Kamis, Juni 11, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Eskalasi Lebanon-Israel Memanas, Hizbullah Tolak Opsi Menyerah

by dimas
Februari 5, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa organisasinya tidak akan mundur menghadapi Israel. Ia menyatakan Hizbullah memilih bertahan dan melawan, bukan menyerah.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara peringatan 33 tahun berdirinya Yayasan Pendidikan dan Pelatihan Islam. Di hadapan pendukungnya, Qassem menyebut Hizbullah sedang menghadapi agresi yang ia anggap bersifat eksistensial.

“Musuh menduduki tanah kita. Tanah air ini milik kita. Kami tidak akan menyerahkan sejengkal pun sementara rakyat kami terus diserang,” ujar Qassem, pada Rabu (4/2/2026).

Nada bicara Qassem lugas dan konfrontatif. Ia ingin memastikan satu pesan sampai: Hizbullah tidak melihat konflik ini sebagai pertarungan sementara, melainkan sebagai soal hidup dan mati.

Barat, Keamanan Israel, dan Bayangan “Israel Raya”

Qassem menilai narasi Barat tentang “keamanan Israel” menyimpan agenda yang lebih besar. Menurutnya, istilah itu menjadi pintu masuk bagi ambisi memperluas wilayah Israel.

Ini Belum Selesai

Harga Pertamax Melonjak, Dompet Rakyat Kian Tercekik

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

“Ketika Barat berbicara tentang keamanan Israel, mereka sebenarnya menginginkan Israel Raya,” tambahnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan kecurigaan lama poros perlawanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Di mata Hizbullah, konflik bukan sekadar benturan militer, tetapi juga pertarungan geopolitik yang melibatkan kepentingan global.

Bagi masyarakat Lebanon, wacana ini bukan teori abstrak. Setiap eskalasi berarti risiko serangan baru, kerusakan lebih luas, dan ketidakpastian yang semakin panjang.

Pesan Keras untuk Pemerintah Lebanon

Qassem juga mengarahkan pesannya ke dalam negeri. Ia meminta para pejabat Lebanon berhenti menekan rakyat sendiri di tengah situasi genting.

“Rakyat telah berkorban begitu banyak. Anda tidak bisa menekan mereka lagi. Posisi kami jelas: bertahan, bukan menyerah,” tegasnya.

Pernyataan ini muncul di tengah tekanan internasional terhadap Lebanon agar membatasi atau melucuti senjata Hizbullah. Qassem menolak tuntutan tersebut mentah-mentah.

Menurutnya, seruan perlucutan senjata bukan bertujuan menciptakan stabilitas, melainkan membuka jalan untuk melenyapkan Hizbullah sepenuhnya.

Tuduhan: Israel Sasar Warga Sipil

Qassem menuduh Israel gagal menundukkan pasukan Hizbullah di medan tempur. Akibatnya, kata dia, Israel mengalihkan serangan ke sasaran yang lebih mudah warga sipil dan infrastruktur.

“Mereka menargetkan rumah-rumah, permukiman, dan warga sipil,” pungkasnya.

Tudingan itu sejalan dengan laporan serangan Israel di wilayah utara dan selatan Sungai Litani pada Senin (2/2/2026). Serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya.

Otoritas Israel mengklaim mereka menyerang infrastruktur militer Hizbullah. Namun, dampak di lapangan menunjukkan kawasan permukiman ikut rusak, memaksa warga hidup di tengah reruntuhan dan ketakutan.

Warga Sipil di Tengah Dua Api

Eskalasi ini paling keras menghantam warga sipil Lebanon. Mereka menghadapi risiko kehilangan rumah, akses layanan dasar, dan sumber penghidupan.

Petani di wilayah selatan kesulitan mengolah lahan. Pedagang kecil kehilangan pelanggan. Anak-anak tumbuh di bawah suara drone dan dentuman ledakan.

Sementara para aktor politik berbicara tentang strategi, ideologi, dan geopolitik, warga biasa bergulat dengan satu pertanyaan sederhana apakah mereka bisa selamat hingga besok.

Konflik yang Menjauh dari Kata Selesai

Pernyataan Naim Qassem mempertegas bahwa jalan damai belum terlihat di depan mata. Hizbullah memilih bertahan. Israel terus menyerang. Barat tetap berbicara tentang keamanan.

Di tengah semua itu, rakyat Lebanon dan kawasan sekitarnya kembali menjadi catatan kaki dalam perang besar yang tak mereka rancang.

Di Timur Tengah, tampaknya yang paling konsisten bukanlah gencatan senjata, melainkan siklus kekerasan yang selalu menemukan alasan baru untuk berulang. @dimas

Tags: GeopolitikGlobalHizbullahIsraelKemanusiaanKonflik DuniaKrisis GlobalLebanonperangPolitik IndonesiaSipilTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

by dimas
Juni 9, 2026

Sosialisme pernah menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan Indonesia. Namun kekuasaan mengubahnya menjadi kata terlarang yang terus dibayangi stigma, ketakutan,...

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

by Tabooo
Juni 8, 2026

Di awal berdirinya republik, Tan Malaka menuntut Merdeka 100%, sementara Soekarno-Hatta memilih jalan negara, pengakuan internasional, dan kalkulasi politik yang...

Demokrasi Tanpa Oposisi: Stabil atau Berbahaya?

Demokrasi Tanpa Oposisi: Stabil atau Berbahaya?

by dimas
Juni 8, 2026

Demokrasi membutuhkan pengawasan. Namun ketika oposisi melemah, apakah suara rakyat masih memiliki wakil yang kuat? Tabooo.id - Langit demokrasi tidak...

Next Post
Pemerintah Bantah Isu Perombakan Kabinet

Pemerintah Bantah Isu Perombakan Kabinet

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id