Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

iPhone Air Kurang Laku: Saat Tipis Tak Lagi Jadi Daya Tarik

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Coba jujur sebentar. Kapan terakhir kali kamu masuk toko gadget sambil berkata, Aku butuh HP yang paling tipis? Kalau kamu harus mikir lama, kamu tidak sendirian. Justru dari pertanyaan sepele inilah kisah iPhone Air bermula.

Apple meluncurkan iPhone Air pada September 2025 bersama iPhone 17 series. Secara visual, ponsel ini terlihat futuristik. Desainnya ramping, bodinya ringan, dan tampil beda dibanding iPhone lain. Namun, pasar ternyata tidak langsung jatuh cinta. Desain tipis saja belum cukup untuk memicu keputusan beli.

Angka Bicara: iPhone Air Tertinggal Jauh

Data terbaru dari Consumer Intelligence Research Partners (CIRP) memperlihatkan kenyataan yang cukup kontras. Pada kuartal pertama ketersediaan penuh hingga Desember, hanya 6 persen pembeli iPhone di Amerika Serikat yang memilih iPhone Air.

Sebaliknya, konsumen lebih banyak memilih:

  • iPhone 17 reguler: 22 persen
  • iPhone 17 Pro: 25 persen
  • iPhone 17 Pro Max: 27 persen

Menariknya, model paling mahal justru menjadi favorit. Artinya, konsumen Apple tidak sekadar mengejar harga murah. Mereka lebih mempertimbangkan nilai guna, fitur, dan rasa aman dalam jangka panjang.

Ini Belum Selesai

Kapolda Sulsel Usul Arena Tawuran 10 Lawan 10, Polisi Bidik Produsen Busur

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Selain itu, CIRP menyusun data ini dari survei terhadap 500 konsumen AS yang membeli produk Apple antara Oktober hingga Desember 2025. Dengan kata lain, data ini cukup kuat untuk membaca arah minat pasar.

Sejak Awal, iPhone Air Bukan Andalan Utama

Menurut laporan CNN pada 28 Januari, sejumlah analis menilai Apple tidak pernah menyiapkan iPhone Air sebagai bestseller. Sebaliknya, Apple menghadirkannya sebagai opsi tambahan sekaligus eksperimen desain. Melalui iPhone Air, Apple ingin membuka jalan menuju inovasi selanjutnya, termasuk model iPhone lipat.

Namun demikian, pasar tidak selalu ramah terhadap eksperimen. Konsumen cenderung memilih produk dengan fungsi jelas dan manfaat langsung. Sampai saat ini, Apple juga belum memberikan komentar resmi soal penjualan iPhone Air atau rencana masa depannya. Sikap diam ini justru memperkuat spekulasi.

Tak berhenti di situ, The Information melaporkan bahwa Apple menunda pengembangan iPhone Air generasi kedua karena penjualan yang melambat. Sementara itu, Nikkei Asian Review menyebut Apple memangkas produksi iPhone Air dan meningkatkan pesanan untuk model lain.

Masalah Utamanya: Tipis Bukan Prioritas

Josh Lowitz, analis CIRP, menyampaikan kesimpulan yang lugas “Orang-orang tidak peduli dengan ponsel tipis.”

Mayoritas pembeli iPhone Air membeli ponsel ini karena mereka mengganti perangkat lama. Mereka tidak mengejar ketipisan sebagai nilai utama. Carolina Milanesi dari Creative Strategies menguatkan pandangan tersebut. Menurutnya, konsumen tidak datang ke toko dengan harapan ponsel mereka terasa lebih ringan.

Secara psikologis, hal ini masuk akal. Otak manusia lebih responsif terhadap solusi nyata daripada keunggulan estetika. Tipis memang menarik, tetapi tidak menyelesaikan masalah sehari-hari.

Tenggelam di Antara Saudara Sendiri

Masalah lain muncul dari internal Apple sendiri. iPhone Air harus bersaing dengan lini yang sangat kuat.

iPhone 17 Pro Max menawarkan layar besar, baterai tahan lama, dan kamera tiga lensa. iPhone 17 Pro menghadirkan fitur serupa dengan ukuran lebih ringkas. Sementara itu, iPhone 17 reguler menjadi opsi paling rasional dari sisi harga dan performa.

Akibatnya, iPhone Air hanya unggul dalam satu hal ketipisan. Di sisi lain, kapasitas baterainya lebih kecil dan fiturnya tidak semewah model Pro. Michael Levin dari CIRP menyebut model lain “menguras semua perhatian”, dan iPhone Air kehilangan momentum.

Pola Lama Apple yang Terulang

Sebelumnya, Apple pernah mencoba menghadirkan model alternatif seperti iPhone Mini dan iPhone Plus. Namun, Apple akhirnya menghentikan keduanya karena permintaan lemah. Pola ini kembali terulang pada iPhone Air.

Dari sini, terlihat bahwa pasar Apple cenderung konservatif. Konsumen menyukai pilihan yang jelas dan mudah dipahami. Ketika sebuah produk terlalu spesifik, daya tariknya justru menyempit.

Saat Lifestyle Berubah: Fungsi Mengalahkan Gaya

Fenomena iPhone Air mencerminkan perubahan gaya hidup yang lebih luas. Dulu, desain tipis melambangkan kemajuan teknologi. Sekarang, orang lebih memprioritaskan fungsi.

Di tengah ritme hidup cepat, multitasking, dan kelelahan digital, konsumen mencari perangkat yang tahan lama, bertenaga, dan andal. Selain itu, banyak orang merasa lebih aman secara psikologis saat membeli ponsel dengan fitur lengkap, meskipun tidak semuanya mereka gunakan.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kisah iPhone Air bukan sekadar cerita soal Apple. Cerita ini juga menggambarkan cara kita mengambil keputusan hari ini. Kita tidak lagi mudah tergoda gimmick. Kita lebih memilih sesuatu yang relevan dan fungsional.

Mungkin sekarang bukan eranya lagi mengejar yang paling tipis. Kita hidup di era paling masuk akal. Dan tanpa sadar, pilihan itu menunjukkan bahwa selera dan cara berpikir kita sudah naik level. @teguh

Tags: AppleFuturistikGadgetHPiPhoneProdukSmartphone

Kamu Melewatkan Ini

Handphone Belum Mati, Tapi Ekosistem Sudah Mengusirnya

Handphone Belum Mati, Tapi Ekosistem Sudah Mengusirnya

by teguh
September 10, 2026

Sebuah Handphone belum mati karena jatuh dan pecah, Atau kehilangan fungsi kamera untuk dianggap tua. Cukup satu persoalan yaitu, Sistem...

Powerbank Ugreen MagFlow Pro: Powerbank dengan Liquid Cooling

Powerbank Ugreen MagFlow Pro: Powerbank dengan Liquid Cooling

by teguh
September 9, 2026

Powerbank biasanya cuma punya satu tugas menyimpan daya sebanyak mungkin dan mengeluarkannya ketika baterai smartphone mulai sekarat. Namun, Powerbank MagFlow...

WhatsApp Hentikan Dukungan Ponsel Lawas, Ini Perangkat yang Terdampak

WhatsApp Hentikan Dukungan Ponsel Lawas, Ini Perangkat yang Terdampak

by teguh
September 9, 2026

WhatsApp hentikan dukungan serta memperketat syarat perangkat yang dapat menjalankan aplikasinya. Mulai Selasa, 08/09/2026, layanan milik Meta itu hanya mendukung...

Next Post
Maarten Paes Resmi ke Ajax: Garuda ke Johan Cruyff Arena

Maarten Paes Resmi ke Ajax: Garuda ke Johan Cruyff Arena

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id