Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Era AI, Siapa yang Kita Percaya: Algoritma atau Jurnalis?

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak kamu membaca berita yang datanya lengkap dan strukturnya rapi, tetapi rasanya hambar? Tulisan itu terlihat benar dari sisi fakta, namun emosinya terasa kosong. Di titik itulah, banyak pembaca mulai mempertanyakan asal-usul tulisan karya manusia atau hasil mesin?

Pertanyaan semacam ini kini sering muncul di ruang publik. Di media sosial, topik ini ramai dibahas. Sementara itu, di ruang redaksi, diskusinya berlangsung lebih serius. Seiring perkembangan AI yang makin cepat, batas antara karya manusia dan algoritma semakin kabur.

Karena alasan itulah, isu ini tidak lagi sekadar soal teknologi, melainkan juga menyangkut nilai jurnalisme. Dalam konteks tersebut, pernyataan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid terasa relevan.

Ketika AI Masuk Redaksi, Kendali Tetap di Tangan Manusia

Saat menghadiri Konvensi Nasional Media Massa dalam rangka Hari Pers Nasional di Serang, Minggu (08/02/2026), Meutya Hafid menyampaikan sikapnya secara tegas. Ia menilai kerja jurnalistik tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada Artificial Intelligence.

Menurutnya, redaksi tetap membutuhkan penilaian manusia. Mesin memang dapat membantu riset dan mempercepat produksi. Akan tetapi, jurnalis harus mengambil keputusan etis dan memikul tanggung jawab sosial.

Ini Belum Selesai

Haul Ki Ageng Tarub: Perkuat Budaya dan Wisata Religi

OTT Bupati Pemalang, KPK Kembali Bongkar Korupsi Kepala Daerah

Langkah konkret juga sudah disiapkan pemerintah. Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Digital tengah merampungkan Peraturan Presiden tentang penggunaan AI. Regulasi tersebut akan menjadi payung hukum pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, termasuk media massa. Prosesnya kini menunggu tahap finalisasi di Kementerian Hukum.

Melalui aturan itu, pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara inovasi dan perlindungan profesi jurnalis.

Efisiensi yang Menggoda, Risiko yang Mengintai

Daya tarik AI bagi industri media terletak pada efisiensi. Dengan bantuan mesin, redaksi dapat memproduksi konten lebih cepat. Volume berita meningkat, sementara biaya operasional menurun.

Tekanan bisnis yang berat membuat banyak manajemen tergoda menjadikan AI sebagai solusi instan. Algoritma mampu mengolah data dalam jumlah besar tanpa lelah. Dari sisi bisnis, pendekatan ini terlihat rasional.

Masalah muncul ketika kecepatan mengalahkan kedalaman. Mesin tidak hidup di tengah masyarakat. Sistem otomatis juga tidak memahami konteks sosial dan emosi publik. Akibatnya, berita bisa tersaji cepat, tetapi kehilangan makna.

Disinformasi dan Kepercayaan Publik

Di sisi lain, ancaman disinformasi terus membesar. Arus informasi bergerak begitu cepat, sering kali melampaui proses verifikasi. Konten viral melaju tanpa sempat diperiksa ulang.

Algoritma hanya membaca angka interaksi. Selama klik dan share meningkat, sistem akan terus mendorong konten tersebut. Dalam kondisi ini, kesalahan kecil dapat berkembang menjadi kebingungan massal.

Peran jurnalis manusia menjadi krusial di titik ini. Mereka memeriksa fakta, memberi konteks, dan mempertimbangkan dampak sosial dari setiap berita. Tanpa proses tersebut, media berisiko kehilangan kepercayaan publik.

Soal Nilai, Bukan Sekadar Teknologi

Perdebatan tentang AI sering berhenti pada kecanggihan. Padahal, inti persoalan justru terletak pada nilai. Mesin unggul dalam kecepatan, sementara manusia unggul dalam empati dan pertimbangan moral.

Atas dasar itu, Meutya mendorong dialog terbuka antara pemerintah dan media massa. Ia mengajak semua pihak membangun kesepahaman bersama. Harapannya, regulasi yang lahir mampu menjaga kualitas jurnalistik tanpa menghambat inovasi.

Dampaknya ke Gaya Hidup Kita

Isu ini terasa dekat dengan kehidupan Gen Z dan Milenial. Banyak orang kini memakai AI untuk menulis caption, menyusun email, bahkan mencari teman bicara. Teknologi membantu, tetapi ketergantungan berlebihan bisa mengikis refleksi dan empati.

Hidup memang terasa lebih praktis. Namun, ketika mesin mengambil terlalu banyak peran, hubungan antarmanusia berisiko menjadi dangkal.

Penutup

AI akan terus berkembang, dan penolakan bukan solusi. Yang dibutuhkan adalah batas yang jelas. Dalam jurnalisme, sentuhan manusia menjaga kepercayaan publik. Dalam kehidupan sehari-hari, sentuhan manusia menjaga makna.

Sekarang, pertanyaannya sederhana di tengah hidup yang makin otomatis, bagian mana yang masih ingin kamu pertahankan tetap manusiawi?. @teguh

Tags: algoritmainovasiJurnalisJurnalismeKaryaManusiaMedia SosialMenkomdigiRegulasiSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

LinkedIn Isinya “Saya Bangga Mengumumkan” Dan Gen Z Mengatakan: Skip Dulu, Kak.

LinkedIn Isinya “Saya Bangga Mengumumkan” Dan Gen Z Mengatakan: Skip Dulu, Kak.

by teguh
Juli 26, 2026

Ketika "Open to Work" seperti yang ada di Linkedin kalah pamor dari "Close Friends". Dunia kerja tak lagi dimulai dari...

Gen Z Menggeser LinkedIn: Dunia Kerja Resmi Masuk Era Algoritma

Gen Z Menggeser LinkedIn: Dunia Kerja Resmi Masuk Era Algoritma

by teguh
Juli 26, 2026

Terlepas dari tampilannya, dunia kerja sedang mengalami perubahan besar. Dunia Kerja Resmi Masuk Era Algoritma. Dulu, satu profil LinkedIn yang...

AI Makin Pintar, Mengapa Manusia Justru Berhenti Berpikir?

AI Makin Pintar, Mengapa Manusia Justru Berhenti Berpikir?

by dimas
Juli 21, 2026

AI mempermudah pekerjaan manusia, tetapi ketergantungan yang berlebihan dapat mengikis kebiasaan berpikir kritis. Benarkah kecerdasan buatan membuat manusia semakin cerdas,...

Next Post
Pejabat Palestina Sebut Trump Jadikan Dewan Perdamaian Alternatif PBB

Pejabat Palestina Sebut Trump Jadikan Dewan Perdamaian Alternatif PBB

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id