Tabooo.id: Global – Rusia menyatakan mulai 4 Februari para pihak dalam Perjanjian Pengurangan dan Pembatasan Senjata Serangan Strategis (New START) tidak lagi terikat kewajiban dan deklarasi simetris. Dengan keputusan ini, Moskow memberi sinyal bahwa setiap negara kini dapat menentukan sendiri arah kebijakan senjata nuklir strategisnya.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyampaikan sikap tersebut pada Rabu (4/2). Melalui pernyataan ini, Moskow sekaligus menandai perubahan besar dalam dinamika pengendalian senjata antara Rusia dan Amerika Serikat.
Upaya Perpanjangan yang Berujung Buntu
Sebelumnya, Rusia aktif mendorong perpanjangan New START. Moskow mengajukan inisiatif terakhir pada 22 September.
Selain itu, Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengusulkan agar pembatasan senjata tetap berlaku. Usulan tersebut mencakup masa transisi setidaknya satu tahun setelah perjanjian berakhir.
Menurut Moskow, langkah itu bertujuan mencegah kekosongan aturan. Tanpa kerangka hukum, risiko eskalasi meningkat.
Namun hingga kini, Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi melalui saluran bilateral. Karena itu, Rusia menyimpulkan bahwa kewajiban simetris dalam New START tidak lagi berlaku.
Moskow Tentukan Langkah Sendiri
Selanjutnya, Rusia menyatakan akan menyusun kebijakan senjata strategisnya secara bertanggung jawab dan seimbang.
Pemerintah Rusia mendasarkan kebijakan tersebut pada analisis terhadap kebijakan militer Amerika Serikat. Pada saat yang sama, Moskow juga mempertimbangkan kondisi keamanan global.
Lebih lanjut, Rusia menegaskan kesiapan mengambil langkah militer-teknis jika muncul ancaman tambahan terhadap keamanan nasional.
Di sisi lain, Moskow tetap membuka ruang dialog.
“Negara kami tetap terbuka untuk mencari cara-cara politik dan diplomatik guna menstabilkan situasi strategis,” ujar Kementerian Luar Negeri Rusia.
Dunia Hadapi Risiko Baru
Selama ini, New START menjadi satu-satunya perjanjian yang mengikat secara hukum antara Amerika Serikat dan Rusia. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis, sistem peluncur, serta rudal balistik antarbenua.
Dengan melemahnya kerangka tersebut, dunia menghadapi risiko besar. Persaingan nuklir berpotensi kembali berlangsung tanpa regulasi jelas.
Akibatnya, ketegangan geopolitik bisa meningkat. Selain itu, negara-negara besar dapat memperbesar anggaran militernya. Pada akhirnya, pergeseran prioritas itu berpotensi menekan belanja publik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Bagi publik global, langkah Rusia ini menjadi peringatan. Ketika kekuatan besar kembali sibuk mengatur persenjataan, dunia patut bertanya: apakah diplomasi masih menjadi panglima, atau justru senjata kembali mengambil alih panggung utama? @dimas




