yang salah adalah mengirim pesan moral ke rekening, bukan ke hati. Memberikan jam tangan mahal kepada orang yang selalu terlambat tidak akan membuatnya disiplin. Begitulah uang, cantik di luar, tetapi kosong dari makna jika tidak diimbangi etika.

OTT hanyalah epilog yang kita lihat. Cerita sesungguhnya terjadi di meja hakim, di ruang keputusan, di benak manusia yang bergulat dengan diri sendiri.

Jika niat baik dibalas kerakusan, jangan salahkan niat. Salahkan ilusi bahwa uang bisa menggantikan watak. @dimas

Tags: DepokHakimIntegritasKeadilanKenaikanKorupsi di IndonesiaKPKmoralitasott

Kamu Melewatkan Ini

Agus Salim: Ketika Kecerdasan Tidak Berujung pada Kekayaan

Agus Salim: Ketika Kecerdasan Tidak Berujung pada Kekayaan

by teguh
Juni 9, 2026

"Agus Salim, Orang tua yang sangat pintar ini seorang jenius dalam bidang bahasa, bicara, dan menulis dengan sempurna, paling sedikit...

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

by dimas
Juni 6, 2026

KPK menyita mobil sport, Harley, perhiasan, dan valas dari rumah Silmy Karim. Penyidik menelusuri dugaan korupsi izin tinggal WNA senilai...

Rel Uang di Balik Rel Kereta: Ketika Proyek Negara Jadi Jalur Fee Elite

Rel Uang di Balik Rel Kereta: Proyek Negara Jadi Jalur Fee Elite?

by teguh
Mei 29, 2026

Rel kereta seharusnya membawa orang sampai tujuan. Namun dalam kasus dugaan korupsi proyek jalur kereta di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA)...

Next Post
Gentengisasi: Dari Seng ke Genteng, dari Risiko ke Harapan

Gentengisasi: Dari Seng ke Genteng, dari Risiko ke Harapan

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id